“Maaf ya kalau ada salah.”
“Iya, sama-sama. Maafin juga ya.”
Kalimat itu terdengar ringan. Bahkan terlalu ringan. Diucapkan sambil tersenyum. Kadang sambil lalu, tanpa benar-benar dipikirkan. Ucapan itu seolah menjadi bagian otomatis dari tradisi Idulfitri, tanpa disertai perenungan tentang kesalahan apa yang sebenarnya ingin dimaafkan. Kita pernah mengamati dan mengalaminya, bukan?
Tradisi saling memaafkan memang baik. Setiap Lebaran, orang-orang datang bersalaman. Kemudian saling memeluk sampai ada yang menitikkan air mata. Suasananya seperti hangat dan terasa tulus. Namun di balik itu, muncul keganjilan. Banyak orang meminta maaf bukan karena sadar telah berbuat salah atau merasa bersalah, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan tahunan.
Fenomena ini tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang yang sebelumnya bertengkar serius bisa saja saling berjabat tangan dan tersenyum saat Lebaran. Mereka saling mengucapkan maaf. Namun beberapa hari kemudian, hubungan kembali seperti semula. Sindiran muncul lagi. Konflik kembali terasa. Seolah peristiwa saling memaafkan itu tidak pernah terjadi.
Hal serupa juga terlihat di lingkungan kerja. Kantor-kantor, instansi, dan perusahaan rutin mengadakan halal bihalal. Semua berkumpul, berjabat tangan, dan saling memaafkan dalam suasana formal yang hangat. Namun setelah acara selesai, kondisi kembali seperti sebelumnya. Atasan tetap mungkin tetap sulit ditemui. Rekan kerja yang tidak saling mendorong maju. Lingkungan pergaulan dengan orang-orang itu-itu saja. Intinya, budaya kerja tidak banyak berubah. Lebaran yang disertai saling memaafkan tersebut hanya menjadi jeda singkat, bukan awal perubahan.
Jika demikian, pertanyaan sederhana pun muncul untuk apa semua itu dilakukan? Dalam ajaran agama, memaafkan bukan sekadar formalitas. Ia merupakan proses batin yang melibatkan kesadaran seseorang dengan niat dan muatan iklhas untuk berubah. Memaafkan bukan hanya tentang menghapus kesalahan masa lalu, tetapi juga komitmen untuk tidak mengulanginya di masa depan. Di situlah letak nilai ibadahnya.
Maaf yang sejati memiliki dampak nyata. Ia tidak berhenti pada ucapan, tetapi tercermin dalam perilaku. Seseorang yang sebelumnya sering berkata kasar, mulai belajar menjaga lisannya setelah meminta maaf. Seseorang yang pernah menyakiti orang lain mulai berusaha lebih peka dan menghargai. Dalam kondisi seperti ini, maaf menjadi hidup dan bermakna.
Kejujuran terhadap diri sendiri menjadi kunci penting. Mengingat kembali kesalahan yang pernah dilakukan. Meminta maaf dengan kesadaran penuh, memang bukan hal yang mudah. Namun justru di situlah letak kelegaan yang sesungguhnya. Maaf tidak lagi menjadi sekadar rutinitas, tetapi menjadi langkah awal perubahan.
Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian. Banyak orang ingin terlihat baik di saat Lebaran, tetapi lupa menjadi baik setelahnya. Padahal, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah Hari Raya Idulfitri berlalu.
Maaf memaafkan seharusnya tidak berhenti pada satu hari. Ia perlu hadir dalam keseharian, dalam cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Dari hal-hal kecil itulah perubahan besar dapat tumbuh.
Tradisi saling memaafkan saat Idulfitri akan kehilangan makna jika hanya menjadi ucapan tanpa kesadaran dan perubahan nyata. Maaf yang sejati menuntut perbaikan sikap dan komitmen untuk tidak mengulang kesalahan. Tanpa itu, maaf hanya menjadi ritual tahunan yang kosong. Sudah saatnya Lebaran dijadikan titik awal perubahan, agar maaf yang diucapkan benar-benar hidup dan bernilai ibadah.
Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Alamat: IG/TikTok/Threads/X: nurudinwriter





