MADIUN – Sego gaplek adalah kuliner tradisional yang tumbuh dari lanskap sosial dan ekologis Madiun serta wilayah sekitarnya di Jawa Timur.Kata “gaplek” merujuk pada singkong yang dikupas, diiris, lalu dijemur hingga kering agar tahan disimpan berbulan-bulan.
Praktik ini telah dikenal sejak awal abad ke-20, ketika masyarakat pedesaan membutuhkan cara mengawetkan hasil panen singkong. Pada masa kolonial hingga pendudukan Jepang (1942–1945), saat distribusi beras terganggu dan terjadi krisis pangan, gaplek menjadi alternatif utama pengganti nasi.
Dalam konteks sejarah itu, sego gaplek lahir bukan sebagai pilihan kuliner, tetapi sebagai respons terhadap keterbatasan bahan pokok.Secara sosial, konsumsi gaplek berkembang kuat di daerah yang kondisi tanahnya kurang optimal untuk padi.
Singkong lebih adaptif terhadap lahan kering dan perawatan minimal, sehingga menjadi tanaman andalan masyarakat tani. Gaplek lalu diolah menjadi “sego” (nasi) dengan cara direndam terlebih dahulu agar lunak, kemudian dikukus hingga mengembang.
Hasilnya menyerupai nasi, tetapi dengan tekstur lebih kasar dan rasa sedikit manis alami. Di sini terlihat logika pangan lokal: memaksimalkan sumber daya yang tersedia, bukan bergantung pada komoditas tunggal seperti beras.
Dalam penyajian tradisionalnya, sego gaplek biasanya disantap bersama urap sayur, sambal terasi, ikan asin, tahu, tempe, atau sayur sederhana berkuah. Kombinasi ini mencerminkan pola makan masyarakat agraris: karbohidrat sebagai sumber energi utama, dipadukan protein nabati dan lauk asin sebagai penambah rasa.
Bagi generasi lama, sego gaplek bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari ritme hidup desa—disantap sebelum berangkat ke sawah atau ladang. Ia melekat pada memori kolektif tentang kerja keras, kebersahajaan, dan solidaritas keluarga.
Namun memasuki era Orde Baru, terutama setelah program swasembada beras pada 1980-an, terjadi perubahan besar dalam preferensi pangan. Beras diposisikan sebagai standar kemakmuran, sementara pangan non-beras termasuk gaplek perlahan distigma sebagai makanan “zaman susah”.
Modernisasi distribusi pangan dan meningkatnya akses terhadap beras membuat konsumsi sego gaplek menurun drastis, terutama di wilayah perkotaan seperti Kota Madiun.
Kuliner ini bertahan lebih lama di desa-desa atau dalam konteks hajatan dan tradisi tertentu.Di era sekarang, eksistensi sego gaplek memang tidak sekuat dulu. Ia lebih sering hadir sebagai kuliner nostalgia atau bagian dari festival makanan tradisional.
Generasi muda banyak yang tidak lagi akrab dengan proses pembuatannya. Padahal, dari perspektif gizi dan keberlanjutan, singkong memiliki keunggulan: bebas gluten, relatif mudah dibudidayakan, dan tahan terhadap perubahan iklim dibanding padi.Artinya, sego gaplek sebenarnya memiliki relevansi baru dalam wacana diversifikasi pangan nasional.
Dengan demikian, sejarah sego gaplek di Madiun memperlihatkan dinamika yang menarik: dari simbol ketahanan pangan, berubah menjadi simbol keterbelakangan, lalu berpotensi direinterpretasi kembali sebagai pangan lokal bernilai strategis.
Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan punah, tetapi apakah masyarakat bersedia melihatnya bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai bagian dari masa depan pangan yang lebih beragam dan berkelanjutan.(*)
Penulis: Jerry, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD)





