Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah dan Seluk-Beluknya

Beautiful courtyard with a palm tree and historic arches under a bright blue sky.

Oleh. Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I.

1. Latar Belakang dan Faktor Pemicu Hijrah

​Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah strategi besar yang didasari oleh perintah Allah SWT setelah dakwah di Makkah mencapai titik krusial. Selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi intimidasi, boikot, hingga penyiksaan fisik yang luar biasa dari kaum kafir Quraisy. Puncaknya adalah ketika kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah dan sepakat untuk membunuh Nabi SAW secara bersama-sama oleh pemuda dari berbagai kabilah agar Bani Abdi Manaf tidak dapat menuntut balas. Di sisi lain, Allah SWT telah membukakan jalan baru melalui Baitul Aqabah I dan II, di mana penduduk Yatsrib menyatakan kesetiaan untuk memeluk Islam dan melindungi Rasulullah SAW. Faktor-faktor inilah yang menjadi lampu hijau bagi fase baru dakwah Islam.

​2. Detik-Detik Keberangkatan dan Mukjizat di Rumah Nabi

​Ketika konspirasi pembunuhan dikepung di kediaman beliau, Malaikat Jibril datang membawa wahyu yang mengizinkan Nabi SAW untuk berhijrah. Pada malam keberangkatan, Rasulullah SAW menunjukkan ketenangan yang luar biasa dengan meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjang beliau mengenakan selimut hijaunya guna mengelabui para mengepung, sekaligus menunaikan amanah mengembalikan barang-barang titipan penduduk Makkah. Nabi SAW kemudian keluar rumah melewati para pemuda Quraisy yang sedang mengepung seraya menaburkan pasir di atas kepala mereka. Atas izin Allah, pandangan mereka ditutup sehingga Nabi SAW dapat berjalan melenggang dengan selamat. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Yasin ayat 9:
​”Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Yasin: 9).

​3. Perlindungan di Gua Tsur dan Keteguhan Iman
​Alih-alih langsung menuju ke utara arah Madinah, Rasulullah SAW bersama sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, justru bergerak ke arah selatan dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk mengecoh kejaran kaum Quraisy. Dalam momen yang sangat kritis ini, para pengejar bahkan sempat berdiri di mulut gua. Abu Bakar yang sangat mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah berbisik, “Jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.” Namun dengan penuh keyakinan, Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang abadi dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 40:
​”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40).
Allah SWT pun menurunkan bala tentara-Nya (berupa sarang laba-laba dan burung yang bertelur menurut sebagian riwayat) sehingga kaum Quraisy mengira gua tersebut kosong dan berbalik arah.

​4. Perjalanan yang Penuh Siasat dan Keteladanan
​Seluk-beluk hijrah ini melibatkan manajemen strategi yang sangat rapi dan melibatkan berbagai pihak secara profesional.

Abdullah bin Abi Bakar bertugas sebagai pencari informasi di Makkah pada siang hari, Asma binti Abi Bakar bertugas mengantar makanan ke gua pada malam hari (hingga dijuluki Dzatun Nithaqain atau pemilik dua ikat pinggang), dan Amir bin Fuhairah bertugas menggembalakan kambing di sekitar gua untuk menghapus jejak kaki mereka. Setelah situasi kondusif pada hari keempat, mereka memulai perjalanan ke Madinah dipandu oleh seorang penunjuk jalan non-Muslim yang tepercaya dan ahli navigasi gurun bernama Abdullah bin Uraiqit. Di tengah jalan, mereka sempat dikejar oleh Suraqah bin Malik yang tergiur hadiah 100 ekor unta, namun setiap kali Suraqah mendekat, kaki kudanya selalu terperosok ke dalam pasir atas mukjizat Nabi, hingga akhirnya Suraqah menyerah dan memohon ampunan.

​5. Singgah di Quba dan Pembangunan Masjid Pertama
​Sebelum memasuki jantung kota Madinah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar singgah di sebuah desa bernama Quba pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Di tempat ini, beliau menetap selama beberapa hari dan langsung meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Quba, yang tercatat sebagai masjid pertama yang dibangun atas dasar takwa dalam sejarah Islam. Langkah ini menegaskan bahwa masjid adalah fondasi utama dalam membangun peradaban umat. Allah SWT memuji kesucian masjid ini dan para jamaahnya dalam Surat At-Taubah ayat 108:
​”Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya…” (QS. At-Taubah: 108).

​6. Penyambutan Hangat di Madinah dan Fondasi Negara Baru

​Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah disambut dengan sukacita dan haru yang luar biasa oleh penduduk Anshar (Yatsrib). Kaum wanita dan anak-anak melantunkan nasyid kegembiraan, dan setiap kabilah berebut memegang tali kendali unta Nabi (Al-Qaswa) dengan harapan beliau sudi bertamu di rumah mereka. Nabi SAW dengan bijak menyerahkan pilihan tempat tinggalnya kepada jalannya unta tersebut, yang akhirnya berhenti di sebidang tanah milik dua anak yatim, tempat di mana kemudian Masjid Nabawi dibangun. Di Madinah inilah Rasulullah SAW mulai meletakkan tiga fondasi utama negara baru:

membangun Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah dan pemerintahan, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar untuk mengikat ukhuwah Islamiyah, serta merumuskan Piagam Madinah (Shahifatul Madinah) sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengatur kerukunan antarumat beragama.

​Referensi Utama Kajian:

  1. ​Al-Qur’an Al-Karim (QS. At-Taubah: 40, QS. At-Taubah: 108, dan QS. Yasin: 9).
  2. ​Kitab Shahih Bukhari & Shahih Muslim, Bab Kitab al-Hijrah.
  3. ​Ar-Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah) karya Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarakfuri.
  4. ​Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top