Muhammadiyah: Organisasi Besar dengan Sistem Kolektif dan Kepemimpinan Tanpa Gaji

suakdiono

Oleh: Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M.

Muhammadiyah dikenal sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan pendidikan, kesehatan, dan sosial yang sangat luas. Di balik besarnya aset dan amal usaha yang dimiliki, ada sistem organisasi yang berjalan kuat serta budaya pengabdian yang tidak berorientasi pada keuntungan pribadi.

Secara struktur, Muhammadiyah memiliki jenjang kepemimpinan yang tertata rapi. Pada tingkat nasional terdapat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Di bawahnya ada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) di tingkat provinsi, kemudian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di tingkat kabupaten atau kota. Selanjutnya terdapat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di tingkat kecamatan dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di tingkat desa maupun kelurahan.

Seluruh amal usaha Muhammadiyah dikelola dalam sistem kepemilikan organisasi yang terpusat. Perguruan tinggi Muhammadiyah yang jumlahnya mencapai ratusan, sekolah-sekolah Muhammadiyah dari tingkat TK hingga SMA, hingga rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, seluruh asetnya berada di bawah kepemilikan organisasi Muhammadiyah. Meski demikian, masing-masing lembaga diberikan kewenangan untuk mengelola institusinya secara profesional dan mandiri.

Sistem ini membuat Muhammadiyah mampu menjaga kesinambungan organisasi sekaligus memetakan keseluruhan aset yang dimiliki. Dengan pola tersebut, keberlangsungan amal usaha tidak bergantung pada individu tertentu, melainkan pada sistem yang sudah dibangun bersama.

Kepemimpinan Kolektif dan Budaya Keikhlasan
Dalam proses kepemimpinan, Muhammadiyah menerapkan mekanisme musyawarah. Pimpinan Pusat dipilih melalui Muktamar Muhammadiyah dengan formatur berjumlah 13 orang. Sementara itu, pimpinan wilayah dan daerah dipilih melalui musyawarah sesuai tingkatan organisasinya. Yang menarik, Muhammadiyah tidak mengenal model kepemimpinan satu orang yang dominan.

Semua keputusan dijalankan secara kolektif kolegial. Ketua umum bukan sosok yang memegang seluruh kendali organisasi secara pribadi. Bahkan, meskipun seseorang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan, tetap saja kepemimpinan dijalankan bersama-sama dalam semangat musyawarah.

Hal lain yang sering membuat masyarakat luar terkejut adalah kenyataan bahwa pimpinan Muhammadiyah tidak menerima gaji dari jabatan organisasinya. Meskipun Muhammadiyah memiliki aset yang nilainya sangat besar, para pimpinan dari pusat hingga daerah menjalankan amanah secara sukarela sebagai bentuk pengabdian.

Namun demikian, orang-orang yang bekerja secara profesional di amal usaha Muhammadiyah tetap memperoleh penghasilan sesuai profesinya. Misalnya dosen, tenaga kesehatan, guru, rektor, atau pegawai rumah sakit digaji sesuai standar lembaga masing-masing.

Budaya keikhlasan menjadi salah satu kekuatan utama Muhammadiyah. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam organisasi besar selalu ada potensi konflik kepentingan. Akan tetapi, tradisi pengabdian dan semangat dakwah membuat mereka yang hanya mengejar keuntungan pribadi biasanya tidak bertahan lama di Muhammadiyah.

Sebaliknya, banyak kader yang justru berkembang dalam karier dan kehidupannya karena menjalankan amanah organisasi dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan. Oleh sebab itu, mengurus Muhammadiyah tidak sekadar dipandang sebagai aktivitas sampingan, melainkan bagian dari ibadah dan pengabdian sosial.

Islam Berkemajuan dan Kekuatan Sistem Organisasi
Muhammadiyah dikenal dengan konsep “Islam Berkemajuan”, yaitu cara pandang Islam yang terbuka terhadap inovasi, kolaborasi, dan perkembangan zaman. Prinsip ini mendorong Muhammadiyah untuk terus menghadirkan berbagai amal usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Keberhasilan Muhammadiyah bukan dibangun oleh figur semata, melainkan oleh sistem yang terus diperbaiki dan dikembangkan. Contohnya terlihat pada jaringan rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang tersebar di berbagai daerah. Pergantian direktur tidak mengganggu pelayanan karena sistem organisasi tetap berjalan dengan baik.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki berbagai lembaga strategis seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang aktif dalam penanganan bencana, baik di dalam maupun luar negeri. Dalam banyak situasi darurat, relawan Muhammadiyah sering hadir lebih awal untuk membantu masyarakat terdampak.

Di bidang filantropi, Lazismu turut memainkan peran besar dalam penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Saat pandemi COVID-19, Muhammadiyah juga membentuk Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) sebagai pusat koordinasi penanganan wabah.

Semua itu menunjukkan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada budaya kerja nyata, jaringan yang solid, dan sistem organisasi yang adaptif. Di Muhammadiyah, kerja dan pengabdian lebih diutamakan daripada sekadar wacana. Dan yang paling menarik, seluruh kepemimpinan itu dijalankan tanpa gaji jabatan organisasi.

Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

*) Naskah pernah disampaikan dalam Seminar Kepemimpinan Nusantara di Universitas Airlangga Surabaya, 12 Mei 2026

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top