Resensi Buku: Mengislamkan Jawa – Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang

Penulis: M.C. Ricklefs (Merle Calvin Ricklefs)
Penerjemah: F.X. Dono Sunardi & Satrio Wahono
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta (edisi Indonesia, 2013); edisi terbaru Baca (ISBN 978-623-8371-03-7)
Tahun terbit asli (Inggris): 2012 (judul: Islamisation and Its Opponents in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History, c. 1930 to the Present)

Ada satu buku yang mampu mengubah perspektif kita tentang Islam dan Jawa sekaligus di tengah hiruk-pikuk perubahan Indonesia kontemporer. Sejarawan Australia M.C. Ricklefs telah menyelami jiwa Tanah Jawa selama bertahun-tahun. Karyanya berjudul Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 hingga Sekarang. Meskipun dua buku sebelumnya belum diterjemahkan, edisi Indonesia, yang diterbitkan pertama kali oleh Serambi Ilmu Semesta pada 2013, dan dicetak ulang oleh penerbit Baca, merupakan penutup yang luar biasa dari trilogi besarnya tentang Islamisasi di Jawa.

Bab pembuka, memberikan penjelasan yang sangat baik tentang topik, sehingga kita dapat langsung memasuki inti cerita tanpa kehilangan informasi.Bayangkan sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak tahun 1930, ketika Jawa masih menjadi bagian dari kolonialisme Belanda. Kita akan melalui pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, masa Demokrasi Liberal Soekarno yang tidak stabil, puncak kekuasaan Orde Baru yang melarang Islam politik secara ketat, dan gelombang Reformasi yang memungkinkan berbagai ekspresi keagamaan. Ricklefs menceritakan jalan yang berliku-liku itu dengan cara yang mirip dengan sungai Bengawan Solo: kadang-kadang santai, kadang-kadang cepat, tetapi selalu mengejutkan.

Ia tidak hanya membahas sejarah agama atau politik Jawa, tetapi juga menyelidiki lapisan paling dalam dari masyarakat Jawa: bagaimana keyakinan Islam memasuki kehidupan sehari-hari, dari desa-desa di pesisir utara hingga keraton yang dulunya penuh dengan mistik Jawa kuno.Tesis utama Ricklefs sangat berani dan meyakinkan: Islamisasi Jawa tidak berhenti di masa Wali Songo atau abad ke-19, seperti yang biasa kita dengar. Justru sejak tahun 1930 hingga saat ini, Islam terus mendalami akar-akar masyarakat Jawa. Anggapan lama bahwa kebanyakan orang Jawa hanyalah “abangan” yang Islam hanya di permukaan atau bahwa kejawen masih mendominasi telah berubah. Semakin banyak orang Jawa yang menjadi lebih hijau dan lebih “ijo royo-royo”.

Perubahan ini terjadi secara bertahap melalui pendidikan pesantren, gerakan dakwah, politik, budaya populer, dan bagaimana orang Jawa menjalani kehidupan rumah tangga, pernikahan, dan bahkan hiburan mereka. Ricklefs membuktikannya dengan jumlah data yang luar biasa besar. Ini termasuk dokumen partai, analisis koran, fatwa ulama, wawancara lapangan selama bertahun-tahun, hasil sensus dan survei, dan bahkan cerita tentang bagaimana roh Nyi Roro Kidul “diislamkan” di tahun 1980-an.Kami melihat pertarungan sengit antara kekuatan Islamisasi dan mereka yang menentangnya sepanjang buku. PKI ingin menghapus agama, Orde Baru takut pada Islam politik sehingga membatasi Muhammadiyah dan NU, kelompok kepercayaan menjaga adat Jawa kuno, dan intelektual sekuler takut Jawa kehilangan identitasnya.

Namun, Ricklefs dengan jelas menunjukkan bahwa Islam terus maju secara bertahap meskipun ada penentangan yang kuat. Tidak melalui kekerasan atau revolusi brutal, tetapi melalui pengembangan keyakinan yang tenang, anak-anak yang dibesarkan di pesantren, ibu-ibu yang mulai memakai jilbab, dan pemimpin desa yang mengganti selamatan tradisional dengan doa Islam yang lebih murni. Di era Reformasi, gelombang itu semakin kuat. Partai Islam bangkit, gerakan Salafi dan Tarbiyah menyebar, dan bahkan nada religius mulai muncul di budaya populer.Sikap netral dan ilmiah Ricklef membuat buku ini unik.

Ia dengan tegas mengkritik kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal, tetapi dia juga tidak segan mengkritik cara Soeharto menekan orang Islam. Tanpa terjebak dalam romantisme yang berlebihan, mengakui peran penting NU dan Muhammadiyah. Narasinya penuh dengan fakta, tetapi tetap menyenangkan untuk dibaca—seperti buku sejarah yang tebal tetapi tidak membosankan.

Buku ini tidak sempurna, tentu saja. Pembaca pemula mungkin merasa ketebalannya berat, terutama di bagian tengah, yang membahas detail politik Orde Baru. Jika kita ingin melihat perkembangan hingga era Jokowi atau setelah 2019 atau setelahnya, beberapa data sudah agak usang karena berhenti di sekitar tahun 2010. Sebagian antropolog menyatakan bahwa kategori “santri-abangan-priyayi” yang digunakan Ricklefs sudah ketinggalan zaman. Meskipun demikian, buku ini tetap luar biasa sebagai karya agung.

Pada akhirnya, buku “Mengislamkan Jawa” adalah lebih dari sebuah kisah sejarah. Ia adalah cermin yang memaksa kita untuk merenungkan identitas kita sebagai orang Jawa dan Muslim Indonesia. Ricklefs menunjukkan bahwa Islamisasi adalah kisah kemenangan yang lambat tetapi pasti, disebabkan oleh keyakinan yang kuat di hati jutaan orang, bukan karena paksaan. Buku ini harus dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami mengapa politik Indonesia selalu berfokus pada Islam dan nasionalisme, mengapa NU dan Muhammadiyah begitu kuat, atau mengapa masjid-masjid semakin ramai dan jilbab semakin umum di Jawa.

Dr. Fajar Junaedi, tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top