Mengejar Ayem diatas Seneng ((Filosofi Kebahagiaan Sejati dalam Pandangan Islam)

Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I

Hakikat Kuantitas Rezeki: Akeh Durung Mesti Cukup, Sithik Durung Mesti Kurang

Dalam mengarungi kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam standar kebahagiaan yang semu, di mana segalanya diukur hanya berdasarkan angka, nominal, dan kepuasan lahiriah. Padahal, masyarakat Jawa sejak zaman dahulu telah mewariskan kearifan luhur yang sangat selaras dengan nilai-nilai tauhid, salah satunya lewat ungkapan, “Akeh durung mesti cukup, sithik durung mesti kurang” (Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang). Falsafah ini sejatinya sedang berbicara tentang hakikat keberkahan (barakah). Ketika rezeki yang banyak tidak disertai berkah, ia akan habis begitu saja untuk menuruti gaya hidup yang tidak pernah ada puasnya, atau habis karena musibah. Sebaliknya, rezeki yang secara nominal tampak sedikit, jika diberkahi oleh Allah, akan terasa lapang, mencukupi kebutuhan pokok, dan membawa ketenangan.

Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ mengenai hakikat kekayaan sejati yang bertumpu pada kepuasan hati (qana’ah), sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah diukur dari banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup).”

Ketika seseorang mampu membebaskan dirinya dari ketergantungan makhluk dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, maka Allah sendiri yang menjamin kecukupannya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah At-Talaq ayat 3:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Orientasi Hidup: Ojo Mburu Seneng, Nanging Mburu Ayem

Selanjutnya, wejangan leluhur mengingatkan kita tentang arah dan tujuan hidup melalui kalimat, “Ojo mburu seneng, nanging mburu ayem” (Jangan mengejar kesenangan, tetapi kejarlah ketenteraman/kedamaian hati). Di sini kita diajak untuk membedakan antara seneng (kesenangan) dan ayem (ketenteraman). Kesenangan itu bersifat indrawi, datang dari luar, dan biasanya bersumber dari pemenuhan hawa nafsu seperti materi, jabatan, atau pujian yang sifatnya sementara dan candu. Sementara itu, ayem adalah ketenteraman batiniyah yang datang dari dalam hati karena kedekatan makhluk dengan Sang Pencipta. Orang yang hanya memburu seneng akan selalu merasa haus, sedangkan orang yang memiliki keheningan ayem akan tetap damai dalam kondisi apa pun.

Al-Qur’an mengonfirmasi bahwa ketenteraman sejati tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi duniawi, melainkan hanya bisa diraih dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Sebab, jika yang dikejar hanya kesenangan duniawi, manusia pasti akan kecewa karena dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang fana. Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-An’am ayat 32:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Dan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kunci Jiwa yang Tenang: Nrimo Ing Pandum, Tansah Eling Lan Bersyukur

Sebagai pamungkas, agar manusia bisa meraih tingkatan ayem tersebut, diletakkanlah fondasi spiritual yang berbunyi, “Nrimo ing pandum, tansah eling lan bersyukur” (Menerima segala pemberian/takdir dari Tuhan, serta selalu ingat dan bersyukur). Sikap nrimo ing pandum bukanlah kepasrahan yang malas (fatalisme), melainkan sebuah kepasrahan yang aktif. Artinya, setelah kita melakukan ikhtiar keduniawian secara maksimal, kita menyerahkan dan ridha terhadap apa pun hasil yang dibagikan (pandum) oleh Allah SWT. Ini adalah bentuk konkret dari keimanan terhadap takdir (Qadha dan Qadar). Sikap ini kemudian disempurnakan dengan tansah eling (selalu berdzikir mengingat Allah) dan senantiasa bersyukur atas segala kondisi.

Sikap mental yang luar biasa ini pernah dipuji oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits riwayat Muslim tentang keajaiban hidup seorang mukmin:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan dia bersabar, itu baik baginya.”

Sebagai janji yang pasti, Allah SWT juga menegaskan bahwa rasa syukur tidak akan pernah mengurangi apa yang kita miliki, melainkan menjadi magnet datangnya nikmat-nikmat yang lebih besar, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Kesimpulan

Melalui integrasi antara falsafah Jawa dan ajaran Islam ini, kita diajak untuk mengubah paradigma hidup dari yang semula berorientasi pada materi (material-sentris) menjadi berorientasi pada spiritual (spiritual-sentris). Kunci kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan pada seberapa lapang hati kita menerima dan mengelola apa yang ada. Dengan meluruskan niat, memelihara sifat qana’ah, mengelola ekspektasi lewat ridha terhadap takdir, serta membasahi lidah dengan dzikir dan syukur, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang merdeka—tidak didekte oleh gemerlap dunia, dan memiliki jiwa yang tenang (Nafs al-Mutma’innah) di hadapan Sang Khalik.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top