Oleh Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Sidang Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Secara naluri, setiap kita tentu berharap kehidupan ini berakhir dengan happy ending, sebuah akhir yang membahagiakan, bukan kematian yang tragis dan menyedihkan. Untuk akhir sebuah novel atau film, bisa jadi akhir yang tragis digemari oleh sebagian orang. Namun, tidak untuk kehidupan nyata. Bolehlah ada riak gelombang duka dan lara saat mengarungi hidup sebagai bumbu yang pasti ada, tetapi sebagai penutupnya, kebahagiaanlah yang kita harapkan.
Itulah yang kita sebut sebagai Husnul Khatimah, yaitu akhir hidup yang baik dengan keimanan di dada dan kondisi yang terpuji saat ajal tiba. Namun, karena ia menjadi impian tertinggi setiap mukmin, musuh abadi kita—yaitu setan—telah bersiap siaga untuk mengubah impian indah ini menjadi mimpi buruk yang menghancurkan segalanya, sebuah akhir yang buruk atau Su’ul Khatimah.
Jemaah Jumat yang berbahagia,
Ketahuilah bahwa permusuhan kita dengan setan benar-benar berlangsung sampai titik darah penghabisan. Sebelum nyawa meninggalkan badan, peperangan itu akan terus berkobar. Menjelang ajal, pertempuran ini mencapai klimaksnya.
Bagi manusia, situasi saat itu benar-benar kritis karena fokusnya harus terbelah dua:
- Di satu sisi, kematian yang mengerikan tengah menyedot segala keberanian dan membekap fisik serta jiwa dengan ketakutan serta rasa sakit yang tak terperikan.
- Di sisi lain, ia harus bertahan dari serangan setan yang secara licik memanfaatkan situasi kritis tersebut untuk mencuri imannya.
Diriwayatkan bahwa godaan setan paling dahsyat atas anak Adam adalah saat menjelang ajal. Setan akan berkata kepada kawan-kawannya, “Inilah saatnya! Jika kalian melewatkan saat ini, kalian tidak akan pernah bisa bertemu (untuk menyesatkannya) lagi.” Jika setan berhasil, iman yang tercuri itu akan menjadi gong penutup kehidupan dunia sekaligus awal kesengsaraan di akhirat. Na’udzubillah min dzalik.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Hanyasanya, amal-amal itu tergantung pada apa yang mengakhirinya.” (HR. Bukhari)
Sidang Jemaah yang dimuliakan Allah,
Karena dahsyatnya fitnah akhir hayat ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa agar setan tidak menguasai kita saat sakaratul maut tiba, padahal sebelumnya kita telah berusaha melawannya sekuat tenaga. Beliau ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mati karena tertimpa runtuhan, aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari ketinggian, dari tenggelam, terbakar, dan piknik (renta). Aku berlindung kepada-Mu dari setan yang menggangguku (menyesatkanku) saat maut datang, aku berlindung kepada-Mu dari mati saat lari dari medan perang, dan mati karena tersengat binatang.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)
Imam al-Khatthabi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “gangguan (takhabbut) setan saat maut” adalah jangan sampai setan menguasai diri kita hingga berhasil menyesatkan, menghalangi dari tobat, membuat putus asa dari rahmat Allah, atau membuat kita benci pada ketetapan Allah yang fana ini, hingga akhirnya kita menutup usia dalam kondisi jengkel kepada-Nya.
Mungkin timbul pertanyaan: Bukankah mati karena tenggelam atau tertimpa runtuhan itu dinilai sebagai mati syahid yang punya keutamaan? Mengapa Nabi ﷺ justru berlindung darinya?
Para ulama kita memberikan penjelasan yang sangat indah:
- Imam ath-Thayibi menjelaskan bahwa kondisi-kondisi tersebut pada dasarnya adalah musibah dan ujian yang berat (bala’). Allah memberikan pahala syahid sebagai bentuk balasan dan santunan atas beratnya musibah yang menimpa seorang mukmin. Namun, syahid jenis ini (syahid akhirat) berbeda dengan syahid hakiki di medan jihad. Syahid di medan jihad harus dicita-citakan, sedangkan mati tragis seperti tenggelam atau terbakar harus dihindari, bukan sengaja diburu.
- Imam al-Mubarakfuri menambahkan, Nabi ﷺ berlindung dari sebab-sebab kematian tersebut karena ujiannya sangat memberatkan jiwa, sehingga dikhawatirkan hampir tak seorang pun bisa bertahan menjaga imannya dalam kondisi seberat itu.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Husnul khatimah itu sejatinya lebih mengarah pada kondisi iman dan amal seseorang saat ajal tiba, bukan dari segi cara atau faktor fisik apa yang membuatnya kehilangan nyawa. Mati karena sebab apa pun, asalkan kita tengah berada dalam ketaatan dan berhasil mempertahankan iman, insya-Allah husnul khatimah dapat diraih.
Kita memang tidak bisa menentukan secara pasti di atas tanah apa kita akan mati, tetapi kita bisa memilih jalan hidup yang kita lalui sekarang. Apakah di atas jalan ketaatan atau kemaksiatan? Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“And janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Yang harus kita lakukan adalah terus istiqamah menjadi Muslim yang baik, menjaga iman di dalam hati setiap hari, agar ketika ajal itu tiba secara tiba-tiba, Islam dan iman itulah yang masih melekat erat di dada kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ ,رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا أَوَاخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.





