Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I
Perintah Membangun Bahtera dan Pengawasan Ilahi
Kisah ini dimulai ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah kapal besar sebagai persiapan menghadapi azab yang akan datang. Dalam ayat 37, Allah berfirman:
وَٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ
Allah menegaskan bahwa pembuatan kapal tersebut berada di bawah “Mata Kami” (pengawasan) dan wahyu-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi perkapalan tersebut adalah bimbingan langsung dari langit, bukan sekadar imajinasi manusia. Pada saat yang sama, Allah menutup ruang dialog bagi orang-orang zalim; keputusan telah bulat bahwa mereka akan ditenggelamkan, dan Nabi Nuh dilarang untuk memohonkan ampunan lagi bagi mereka.
Ujian Mental dan Ejekan Kaum Kafir
Proses pembangunan kapal ini menjadi ujian sosial yang berat bagi Nabi Nuh. Sebagaimana digambarkan dalam ayat 38 dan 39:
وَيَصْنَعُ ٱلْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِۦ سَخِرُوا۟ مِنْهُ ۚ قَالَ إِن تَسْخَرُوا۟ مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ . فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
Setiap kali para pemuka kaumnya melintas, mereka menghina Nuh karena membangun kapal besar di tempat yang kering dan jauh dari perairan. Mereka menggunakan logika duniawi untuk merendahkan ketaatan Nuh. Namun, Nuh menjawab dengan ketegasan iman bahwa ejekan tersebut akan berbalik kepada mereka saat azab yang menghinakan dan kekal itu tiba. Di sini kita belajar bahwa kebenaran seringkali terlihat tidak logis di mata mereka yang tertutup hatinya.
Detik-Detik Datangnya Azab dan Perintah Evakuasi
Puncak dari drama sejarah ini terjadi ketika tanda-tanda alam mulai berubah. Allah menetapkan sebuah tanda spesifik yang menandai dimulainya bencana besar, sebagaimana disebutkan dalam ayat 40:
حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ قُلْنَا ٱحْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ ٱلْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ ۚ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٌ
Ketika perintah Allah datang dan Tannur (tungku api/dapur) mulai memancarkan air—sebuah fenomena mukjizat di mana elemen api berubah menjadi sumber air—Nuh diperintahkan untuk segera memuat kapal tersebut. Beliau membawa sepasang dari setiap jenis hewan untuk kelestarian alam, serta keluarganya dan orang-orang yang beriman. Ayat ini ditutup dengan fakta yang memilukan namun penuh pelajaran: meskipun Nuh berdakwah selama berabad-abad, hanya sedikit orang yang mau beriman dan ikut ke dalam kapal tersebut.
Kesimpulan dan Refleksi
Dari rangkaian ayat ini, kita dapat memetik pelajaran bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh iman dan ketaatan. Bahtera Nabi Nuh adalah simbol bahwa di tengah badai kehidupan dan fitnah yang dahsyat, hanya “kapal” keimanan dan syariat Allah-lah yang mampu menyelamatkan manusia dari kehancuran total. Kesabaran Nuh dalam menghadapi ejekan mengajarkan kita untuk tetap fokus pada perintah Allah meski lingkungan sekitar meragukan atau menghina jalan kebenaran yang kita tempuh.





