Komunikasi Menjadi Kunci Transformasi Budaya di PTMA

Perguruan tinggi tidak hanya dibangun oleh gedung megah, kurikulum hebat atau sistem administrasi yang rapi. Di balik itu semua, ada sesuatu yang lebih mendasar yakni budaya organisasi. Budaya inilah yang menentukan bagaimana nilai diterjemahkan, juga bagaimana kepemimpinan dijalankan dan bagaimana seluruh sivitas akademika bergerak menuju visi bersama. Dalam konteks Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), budaya organisasi memiliki dimensi yang lebih khas karena berlandaskan Catur Dharma Perguruan Tinggi, yakni Tridharma ditambah nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Berbeda dengan banyak perguruan tinggi lain yang lebih menekankan aspek manajerial atau orientasi korporat, PTMA memadukan misi akademik dengan misi ideologis dan kultural. Nilai AIK tidak hanya menjadi slogan normatif, tetapi diharapkan hidup dalam praktik keseharian kampus. Pertanyaannya adalah bagaimana nilai itu benar-benar diinternalisasikan? Jawabannya terletak pada komunikasi.

Terkait dengan performa komunikasi, teori dari  dari Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo (1982) dapat dijadikan dasar. Mereka  memandang budaya organisasi bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai realitas yang diciptakan melalui praktik komunikasi yang simbolik dan berulang. Budaya dibentuk melalui ritual, cerita, interaksi sosial, relasi kekuasaan, dan proses pembelajaran anggota baru. Dengan pendekatan ini, budaya organisasi PTMA dapat dibaca sebagai hasil dari performa komunikasi sehari-hari.

Kampsu PTMA bisa dibagi menjadi tiga klaster PTMA yakni unggul, menengah, dan binaan. Ketiganya menunjukkan dinamika budaya komunikasi yang berbeda. Itu semua  mencerminkan tahap perkembangan kelembagaan.

Pada klaster unggul, performa komunikasi telah terinstitusionalisasi secara kuat. Ritual seperti pengajian sebelum rapat, doa bersama, forum AIK, dan seremonial akademik bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi infrastruktur nilai. Komunikasi formal dan informal berjalan secara transparan dan partisipatif. Juga didukung teknologi, serta menumbuhkan kepercayaan antaranggota organisasi. Cerita tentang sejarah perjuangan institusi, capaian akademik, dan visi masa depan menjadi energi kolektif yang memotivasi sivitas akademika.

Hubungan sosial di klaster unggul ditandai interaksi egaliter, dialogis, dan kolaboratif. Pengambilan keputusan dilakukan secara deliberatif (pertimbangan rasional, diskusi, musyawarah) dengan akuntabilitas yang jelas. Proses enkulturasi (melalui orientasi, kaderisasi, dan mentoring) juga berjalan terstruktur. Sehingga nilai AIK menjadi bagian dari kesadaran kolektif. Dalam klaster ini, komunikasi tidak lagi sekadar alat koordinasi, melainkan fondasi legitimasi dan keberlanjutan institusi.

Berbeda dengan itu, klaster menengah menunjukkan budaya komunikasi yang bersifat transisional dan adaptif. Ritual organisasi tetap berjalan, tetapi lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan. Rapat tidak selalu terjadwal ketat, melainkan disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan. Misalnya saat menghadapi akreditasi atau agenda strategis lainnya. Fleksibilitas menjadi kekuatan utama.

Semangat di klaster menengah tumbuh melalui narasi tokoh pendiri dan pimpinan yang menekankan sejarah perjuangan dan semangat kolektif. Namun, energi ini masih sangat bergantung pada figur tertentu dan belum sepenuhnya terlembagakan. Hubungan sosial dibangun melalui kedekatan personal dan jejaring informal. Sementara pengambilan keputusan sering kali bertumpu pada legitimasi relasional. Proses enkulturasi berlangsung  bertahap dan lebih banyak melalui praktik langsung daripada sistem pembinaan yang terstandar.

Klaster menengah memperlihatkan fase evolusi kelembagaan. Nilai AIK hidup, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem yang kokoh. Fleksibilitas memang adaptif, namun tanpa institusionalisasi yang kuat, terdapat potensi kerentanan dalam jangka panjang.

Sementara itu, klaster binaan menunjukkan budaya organisasi pada tahap awal pembentukan. Komunikasi bersifat fungsional dan reaktif. Komunikasinya diarahkan untuk menjaga keberlangsungan operasional di tengah keterbatasan sumber daya. Ritual organisasi ada, tetapi belum konsisten dan lebih bersifat administratif.

Semangat muncul sebagai respons terhadap tuntutan eksternal, seperti akreditasi atau pendampingan, bukan sebagai kesadaran ideologis internal yang kuat. Kepemimpinan cenderung terpusat. Ruang partisipasi masih terbatas. Enkulturasi berjalan melalui orientasi dan pembiasaan nilai, tetapi belum didukung sistem evaluasi dan pembinaan yang terstruktur.

Klaster binaan menggambarkan fase belajar dan ketergantungan. Budaya organisasi belum sepenuhnya mengakar sebagai asumsi bersama, melainkan masih dalam proses imitasi dan penyesuaian. Meski demikian, fase ini merupakan bagian wajar dari proses pembinaan dan pertumbuhan kelembagaan.

Secara keseluruhan, beragamnya kampus PTMA bukan sekadar perbedaan administratif atau capaian kinerja, melainkan cerminan tahap perkembangan budaya organisasi. Komunikasi menjadi jantung proses tersebut. Melalui ritual, cerita, interaksi sosial, dinamika kekuasaan, dan proses enkulturasi, nilai AIK ingin dihidupkan.

Performa komunikasi dalam konteks budaya organisasi berbasis nilai keagamaan. Di PTMA, komunikasi tidak hanya membangun makna organisasi, tetapi juga mentransformasikan nilai ideologis. Transformasi itu menjadi praktik konkret dalam kepemimpinan, etos kerja, dan orientasi pengabdian.

Dengan demikian, kekuatan PTMA sebagai amal usaha persyarikatan tidak hanya terletak pada struktur formal atau dokumen kebijakan, melainkan pada kemampuan menjadikan komunikasi sehari-hari sebagai media. Media apa? Untuk pelembagaan nilai, identitas, dan legitimasi. Mengaca pada kampus PTMA, budaya organisasi yang kuat lahir dari komunikasi yang konsisten  dan selaras dengan misi ideologis institusi masing-masing.

Intinya, komunikasi adalah fondasi utama pembentukan identitas, legitimasi kepemimpinan, dan keberlanjutan institusi di PTMA. Perbedaan antar klaster di PTMA merefleksikan tahapan perkembangan budaya, bukan sekadar variasi administratif. Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak cukup dilembagakan melalui aturan formal, tetapi harus dihidupkan melalui praktik komunikasi yang simbolik, berulang, dan bermakna dalam keseharian organisasi. Di sinilah komunikasi menjadi kekuatan strategis yang menentukan arah masa depan PTMA di tengah dinamika pendidikan tinggi yang terus berubah.

Dr. Eli Purwati, M.Ikom, dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) dan pernah menulis disertasi “Performa Komunikasi dalam Budaya Organisasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) Klaster Unggul, Menengah, dan Binaan.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top