Pemoeda Moehammadijah, Sebuah Berita tentang Muhammadiyah di Ngawi tahun 1940

Kiprah Muhammadiyah di Ngawi terekam dalam berita koran De Locomotief edisi 5 Januari 1940. Berjudul Pemoeda Moehammadijah, berikut adalah terjemahan bebas berita tersebut.

Pada malam Minggu tanggal 31 Desember telah diadakan rapat umum di Pasarsoreweg yang diselenggarakan oleh Pemoeda Moehammadijah. Menurut informasi yang kami terima, pada hari yang sama di seluruh Hindia diadakan rapat-rapat serupa. Kepentingan umum terhadap rapat ini hanya sedang-sedang saja karena hujan. Rapat dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an, setelah itu para hadirin diajak menyanyikan lagu selamat datang, diikuti dengan panembromo yang dibawakan oleh anak-anak dari sekolah Moehammadijah setempat.Selanjutnya, pembicara pertama memberikan penjelasan mengenai makna dan tujuan dari Shalat Jumat. Ia antara lain menerangkan nilai praktisnya: yaitu bahwa berkumpulnya umat pada waktu Shalat Jumat merupakan kesempatan yang sangat baik untuk saling bertukar pikiran mengenai perdagangan, usaha, dan sebagainya.Pembicara kedua sekaligus yang terakhir menyampaikan seruan kepada para pemuda Muhammadiyah agar di masa yang penuh kesulitan dan kekacauan ini tetap memberikan perhatian yang lebih besar kepada firman Tuhan, karena di dalamnya para pemuda dapat menemukan pegangan dan pedoman.Sekitar pukul 11 malam, rapat ditutup.

Konteks Isi Berita

Berita ini diambil dari surat kabar De Locomotief, salah satu surat kabar berbahasa Belanda tertua dan terpenting di Hindia Belanda yang berbasis di Semarang. Koran ini terbit sejak 1863 dan dikenal cukup netral serta banyak memberitakan kegiatan masyarakat pribumi, termasuk organisasi modern seperti Muhammadiyah.Artikel ini melaporkan kegiatan Pemoeda Moehammadijah (Pemuda Muhammadiyah) di Ngawi pada malam Minggu, 31 Desember 1939. Kegiatan berupa rapat umum (vergadering) yang digelar di Pasarsoreweg, dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an, lagu sambutan, dan nyanyian panembromo oleh anak-anak sekolah Muhammadiyah setempat. Dua orang pembicara menyampaikan pidato: yang pertama menjelaskan makna dan manfaat praktis Shalat Jumat (sebagai sarana silaturahmi dan diskusi bisnis), sedangkan yang kedua menyerukan agar pemuda tetap berpegang teguh pada ajaran agama di tengah masa sulit.Konteks sejarah yang lebih luas:

  • Tahun 1939–1940 merupakan masa menjelang Perang Dunia II yang semakin memanas di Eropa. Di Hindia Belanda, situasi ekonomi sulit akibat krisis dunia dan ketegangan politik internasional. Seruan pembicara kedua yang menyebut “masa penuh kesulitan dan kekacauan” (critischen tijd vol moeilijkheden en dwalingen) mencerminkan kegelisahan tersebut.
  • Pemuda Muhammadiyah saat itu adalah sayap kepemudaan organisasi Muhammadiyah yang didirikan secara resmi pada 1932. Mereka aktif melakukan pembinaan akhlak, pendidikan agama, dan kegiatan sosial di berbagai daerah, termasuk Ngawi dan Madiun.
  • Kehadiran berita ini di koran Belanda menandakan bahwa kegiatan Muhammadiyah sudah cukup diperhatikan oleh pers kolonial, meski masih dalam nada netral-informatif.

Secara keseluruhan, berita ini merupakan potret kegiatan rutin organisasi kepemudaan Muhammadiyah di daerah pedalaman Jawa Timur (Ngawi) di akhir tahun 1939 — sebuah gerakan yang terus mengembangkan pendidikan, keagamaan, dan solidaritas umat di tengah bayang-bayang perang dunia yang akan segera melanda Hindia Belanda pada 1942.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top