“Meneladani Keluarga Ibrahim: Mendidik Generasi Saleh, Mengikis Kebakhilan, Dan Menjaga Amanah Sosial

Kebakhilan, Dan Menjaga Amanah Sosial”

Oleh. Dr. Suwardi Rosyid A, M.Pd.I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ هٰذَا الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَأَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ بِأَضَاحِيِّ الْمُؤْمِنِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,

Hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil membelah angkasa, mengagungkan kebesaran Allah SWT atas karunia nikmat-Nya yang tak terhingga. Kita berkumpul di pagi yang mulia ini untuk mengenang kembali sebuah potret sejarah kemanusiaan paling agung, yaitu kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS, Ibunda Siti Hajar, dan putra tercinta mereka, Nabi Ismail AS. Melalui momentum Idul Adha ini, Allah SWT tidak sekadar memerintahkan kita menyembelih hewan ternak, melainkan mengajak kita membedah makna ketaatan sejati yang melampaui segala bentuk ego, keinginan hati, dan belenggu kekikiran duniawi.

Puncak ujian keimanan Nabi Ibrahim AS terjadi ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih Nabi Ismail, putra yang telah dinantikannya selama puluhan tahun hingga rambutnya memutih. Secara logika dan tabiat kemanusiaan, perintah ini teramat berat karena harus mengorbankan buah hati yang teramat dicintai. Namun, Nabi Ibrahim memilih mendahulukan perintah Sang Pencipta di atas segalanya, sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102, saat beliau meminta pendapat anaknya dengan santun, dan Nabi Ismail menjawab:

يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Di sinilah kita belajar bahwa berkurban adalah sarana untuk menyembelih sifat bakhil dan kikir yang kerap membisikkan ketakutan akan berkurangnya harta, agar posisi Allah senantiasa kokoh di atas puncak prioritas hidup kita.

Ketundukan luar biasa yang diperlihatkan oleh Nabi Ismail muda ini tidaklah tumbuh secara instan, melainkan lahir dari pola asuh yang berbasis tauhid dan keteladanan nyata dari orang tuanya. Nabi Ibrahim tidak mendikte, melainkan mendidik dengan dialog yang penuh kasih, sementara Ibunda Siti Hajar membesarkannya dengan keteguhan iman di lembah Makkah yang gersang. Hal ini menjadi pelajaran yang sangat mahal bagi kita para orang tua di era modern, bahwa tugas terbesar di tengah gempuran zaman bukanlah sekadar mencukupi materi atau memberikan fasilitas mewah, melainkan mendidik jiwa anak-anak kita agar menjadi generasi yang saleh, yang mengerti hak-hak Allah, serta berbakti kepada orang tua. Kita harus senantiasa memanjatkan doa Nabi Ibrahim As dalam QS. As-Saffat: 100:,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” sebab kesalehan anak adalah investasi teragung yang akan menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat kelak.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Keteladanan dari keluarga Nabi Ibrahim ini kemudian diejawantahkan ke dalam syariat kurban, yang menjadi tolok ukur kadar keimanan bagi mereka yang telah diberikan kelapangan rezeki. Sungguh ironis jika di zaman sekarang, kita mampu mencicil kendaraan mewah, membeli gawai mahal, dan menghabiskan jutaan rupiah untuk kesenangan pribadi, namun mendadak merasa miskin saat diminta membeli seekor hewan kurban. Terkait mentalitas bakhil ini, Rasulullah SAW memberikan ancaman spiritual yang sangat keras dalam sabdanya,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dan dishahihkan/dihasankan oleh sebagian ulama tafsir dan hadits).

Peringatan ini menegaskan bahwa orang yang mampu namun enggan berkurban seolah-olah dikucilkan dari barisan kaum muslimin, karena kekikiran telah menutup mata hatinya dari rasa syukur atas limpahan nikmat-Nya.

Nabi Muhammad saw bersabda:

 مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

 “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (HR. Imam Tirmidzi) 

 اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Lebih jauh lagi, keengganan untuk berbagi di hari raya ini menyingkap sebuah penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu hilangnya empati sosial yang dapat menyeret seseorang menjadi pendusta agama. Allah SWT telah memperingatkan kita dengan tegas dalam Surah Al-Ma’un bahwa pendusta agama bukanlah mereka yang tidak shalat, melainkan mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Melalui syariat kurban, Islam meruntuhkan dinding pemisah antara si kaya dan si miskin, memastikan bahwa pada hari ini tidak ada kaum dhuafa yang menangis karena kelaparan. Ibadah kurban adalah momentum nyata untuk merontokkan sifat egois dan acuh, agar ibadah ritual yang kita lakukan selaras dengan kepedulian sosial kita terhadap sesama.

 اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Agar esensi ketaatan, pendidikan karakter, dan kepedulian sosial ini dapat terwujud dengan sempurna, maka beban amanah yang sangat besar kini diletakkan di pundak segenap Panitia Kurban. Wahai para panitia, kalian adalah wakil dari para muqorrib atau mudhohi yang telah menyerahkan harta mereka demi menggapai ridha Allah, maka jagalah amanah ini dengan prinsip transparansi, keadilan, dan profesionalisme yang ketat sesuai syariat. Perlakukanlah hewan kurban dengan ihsan, distribusikan dagingnya secara adil kepada mereka yang benar-benar berhak, dan ingatlah larangan keras untuk tidak mengupah tukang jagal menggunakan bagian dari hewan kurban, seperti kulit atau kepalanya, melainkan harus dari dana operasional yang terpisah. Rasulullah SAW mengingatkan,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban baginya.” (HR. Al-Hakim, Baihaqi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Kelalaian panitia dalam menjaga aturan ini dapat mencederai keabsahan ibadah para jamaah, sehingga panitia menanggung dosa berjamaah. maka jadilah jembatan kebaikan yang amanah agar keberkahan melimpah bagi kita semua.

 اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Di penghujung khutbah yang singkat ini, mari kita tundukkan kepala, sejenak merenungkan kekurangan diri kita, dan menyatukan hati dalam doa memohon kebaikan di hadapan Allah SWT.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَتَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا

وَلَا تَجْعَلِ اللَّهُمَّ فِينَا وَلَا مِنَّا وَلَا مَعَنَا شَقِيًّا وَلَا مَحْرُومًا

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top