Influencer Menjadi Motor Promosi Wisata di Era Society 5.0

revinda

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara industri pariwisata mempromosikan layanan mereka. Jika sebelumnya promosi lebih banyak mengandalkan iklan konvensional dan rekomendasi dari mulut ke mulut, kini media sosial menjadi ruang utama bagi calon wisatawan untuk mencari inspirasi perjalanan.

Pergeseran menuju masyarakat berbasis teknologi yang berpusat pada manusia atau Society 5.0 juga menuntut strategi komunikasi yang bisa  membangun hubungan emosional dengan audiens. Dalam konteks ini, influencer menjadi salah satu aktor penting yang mampu menjembatani komunikasi antara brand pariwisata dan calon wisatawan.

Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi foto atau video perjalanan. Platform seperti Instagram telah berkembang menjadi ruang referensi utama bagi banyak orang ketika menentukan destinasi wisata.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk berwisata tidak hanya didasarkan pada informasi teknis seperti harga atau fasilitas, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman personal yang diceritakan secara menarik. Konten yang memuat cerita, emosi, dan pengalaman nyata sering kali lebih mudah dipercaya dan diingat oleh audiens dibandingkan dengan promosi yang bersifat langsung dan komersial.

Dalam praktik pemasaran digital, influencer memiliki peran strategis dalam perjalanan keputusan konsumen atau yang dikenal sebagai marketing funnel. Pada tahap awal atau Top of Funnel, influencer membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap sebuah brand atau layanan wisata. Hal ini biasanya tercermin melalui jangkauan konten yang luas di media sosial.

Selanjutnya, pada tahap Middle of Funnel, influencer mulai membangun kepercayaan audiens melalui cerita pengalaman yang lebih personal dan autentik. Ketika audiens mulai merasa tertarik dan percaya, mereka akan mencari informasi lebih lanjut mengenai layanan tersebut. Tahap terakhir adalah Bottom of Funnel, di mana ketertarikan yang telah terbentuk dapat berujung pada keputusan untuk melakukan pemesanan perjalanan.

Namun demikian, strategi kolaborasi antara brand dan influencer tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Dalam banyak kasus, kerja sama yang paling umum dilakukan adalah paid collaboration (kolaborasi berbayar di mana influencer menerima kompensasi finansial untuk mempromosikan sebuah produk atau layanan).

Meskipun metode ini dapat memberikan jangkauan yang luas, konten yang terlalu berorientasi pada promosi sering kali menimbulkan keraguan di kalangan audiens. Mereka menyadari bahwa influencer menerima bayaran untuk mempromosikan suatu brand, sehingga pesan yang disampaikan dianggap kurang objektif. Akibatnya, tingkat kepercayaan audiens terhadap konten promosi dapat menurun.

Di tengah tantangan tersebut, muncul alternatif strategi yang mulai banyak digunakan dalam promosi pariwisata, yaitu kolaborasi barter dengan influencer. Dalam kasus ini, kompensasi tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan berupa pengalaman atau layanan perjalanan. Influencer memperoleh kesempatan menikmati paket wisata, sementara brand mendapatkan konten promosi yang dibuat oleh influencer tersebut. Model pertukaran ini berlandaskan pada prinsip value exchange, yaitu pertukaran nilai yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Salah satu contoh penerapan strategi ini dapat dilihat pada praktik promosi yang dilakukan oleh Smartway Tours yang berpusat di Malang. Perusahaan travel agent ini mengembangkan kolaborasi barter sebagai strategi untuk menjaga eksistensi digital sekaligus mengoptimalkan biaya pemasaran.

Dalam memilih influencer, perusahaan tidak hanya mempertimbangkan jumlah pengikut atau tingkat interaksi di media sosial. Faktor yang lebih penting adalah kesesuaian nilai atau value fit antara influencer dan brand. Artinya, influencer yang dipilih harus memiliki gaya konten dan narasi yang selaras dengan pengalaman perjalanan yang ingin ditawarkan.

Selain itu, kemampuan influencer dalam membangun storytelling yang autentik menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi. Konten yang dibuat tidak harus mengikuti format promosi yang kaku, melainkan memberi ruang kebebasan bagi influencer untuk mengekspresikan pengalaman perjalanan mereka secara natural. Pendekatan ini diyakini mampu menghasilkan cerita yang lebih jujur bagi audiens, sehingga meningkatkan kepercayaan terhadap brand.

Menariknya, dalam banyak kasus kolaborasi barter justru diawali oleh inisiatif dari influencer sendiri. Mereka melihat kesempatan tersebut sebagai peluang untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang menarik sekaligus menghasilkan konten yang bernilai bagi audiens mereka. Hal ini menunjukkan bahwa nilai yang ditawarkan oleh brand tidak selalu harus berupa uang, tetapi dapat berupa pengalaman yang memiliki nilai simbolik dan emosional.

Implementasi strategi barter juga memberikan dampak nyata terhadap performa pemasaran digital. Konten perjalanan yang dibagikan oleh influencer mampu meningkatkan kunjungan ke profil media sosial brand serta memicu rasa ingin tahu dari audiens.

Respons tersebut sering terlihat melalui komentar atau pesan langsung yang menanyakan detail layanan perjalanan, harga paket wisata, hingga pengalaman yang ditawarkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa konten yang autentik dapat mengubah rasa penasaran audiens menjadi minat yang lebih serius terhadap suatu layanan wisata.

Secara konseptual, keberhasilan strategi ini dapat dipahami melalui perspektif pertukaran sosial. Baik brand maupun influencer sama-sama memperoleh manfaat dari hubungan kerja sama tersebut. Brand mendapatkan eksposur dan kredibilitas di media sosial, sementara influencer memperoleh pengalaman perjalanan yang bernilai serta menjaga reputasi mereka di mata audiens. Hubungan yang saling menguntungkan ini menjadi dasar keberlanjutan kolaborasi dalam jangka panjang.

Peran influencer dalam promosi pariwisata tidak hanya sebatas memperluas jangkauan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan pengalaman emosional bagi audiens. Strategi barter kolaborasi menunjukkan bahwa promosi digital tidak selalu harus bergantung pada biaya besar.

Dengan mengutamakan kesesuaian nilai dan hubungan kolaboratif yang saling menguntungkan, strategi ini mampu menjadi alternatif efektif dalam menghadapi dinamika pemasaran pariwisata di era digital. Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kepercayaan audiens dan pengalaman yang autentik merupakan kunci utama dalam menarik minat wisatawan di masa kini.

Revinda Mauliatiz Zahroh Hakiki, S.IKom., alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top