Bagian I : Yatim di Gerbang Sekolah (1987–1994)
”Ayah Pergi, Ibu Berdiri”
Tahun 1987 bukan sekadar tahun pertama Suwardi mengenal abjad dan angka di SDN Gebang II. Itu adalah tahun di mana dunianya runtuh. Baru saja ia merasakan bangganya mengenakan seragam merah-putih, sang ayah dipanggil oleh Sang Pencipta. Kehilangan sosok pelindung di usia yang begitu belia adalah luka yang tak kasat mata namun terasa perihnya.
Namun, di tengah duka, Suwardi menyaksikan kekuatan yang luar biasa dari seorang wanita: Ibunya. Sendirian, sang ibu harus memutar otak, memeras keringat, dan mengencangkan ikat pinggang demi menghidupi lima orang anak. Tidak ada kata menyerah dalam kamus sang ibu. Pagi yang buta adalah saksi bisu bagaimana beliau bekerja tanpa henti. Suwardi kecil belajar satu hal penting: Kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti berjalan, tetapi alasan untuk berlari lebih kencang.

Bagian II : Rindu Pondok dan Dinginnya Lantai Mushola (1994–1997)
”Antara Cita-cita dan Realita”
Lulus SD, langkah Suwardi berlanjut ke SMPN 2 Masaran. Status sebagai anak yatim dari Desa Gebang Kidul tidak membuatnya minder. Justru, semangatnya untuk mengubah nasib membara. Di masa ini, ada gejolak di dadanya; ia ingin sekali nyantri, mendalami kitab kuning, dan menghafal kalam Tuhan di pondok pesantren.
Namun, ekonomi berkata lain. Biaya mondok yang tak terjangkau memaksa Suwardi mencari jalan tengah. Ia tak mau kalah oleh keadaan. Jika ia tak bisa pergi ke pondok, maka ia akan menjadikan lingkungannya sebagai “pondok”. Setiap sore hingga malam, ia menghabiskan waktu di musholla desa. Ia mengaji, belajar agama dengan tekun, dan yang paling mengharukan: ia memilih untuk tidur di musholla. Alas keramik yang dingin menjadi saksi bisu doa-doa panjangnya di sepertiga malam. Ia lulus SMP tahun 1997 dengan martabat yang terjaga.
Bagian III : Peluh di Sawah, Ilmu di STM (1997–2000)
”Mekanik yang Mencangkul Takdir”
Pendidikan tingkat menengah adalah masa-masa fisik Suwardi diuji hingga batas maksimal. Ia memilih STM Sukawati Sragen, jurusan Mekanik Umum. Karena keterbatasan biaya, ia mengambil jadwal masuk siang (pukul 13.00 WIB).
Apa yang dilakukan Suwardi di pagi hari? Saat teman sebaya mungkin masih bersantai, Suwardi sudah berada di sawah orang. Ia menjadi buruh tani—ngerek (memanen padi), matun (mencabut rumput), hingga macul (mencangkul). Dengan tangan yang masih kotor oleh tanah sawah, ia membersihkan diri seadanya untuk berangkat sekolah. Sebagian besar biaya sekolah ia tanggung sendiri dari upah buruh tani tersebut, meski ibunya tetap berusaha membantu sebisanya. Peluh itu tidak sia-sia; ia lulus tahun 2000 dengan mental baja yang lebih kuat dari besi mekanik yang ia pelajari.
Bagian IV: Mimpi yang Tertunda di Baitul Amin (2000–2004)
”Rosyid Anwarudin: Nama Baru, Semangat Baru”
Tahun 2000 adalah pintu gerbang terkabulnya doa masa kecil. Kesempatan belajar di Ponpes Baitul Amin Jombang datang secara gratis. Di sinilah ia dikenal sebagai Rosyid Anwarudin. Di bawah asuhan kiai, ia menemukan makna kedisiplinan dan tanggung jawab yang sesungguhnya.
Baitul Amin bukanlah pesantren biasa; sebagai pesantren modern terpadu, komunikasi harian menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Suwardi, anak desa yang terbiasa di sawah, kini harus bergelut dengan tata bahasa asing. Kesabaran dan keilmuannya diuji. Setelah lulus tahun 2004, ia ditugaskan untuk mengabdi di Kota Madiun. Madiun menjadi ladang dakwah pertamanya. Ia menjadi Imam tetap Masjid Puntuk, mengajar TPA, dan menjadi guru bahasa Arab di MI Muhammadiyah.
Bagian V : Gerbang Pernikahan dan Perjuangan Akademik (2005–2009)
”Menyempurnakan Agama, Mengejar Gelar”
Tahun 2005, babak baru kehidupan dimulai dengan pernikahan. Namun, pernikahan bukan akhir dari belajar. Suwardi justru semakin giat. Sembari memikul tanggung jawab sebagai suami, ia melanjutkan D-II di STAI Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo. Perjalanan Madiun-Sidoarjo menjadi rutinitas yang melelahkan namun membahagiakan.
Tahun 2007, ia meraih gelar A.Ma. Haus akan ilmu, ia langsung menyambung ke jenjang S-1 di STAI Madiun. Di sinilah ia belajar bahwa keberkahan ilmu tidak melulu soal besarnya gedung kampus, tapi soal ketulusan hati. Ia lulus sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 2009 dengan gelar S.Pd.I. Kesibukannya pun bertambah; ia mulai aktif di Pemuda Muhammadiyah, Majelis Tabligh, hingga menjadi Kepala Asrama Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun.
Bagian VI : Dari MBS Hamka hingga Persaingan Globa (2010–2014)
”Membuktikan Kualitas di UMS”
Semangat Suwardi untuk membangun institusi pendidikan mulai nampak di tahun 2010. Bersama Bapak Drs. Suyono, M.Pd., ia menggagas berdirinya Ponpes MBS Prof. Hamka. Melalui perjuangan panjang, sekolah formalnya berdiri pada 2016 dan Suwardi dipercaya menjadi Mudir/Kepala SMP MBS Hamka yang pertama.
Namun, ia merasa ilmunya masih harus ditambah. Tahun 2012, ia mendaftar S-2 di UMS Surakarta. Di sana, ia berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa elit lulusan Al-Azhar Kairo dan universitas Australia. Suwardi tidak gentar. Meski harus “numpang tidur” di sekolah Muhammadiyah di Solo demi menghemat biaya, ia membuktikan bahwa anak desa Gebang Kidul bisa bersaing. Ia lulus tahun 2014 sebagai lulusan pertama di kelasnya dengan gelar Magister. Di tahun yang sama, kepemimpinannya diakui dengan terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Madiun.
Bagian VII : Puncak Tertinggi, Sang Doktor (2019–2023)
”Ujian Terbuka dan Air Mata Bahagia”
Tekad bulat membawanya kembali ke UMS pada tahun 2019 untuk menempuh program Doktoral (S-3). Hambatan riset, tantangan biaya, dan kesibukan birokrasi tidak menyurutkan langkahnya. Tepat pada 21 Maret 2023, dalam sidang ujian terbuka yang khidmat, ia berhasil mempertahankan disertasinya. Gelar Doktor kini tersemat di depan namanya. Sebuah pencapaian yang mungkin mustahil dibayangkan oleh Suwardi kecil yang dulu mencangkul di sawah Sragen.
Bagian VIII : Pengabdian Tanpa Batas (2024–2026)
”Amanah di Puncak Karir”
Kini, di tahun 2026, pengabdian Dr. Suwardi telah merambah ke berbagai lini:
Kepala Madrasah MI Muhammadiyah Kota Madiun: Menata fondasi pendidikan dasar.
Badan Pembina Harian (BPH) UMMAD: Ikut menentukan arah kebijakan universitas.
MUI dan PDM Kota Madiun: Menjaga moralitas dan dakwah umat.
Wakil Rektor 2 UMMAD: Menjalankan amanah kepemimpinan tinggi di universitas kebanggaan Muhammadiyah.
Penutup : Filosofi Hidup
Dr. Suwardi telah membuktikan bahwa Qoswatul Qolbu (kerasnya hati) hanya bisa dilunakkan dengan ibadah dan ilmu. Dari seorang anak yatim yang tidur di lantai musholla, kini ia menjadi salah satu pilar intelektual di Madiun. Perjalanannya adalah pesan bagi generasi muda: “Jangan menyerah pada keadaan, karena Allah tidak merubah nasib suatu kaum kecuali mereka yang berjuang merubahnya sendiri.”





