Membaca Cerita Anak Itu Politis

Oleh: Hayyik Ali M.M (Jam’iyah Mucoffee)

“Alangkah menyedihkan suatu bangsa yang pikiran sebagian besar warganya tak pernah lebih luas dari lingkaran piring nasi.”

Kutipan reflektif ini pernah saya baca beberapa tahun lalu di sebuah poster, tertempel di dinding Komunitas Kalimetro, Malang. Dan belakangan, saya juga menemukannya di unggahan media sosial Social Movement Institute. Saya tak menemukan siapa pengungkapnya. Namun, kalimat tersebut cukup menempel dalam ingatan dan menjadi semacam alarm— serupa nasihat-nasihat dalam kitab suci.

Dan hari ini, saya pikir kutipan tersebut kian menemukan momentumnya. Ketika masa depan generasi bangsa, seolah bakal gemilang dengan satu mantra jitu, Makan Bergizi Gratis. Energi difokuskan ke sana. Ia menempati posisi teratas dalam alokasi anggaran negara, dan semua lini seolah disuruh “berpuasa” demi kesuksesan program tersebut. Percakapan dunia pendidikan pun, disesaki olehnya.

“Nak, apa embegemu hari ini? Enak nggak?” tanya Orangtua menyambut kepulangan anaknya dari sekolah. 

Obrolan anak dan orang tua kemudian mengalir soal embege beserta tetekbengeknya. Orang tua yang bermain medsos, lantas mengunggah jepretan embege anaknya. Lalu, fafifu fufufafa— lini masa media sosial kita penuh dengan foto-foto susu, kacang polong, roti berjamur, dsb. Dan ragam komentar atasnya.

Saya sangat bahagia orang tua peduli pada asupan nutrisi anaknya. Bagaimanapun, anak-anak harus tumbuh sehat dan tak mengidap kekurangan makan. Saya juga mengapresiasi negara. Namun, sejahat-jahatnya program adalah menjadikan masa depan anak-anak sebagai sekadar proyek—berhitung keuntungan politis dan ekonomis. Itu jahat. Jahat sekali. Dan semoga saja negara kita tak seperti itu.

Sebetulnya, bisa saja saya menulis tentang MBG ini di lain hari, di tulisan yang lain. Tapi, saya pikir, saya perlu mengingatkannya sebentar, sebelum saya mengomentari buku tipis berjudul “Melampaui Sastra Anak” karya Ari Ambarwati. Karena, mungkin saya silap— saya belum mendapati program pemerintah soal literasi di dunia pendidikan, sekalap mereka mengurusi MBG. Dan pernahkah orang tua mempertanyakan mutu bacaan anak di sekolah? Atau ramai-ramai wali murid mengecam institusi pendidikan yang ternyata selama ini gagal membuat siswanya betah melahap buku? Nehi.

Betul bahwa nutrisi untuk perkembangan tubuh anak itu penting. Namun, yang tak kalah penting adalah asupan sehat bagi jiwa dan mental. Jiwa bisa kekurangan nutrisi, dan berkembang liar menelan dan merusak apa saja. Mental juga bisa tumbuh kerdil— tak mampu menggapai nilai-nilai kemanusiaan. 

Anak-anak butuh asupan yang menumbuhkan kepekaan rasa, meliarkan imajinasi, mengasah kreativitas, dan membangkitkan kesadaran. Dan salah satu menu untuk meraihnya adalah membaca sastra. Tentu sastra yang bermutu. 

Sama halnya dengan makanan, karya sastra ada yang buruk kualitasnya. Ada yang semenjana. Pun, ada yang beracun— mengandung cacat penalaran, bias ideologis, reproduksi kebencian rasial dan gender, dan lain sebagainya. Karya sastra, termasuk sastra anak, tak pernah netral. 

Setuju sekali dengan perspektif Ari Ambarwati, bahwa sastra anak harus dilampaui. Bukan sekadar diproduksi, didistribusi, dan dibaca begitu saja. Sehingga, menurut buku ini, membaca sastra anak pada akhirnya merupakan tindakan politis. Selama ada yang memerintah dan diperintah, ada yang menguasai dan dikuasai, ada yang memimpin dan dipimpin, maka aktivitas yang kelihatannya biasa sekalipun—membaca sastra anak— harus ditempatkan sebagai sesuatu yang politis. Sastra anak turut berperan dalam memproduksi makna, identitas, dan relasi kuasa.

Ari memulai dengan menempatkan sastra, atau bacaan anak pada umumnya, sebagai sesuatu yang seharusnya hidup di dalam rumah, di tengah-tengah keluarga, atau di sela-sela percakapan makan malam. Cerita-cerita dari rumah akan menghangatkan kehidupan. Rumah atau keluarga, memang seharusnya menjadi pusat utama pendidikan. Kita tahu, Ki Hadjar Dewantara mengklasifikasi pusat pendidikan menjadi tiga, konsep Tri Pusat. Yaitu: keluarga, pawiyatan/perguruan/sekolah/kampus, dan pergerakan/organisasi/masyarakat.

Lalu, apa lagi yang perlu dilampaui?

Etalase buku anak juga harus diisi dengan karya-karya terjemahan. Dalam sekujur bukunya, Ari menyodorkan karya-karya terjemahan berkualitas, living books: buku-buku yang selalu hidup dan menghidupi imajinasi. Misalnya, karya-karya Toni Morrison, Hans Anderson, Roald Dahl, J.M. Barrie, dsb. Membacakan anak karya terjemahan, seperti halnya membawa mereka berkelana ke mancanegara. Dunia ini penuh warna, berbangsa-bangsa, karenanya anak dibiasaan mengenal liyan.

Secara tak langsung Ari juga mengajak kita, orang dewasa, turut mengonsumsi bacaan anak. Ada kenikmatan yang unik, jika hari ini kita kembali menekuri cerita-cerita anak, mungkin beberapa telah kita hatamkan semasa kecil. Selain itu, ada pula karya-karya yang memang melintasi batas usia. Ia dapat dibaca oleh segala umur. Kisah petualangan penyihir imut Harry Potter, salah satu contohnya.  Buku tipis “Pangeran Cilik” karya Antoine de Saint-Exupéry, secara tak langsung dapat dibaca sebagai pelajaran kehidupan oleh segala usia.

Kita menginginkan ekosistem sastra anak atau bacaan anak yang sehat, menggairahkan, dan kritis. Itu semua tak akan tercapai tanpa campur tangan kritikus sastra anak. Peran mereka cukup sentral. Akan ada daftar karya-karya bermutu layak konsumsi bagi anak, berdasar analisis mereka. Akan terbaca bias politik dan ideologis dalam sastra anak, berdasar telaah mereka. Dan pada akhirnya, kritikus sastra anak turut mengerek sastra anak ke level yang lebih tinggi: baik kuantitas maupun kualitas.

Sayangnya, kondisi kritikus sastra anak sama menyedihkannya dengan kondisi bacaan anak— sama-sama belum terbangun secara memadai. Jumlahnya sangat terbatas. Mencari hasil kritik sastra anak nyaris seperti mencari kunang-kunang, tak mudah ditemukan. Dampak paripurnanya, kita mengalami buta peta sastra anak. Sebagai orang tua, misalnya, kita lalu kebingungan saat mencarikan anak bacaan bermutu secara penggarapan maupun kandungannya.

Kita sering mengeluh, bahkan kesal dengan generasi di bawah kita. Kita memandang generasi yang berumur jauh di bawah kita dengan tatapan curiga dan negatif.  Generasi tak tahu diri. Generasi aneh dan paradoks. Generasi lemah. Dan bla bla bla.

Mari bercermin. Jangan-jangan, generasi sebelumnya lah yang gagal. Gagal melakukan transformasi antar generasi. Orang-orang tua mewarisi perang. Orang-orang tua mewarisi kerusakan sosial, politik, budaya, dan ekologis. Dan orang-orang tua— hallo coba dengarkan!— mungkin telah mewarisi ekosistem bacaan yang buruk bagi anak-anak.

Wallahu a’lamu bisshowaab.

*Disampaikan di edisi ke-5 dalam rangkaian program “Tadarus Buku Ramadan 2026 M/ 1447 H” di Mucoffee, Madiun.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top