Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I
Kajian mengenai kisah Nabi Nuh ’alayhis salam merupakan salah satu narasi yang paling detail dalam Al-Qur’an. Berikut adalah urutan kronologis awal mula terjadinya banjir besar berdasarkan berbagai ayat dalam surat-surat Al-Qur’an untuk bahan tadabbur kita:
​1. Puncak Penolakan Kaum Nuh
​Setelah berdakwah selama 950 tahun, kaum Nabi Nuh tetap membangkang. Puncaknya adalah ketika mereka saling berpesan untuk tidak meninggalkan berhala-berhala mereka (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr).
​”Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.” (QS. Nuh: 23)
​2. Doa Nabi Nuh (Keputusan Akhir)
​Melihat hati kaumnya yang sudah tertutup rapat, Nabi Nuh memohon keputusan kepada Allah agar tidak membiarkan satu pun orang kafir tinggal di bumi karena mereka hanya akan melahirkan generasi yang serupa.
​”Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi’.” (QS. Nuh: 26)
​3. Perintah Membuat Bahtera (Al-Fulk)
​Allah mengabulkan doa tersebut dan memerintahkan Nabi Nuh membangun kapal besar di bawah pengawasan-Nya. Saat proses pembuatan, para pemuka kaumnya justru mengejek karena Nabi Nuh membuat kapal di daratan yang jauh dari air.
​”Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya…” (QS. Hud: 38)
​4. Tanda Dimulainya Banjir: Tannur (Dapur)
​Allah memberikan tanda khusus bahwa azab akan segera datang, yaitu ketika air mulai memancar dari Tannur (tempat pembakaran roti/dapur). Ini adalah isyarat bagi Nuh untuk segera memasukkan penumpang.
​”Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur (tannur) telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina)…'” (QS. Hud: 40)
​5. Terbukanya Pintu Langit dan Mata Air Bumi
​Banjir besar terjadi bukan hanya dari hujan, melainkan pertemuan dua kekuatan air: hujan lebat dari langit dan pancaran air dari seluruh pori-pori bumi.
​”Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)
​6. Doa Saat Menaiki Kapal
​Nabi Nuh mengajarkan umatnya yang beriman untuk bertawakal sepenuhnya kepada Allah saat kapal mulai bergerak membelah gelombang yang setinggi gunung.
​”Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya’…” (QS. Hud: 41)
​Intisari Kajian:
Kisah ini bukan sekadar bencana alam, melainkan pemisahan antara yang hak dan yang batil. Banjir Nabi Nuh mengajarkan kita bahwa ketika peringatan Allah diabaikan terus-menerus, maka ketetapan-Nya (sunnatullah) akan berlaku sebagai pembersihan bagi bumi.





