Pagi: Menanam Benih Karakter
Saat embun masih membasahi dedaunan di Sogo, Teguh sudah rapi dengan kemejanya. Langkah kakinya tertuju pada Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sogo. Di sana, ia bukan sekadar pengajar; ia adalah sosok panutan bagi anak-anak desa.
Dengan gaji guru madrasah yang mungkin tak seberapa secara nominal, Teguh tetap mengajar dengan binar mata yang penuh semangat. Ia percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya “tangga” bagi anak-anak desa untuk melihat dunia yang lebih luas. Baginya, setiap huruf yang dieja muridnya adalah tabungan pahala yang tak akan pernah habis.
☀️ Siang: Menjemput Rezeki di Aspal Panas
Begitu bel pulang sekolah berbunyi, transformasi luar biasa terjadi. Seragam gurunya berganti. Teguh beralih peran menjadi seorang pengusaha kecil—seorang pedagang keliling.
Tanpa ada rasa gengsi, ia menyusuri jalanan Balerejo hingga ke pelosok desa tetangga. “Dodolan keliling” adalah caranya menjaga dapur tetap mengepul sekaligus membuktikan bahwa kemuliaan seorang guru tidak akan luntur karena keringat hasil berdagang. Di atas motornya, ia membawa barang dagangan sekaligus membawa martabat; bahwa mencari nafkah yang halal adalah bentuk ibadah yang nyata.
🌙 Malam: Menjadi Pelita di Kegelapan
Ketika senja meredup dan lampu-lampu desa mulai menyala, kesibukan Teguh belum usai. Saat tubuhnya mungkin sudah memohon untuk istirahat, ia kembali mengenakan sarung dan kokonya.
Ia bertransformasi menjadi ustadz ngaji. Di serambi masjid atau langgar, ia duduk dikelilingi anak-anak dan warga yang ingin memperdalam Al-Qur’an. Di saat itulah, lelahnya seolah luruh. Suara lantunan ayat suci menjadi obat penat setelah seharian berjibaku dengan materi pelajaran dan debu jalanan.
💡 Intisari Perjuangan
Kisah Teguh Setiadi mengajarkan warga Sogo dan kita semua tentang tiga pilar hidup:
- Dedikasi: Memberi ilmu tanpa pamrih di pagi hari.
- Kemandirian: Berdikari secara ekonomi tanpa mengandalkan belas kasihan.
- Spiritualitas: Menjaga hubungan dengan Sang Pencipta di penghujung hari.





