Mochtar Mas’od dan Jalan Panjang Kepemimpinan Sosial Berbasis Masjid

MADIUN – Kepemimpinan sosial tidak selalu lahir dari ruang formal atau jabatan struktural. Dalam banyak kasus, ia tumbuh dari proses panjang, kerja sunyi, dan konsistensi melayani. Itulah gambaran perjalanan Mochtar, dosen Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Madiun, yang selama satu dekade mengabdikan diri sebagai pengurus remaja masjid di Masjid Agung Sidoarjo.

Sejak 2010 hingga 2020, Mochtar menjalani peran secara berjenjang. Ia memulai sebagai anggota selama dua tahun, kemudian dipercaya menjadi sekretaris selama enam tahun, dan pada dua tahun terakhir mengemban amanah sebagai ketua. Proses berjenjang ini membentuk kepemimpinan yang bertumpu pada pengalaman lapangan, ketekunan, dan kepekaan sosial.

Di masjid, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan soal tampil, melainkan soal memastikan pelayanan berjalan dan jamaah merasa terlayani,” ujar Mochtar.

Pada fase awal, ia terlibat langsung dalam kerja-kerja dasar. Menjaga perpustakaan masjid, menata kerapian shaf shalat, mengatur sandal dan sepatu jamaah, hingga membantu kepanitiaan kegiatan sosial-keagamaan dijalani sebagai proses belajar. Aktivitas tersebut membentuk pemahaman bahwa pelayanan publik dimulai dari hal-hal kecil yang dikerjakan secara konsisten.

Ketika dipercaya menjadi sekretaris, tanggung jawabnya bertambah. Posisi ini menempatkannya sebagai penghubung antara remaja masjid, takmir, jamaah, pemerintah daerah, dan pihak lain yang terlibat dalam berbagai kegiatan. Banyak agenda sosial dan keagamaan berlangsung di masjid, menuntut koordinasi yang rapi, komunikasi yang sabar, serta administrasi yang tertib.

Sebagai sekretaris, saya belajar mendengar lebih banyak. Banyak persoalan selesai bukan dengan perintah, tetapi dengan komunikasi yang tenang,” katanya.

Interaksi lintas sektor menjadi pengalaman berharga. Masjid menjadi ruang perjumpaan sosial yang dinamis, tempat berbagai kepentingan dikelola dengan pendekatan musyawarah dan keterbukaan. Dari proses ini, Mochtar memahami bahwa kepemimpinan sosial membutuhkan kemampuan merawat kepercayaan.

Pada 2019–2020, ia dipercaya memimpin sebagai ketua dengan nomor SK Takmir Masjid Agung Sidoarjo nomor: 51/SK/Ta’mir-Mas/VII/18 tanggal 16 Juli 2028. Arah besar organisasi tidak diubah. Pemberdayaan remaja tetap menjadi fokus utama, dengan penekanan pada partisipasi, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Salah satu program yang menonjol adalah penggabungan kegiatan ngaji dengan penguatan keterampilan dasar, yang berlangsung selama tiga bulan sebelum COVID-19 dan melibatkan sekitar 130 santri.

Program tersebut dikelola dengan anggaran terbatas, sekitar lima juta rupiah, mencakup kebutuhan operasional, konektivitas pembelajaran, dan konsumsi kegiatan. “Kami ingin membuktikan bahwa program berdampak tidak selalu harus mahal. Yang penting tujuan jelas dan pengelolaan jujur,” ujar Mochtar.

Keberhasilan program itu merupakan kelanjutan dari praktik pemberdayaan yang telah berjalan bertahun-tahun. Laporan pertanggungjawaban disusun secara terbuka sebagai wujud amanah kepada jamaah dan pengelola masjid. Pendekatan ini memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik.

Dalam kepemimpinannya, Mochtar dikenal inklusif. Masjid diposisikan sebagai rumah bersama. Selama tujuan yang dibawa adalah memakmurkan masjid dan melayani umat, ruang kolaborasi selalu dibuka. Prinsip ini menjaga suasana tetap kondusif dan produktif.

Kini, pengalaman sepuluh tahun mengelola amanah sosial berbasis masjid menjadi fondasi penting dalam peran Mochtar sebagai akademisi. Nilai pelayanan, keadilan sosial, dan pemberdayaan yang ditempa di lapangan terus ia bawa ke ruang pendidikan dan pengabdian masyarakat. (*)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top