Ramadhan dan Fenomena Bukber, Tradisi Silaturahmi Atau Budaya Konsumtif Baru

Oleh: Endy Setyawan | Madiun, 19 Ramadan 1446 H / 8 Maret 2026

Suatu malam sepulang dari tarawih, saya membuka aplikasi WhatsApp. Notifikasi mengalir deras. Undangan buka puasa bersama dari komunitas yang saya ikuti, disusul grup alumni sekolah, teman kuliah, hingga rekan kerja. Saya tersenyum kecil, sedikit lelah, sedikit geli. Ramadhan baru berjalan beberapa hari, namun kalender saya sudah sesak sebelum bulan sabit itu benar-benar tinggi di langit.Dalam hati saya bertanya: sejak kapan Ramadhan berubah menjadi musim penjadwalan sosial yang begitu padat dan berderak?

Buka puasa bersama, atau yang akrab disebut bukber, sejatinya bukan tradisi baru. Sejak lama masyarakat Indonesia menjadikan Ramadhan sebagai momentum mempererat silaturahmi. Dan di meja makan itulah jarak-jarak yang selama setahun menganga perlahan-lahan merapatkan diri.Namun dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini mengalami pergeseran yang terasa nyata. Bukber bukan lagi sekadar makan bersama setelah seharian berpuasa. Ia telah menjelma menjadi agenda sosial yang hampir terasa wajib: bukber keluarga besar, bukber kantor, bukber alumni, bukber komunitas, bahkan bukber yang dipesan jauh-jauh hari di restoran dengan daftar tunggu panjang, seolah berbuka puasa adalah perlombaan mendapatkan meja terbaik.

Di satu sisi, saya memahami betul makna di balik tradisi ini. Dalam ajaran Islam, silaturahmi bukan sekadar basa-basi sosial, ia adalah tali yang menghubungkan langit dan bumi, antara hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Nabi Muhammad SAW bersabda:“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa hubungan antarmanusia bukan sekadar urusan duniawi, melainkan jalan ibadah yang memiliki bobot spiritual tersendiri. Dalam kerangka itulah, bukber menjadi ruang perjumpaan yang bermakna: mempertemukan kembali orang-orang yang lama tak bersua, menyambung yang sempat terputus, dan mengingatkan bahwa kita semua, pada akhirnya, adalah bagian dari satu ikatan yang lebih besar.

Namun di sisi lain, saya juga merasakan kegelisahan kecil yang tak mudah diabaikan. Seperti goresan halus di permukaan cermin, tak cukup besar untuk memecahkan, tetapi cukup mengganggu untuk terus terlihat. Bukber kerap berubah menjadi agenda yang melelahkan secara sosial dan emosional. Namun di sisi lain, saya juga merasakan kegelisahan kecil yang tak mudah diabaikan.Seperti goresan halus di permukaan cermin, tak cukup besar untuk memecahkan, tetapi cukup mengganggu untuk terus terlihat.Bukber kerap berubah menjadi agenda yang melelahkan secara sosial dan emosional. Ada semacam tekanan tak terlihat untuk hadir, memesan tempat yang “layak”, atau memilih lokasi yang cukup menarik untuk diabadikan di media sosial. Dalam banyak kasus, bukber terasa lebih mirip pertemuan gaya hidup daripada pertemuan hati, ramai di permukaan, tetapi sunyi di dasarnya.

Fenomena ini dapat ditelaah melalui kacamata ilmu komunikasi. Pertemuan tatap muka adalah sarana utama untuk membangun dan mempertahankan jaringan sosial, para akademisi menyebutnya social bonding, ikatan yang diperkuat melalui kehadiran fisik dan percakapan yang mengalir. Bukber menjadi medium komunikasi interpersonal yang efektif: orang saling bertukar cerita, memperbarui hubungan, dan merawat kedekatan emosional yang sempat merenggang.

Namun sosiolog Erving Goffman pernah mengingatkan kita bahwa kehidupan sosial juga berfungsi layaknya sebuah “panggung”, tempat manusia secara sadar menampilkan citra diri kepada penonton yang selalu ada. Di era media sosial, panggung itu semakin terang benderang. Bukber yang diunggah ke Instagram atau status WhatsApp bukan lagi hanya tentang berbuka bersama; ia menjadi pernyataan: tentang ke mana kita pergi, dengan siapa kita duduk, dan betapa bermakna, atau betapa berkelas, kehidupan sosial kita.Silaturahmi tetap ada, tetapi kerap dibingkai oleh kebutuhan untuk tampil.

Data turut mempertegas kecenderungan ini dengan angka yang tak bisa diabaikan begitu saja. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rumah tangga meningkat 20–30 persen selama Ramadhan, dan harga bahan pokok naik hingga 10-15 persen. Survei Jakpat Ramadhan juga mengungkapkan bahwa 72 persen orang Indonesia mengalami peningkatan pengeluaran hingga dua kali lipat selama bulan puasa, dengan anggaran bukber menjadi salah satu pos pengeluaran utama, terutama di kalangan generasi muda. Restoran dan kafe mencatat Ramadhan sebagai salah satu puncak musim reservasi sepanjang tahun. Ironis: bulan yang mengajarkan pengendalian diri justru menjadi bulan dengan pengeluaran paling konsumtif.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Menaruh ponsel. Menarik napas. Dan merenung. Ramadhan sejatinya adalah bulan pengendalian diri, bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan seluruh dorongan yang menarik kita ke arah yang berlebihan. Allah SWT berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan adalah membangun ketakwaan, sebuah kesadaran yang tumbuh bukan dari kemewahan meja makan, melainkan dari keheningan dan kesederhanaan yang disengaja. Ketakwaan adalah buah dari pengendalian, bukan hasil dari pemesanan di aplikasi reservasi. Maka jika bukber justru mendorong kita pada perilaku berlebihan dan konsumtif, ada sesuatu yang perlu kita tanya ulang dengan jujur.

Saya tidak sedang menolak bukber. Jauh dari itu. Saya percaya bahwa tradisi ini menyimpan nilai yang indah dan otentik, seperti cahaya pelita di sudut ruangan yang remang.Ada kebahagiaan yang sangat sederhana ketika kita duduk berdampingan, menunggu azan magrib yang sebentar lagi berkumandang, lalu memulai dengan segelas air dan sebutir kurma.Dalam momen itu, percakapan mengalir tanpa beban, tawa kecil melayang di antara kita, dan jarak yang selama berbulan-bulan menganga terasa hilang begitu saja. Rasulullah SAW bahkan menjanjikan pahala khusus bagi mereka yang memberi makan orang yang sedang berpuasa:“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.”(HR. Tirmidzi).

Hadis ini mengingatkan kita bahwa berbagi makanan di bulan Ramadhan bukan sekadar kebiasaan sosial, ia adalah ibadah yang memancarkan cahayanya sendiri, diam-diam tetapi nyata.

Persoalannya, dengan demikian, bukan pada bukber itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita memaknainya. Jika bukber hanya menjadi ajang konsumsi di tempat mahal dan panggung pamer kebersamaan yang diunggah sebelum makanan sempat dingin, kita mungkin sedang kehilangan ruhnya, tenggelam dalam keramaian yang sesungguhnya sepi.Sebaliknya, jika bukber menjadi ruang yang sungguh-sungguh digunakan untuk mempererat hati, memperbaiki hubungan yang renggang, atau mendekatkan diri kepada mereka yang selama ini jauh, maka ia tetap menjadi tradisi yang bermakna dan layak dirawat dengan sepenuh hati.

Saya membayangkan wajah bukber yang lebih sederhana, tetapi lebih hangat, seperti api unggun kecil yang justru lebih menghangatkan. Ada tiga bentuk bukber yang kiranya perlu lebih kita hidupkan. Pertama, bukber di masjid atau musala seusai tarawih, yang menyatukan jemaah dalam suasana religius tanpa beban kemewahan. Kedua, bukber bersama tetangga di halaman rumah, yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dan mendekatkan jarak yang dipisahkan oleh pagar dan kesibukan.Ketiga, dan mungkin yang paling bermakna, bukber yang disertai kegiatan berbagi untuk kaum dhuafa: membeli makanan lebih, lalu mendistribusikannya kepada mereka yang berpuasa tanpa kepastian berbuka.Bentuk-bentuk bukber semacam ini mungkin tak sepopuler restoran dengan lampu temaram dan menu panjang yang membutuhkan waktu lama untuk dibaca, tetapi justru di sanalah kehangatan Ramadhan yang sesungguhnya berdetak.

Pada akhirnya, Ramadhan selalu mengajarkan satu hal yang sama dari tahun ke tahun: kesederhanaan yang penuh makna. Bukber bisa menjadi jembatan silaturahmi yang indah, tetapi juga bisa berubah menjadi budaya konsumtif jika kita tidak cukup jaga diri dan jaga hati. Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing, tersimpan jauh di dalam, di tempat yang lebih sunyi dari sekadar notifikasi grup WhatsApp.

Dan setiap kali saya kembali menatap undangan bukber di layar ponsel, saya mencoba bertanya pada diri sendiri: apakah pertemuan ini akan mendekatkan hati, atau sekadar menambah satu lagi nama di daftar agenda Ramadhan yang tak pernah benar-benar penuh makna?

Sebab Ramadhan, seperti senja yang perlahan turun menjelang magrib, merah di ujung langit, sunyi di dada, selalu mengingatkan kita bahwa yang paling berharga bukanlah kemeriahan meja makan, melainkan kehangatan hati yang saling terhubung, diam-diam, tanpa perlu diunggah ke mana-mana.

Referensi:

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Maret 2024. Jakarta: BPS-Statistics Indonesia. Diakses dari https://www.bps.go.idGoffman, Erving. (1959).

The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday Anchor Books.Jakpat. (2024). Survei Ramadhan: Perilaku Konsumsi dan Pengeluaran Masyarakat Indonesia Selama Bulan Puasa. Jakarta: Jakpat Research.Diakses melalui Unilever Food Solutions Indonesia, https://www.unileverfoodsolutions.co.id

Katadata Insight Center (KIC). (2023).Survei Pengeluaran saat Ramadhan. Jakarta: Databoks Katadata. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/publikasi/2023/04/18/survei-pengeluaran-saat-ramadhan

The Conversation Indonesia. (2025, Februari). Paradoks Perilaku Konsumsi Ramadan: Impulsif Belanja Setelah Menahan Lapar Seharian. Diakses dari https://theconversation.com/paradoks-perilaku-konsumsi-ramadan.

Penulis: Endy Setiawan, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top