Di tengah aktivitas pemerintahan yang berjalan setiap hari, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah Kota Madiun. Gedung yang kini digunakan sebagai kantor Bakorwil I ini dulunya merupakan Residentiehuis Madioen atau rumah dinas Residen pada masa Hindia Belanda.
Bangunan tersebut diperkirakan berdiri sekitar tahun 1831 beriringan dengan pembentukan Karesidenan Madiun pada rentang 1830 – 1832. Pada masa itu, gedung ini menjadi kediaman resmi sekaligus pusat pemerintahan Residen Belanda yang memimpin wilayah Keresidenan Madiun.
Dari tempat inilah berbagai kebijakan administratif wilayah Madiun dijalankan. Residen sendiri merupakan pejabat tinggi kolonial yang bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan di tingkat karesidenan.

Papan informasi daftar nama Residence dan Kepala Badan Koordinasi Wilayah I Madiun dari masa kolonial hingga setelah kemerdekaan
Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan di dalam area gedung, salah satunya melalui papan informasi yang memuat daftar pejabat yang pernah memimpin wilayah Madiun sejak masa kolonial hingga setelah Indonesia merdeka. Dokumentasi tersebut menjadi penanda perjalanan panjang sistem pemerintahan di daerah ini.
Dari sisi arsitektur, bangunan ini mengusung gaya Indische Empire Style yang berkembang pada masa Hindia Belanda. Gaya tersebut umumnya ditandai dengan bentuk bangunan yang simetris, keberadaan pilar-pilar besar di bagian depan serta langit-langit yang tinggi. Ciri tersebut masih dapat ditemukan pada bagian teras dan ruang utama gedung hingga saat ini.
Bagian Dalam Gedung Bakorwil I Madiun dengan langit-langit tinggi dan lampu gantung klasik yang memperkuat nuansa bangunan kolonial. Bagian teras depan masih menampilkan pilar-pilar kokoh dengan detail ornamen besi dekoratif. Memasuki ruang utama, suasana klasik terasa melalui plafon yang tinggi dan lampu gantung bergaya lama. Tata ruang yang luas menjadi salah satu karakter bangunan kolonial yang dirancang untuk mendukung sirkulasi udara.
Seiring perubahan sistem pemerintahan setelah kemerdekaan, fungsi gedung ini pun turut berubah. Bangunan yang dahulu menjadi pusat administrasi kolonial kini difungsikan sebagai kantor pemerintahan daerah di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain tetap digunakan, gedung ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Status tersebut menegaskan pentingnya pelestarian nilai sejarah dan arsitektur yang melekat pada bangunan ini.
Keberadaan Gedung Bakorwil I Madiun bukan hanya menjadi simbol perjalanan pemerintahan di wilayah ini tetapi juga pengingat bahwa perkembangan kota hari ini tidak terlepas dari jejak masa lalu. Di tengah modernisasi yang terus berlangsung, bangunan tersebut tetap berdiri sebagai saksi perubahan zaman.
Anggita, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun





