Yogyakarta — Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) akan menggelar kuliah blok Promosi Kesehatan bertema pengemasan pesan kesehatan di media sosial pada Kamis, 17 September 2026. Sesi itu diampu Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UMY, dan diikuti mahasiswa semester 3. Kuliah ini menekankan bahwa pesan kesehatan di media sosial harus sampai dan bisa dikerjakan, bukan sekadar tampak menarik. Fajar Junaedi memperkenalkan pendekatan SIMPLE, yaitu spesifik, informatif, mudah, personal, langsung, dan etis. Menurutnya, enam huruf itu punya satu misi: membuat pesan benar-benar dipakai.
Ia menegaskan, perintah kesehatan harus bisa diukur. Jika audiens masih bertanya berapa lama atau berapa kali suatu tindakan dilakukan, pesan itu belum spesifik.“Pesan kesehatan yang baik bukan yang paling indah. Tapi yang paling mudah dikerjakan besok pagi,” kata Fajar Junaedi. Ia mencontohkan kalimat yang bisa dikerjakan, seperti mencuci tangan memakai sabun selama 20 detik sebelum makan dan setelah dari toilet, atau berjalan cepat 30 menit sebanyak lima hari seminggu. Slogan umum seperti “jaga kebersihan” atau “hidup sehat” dinilainya terdengar baik, tetapi tidak memberi langkah konkret.

Fajar juga menekankan pentingnya bahasa yang mudah dan bukti yang bisa dicek. Ia menilai kesehatan publik bukan ujian kedokteran. Jika audiens harus membuka kamus, pesan sudah kalah di detik pertama. Sumber resmi seperti Kementerian Kesehatan, WHO, atau pedoman klinik perlu dicantumkan. “Kepercayaan publik rapuh. Satu klaim berlebihan merusak seluruh kampanye,” ujarnya.Pesan juga harus personal dan langsung. Dr. Fajar Junaedi menilai satu poster untuk semua orang sama artinya dengan poster untuk tidak siapa-siapa. Orang bertindak jika merasa pesan itu tentang dirinya, sehingga contoh bagi ibu hamil, remaja, dan lansia tidak bisa diseragamkan.
Di gawai, keputusan audiens terjadi dalam sekejap. Karena itu, aksi utama harus terlihat dalam tiga detik pertama, bukan dibuka dengan definisi atau kerangka teori.Sebelum unggahan tayang, ia meminta mahasiswa menempuh cek 15 detik: apakah ada angka dan situasi yang jelas, sumbernya resmi, tetangga non-nakes paham sekali baca, contohnya cocok untuk audiens sasaran, aksi utama langsung terlihat, serta pesan tidak menistigma, membocorkan privasi, atau mengklaim kesembuhan ajaib. Bagi mahasiswa keperawatan semester 3, kerangka itu menjadi bekal agar edukasi kesehatan di media sosial tetap akurat, etis, dan mudah diikuti.






