Madiun – MBS Prof Hamka Kota Madiun menggelar Kajian Wali Santri Triwulan yang dilaksanakan di Kampus 1 (putra) dan Kampus 2 (putri), Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antara wali santri dan asatidz sekaligus dirangkaikan dengan agenda perpulangan santri.
Kepala SMP MBS Prof Hamka Imron Wafdurrahman mengatakan kajian wali santri triwulan menjadi ruang untuk mempererat komunikasi dan silaturahmi antara wali santri dengan asatidz. “Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan keterlibatan wali santri dalam mendukung pendidikan di MBS Prof Hamka,” terangnya.
Dalam agenda ini juga disampaikan rencana pembentukan Komite SMP MBS Prof Hamka sebagai upaya meningkatkan peran wali santri.
Menurut Imron, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam pendidikan santri. Orang tua, murid, dan guru merupakan tri sentra pendidikan yang perlu berjalan bersama untuk mendukung kemajuan MBS Prof Hamka.
Rencana pembentukan komite tersebut juga akan mencakup Komite SMP dan SMA MBS Prof Hamka. “Keberadaan komite menjadi ruang bagi wali santri untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan di MBS,” bebernya.
Penguatan Peran Orang Tua dalam Pendidikan
Sejalan dengan hal tersebut, Mudir MBS Prof Hamka Kota Madiun Rokhani Hidayat menyampaikan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi pendidikan santri, termasuk melalui doa, nasihat, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
“Orang tua mendoakan anak, anak juga mendoakan orang tua. Kalau ada yang tidak pas, saling menasihati,” tuturnya.
Rokhani juga mengingatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an menjadi salah satu pondasi yang diberikan kepada santri di MBS Prof Hamka. Ia mengutip keutamaan orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an sebagai bagian dari bekal penting bagi santri.
Menurutnya, pendidikan santri membutuhkan sinergi antara pondok dan keluarga. Pondok menjadi tempat menanamkan nilai dan kebiasaan, sedangkan orang tua memiliki peran melanjutkan dan menyiramnya ketika anak berada di rumah.
“Ketika mendidik bersama, di pondok ibaratnya kita menanam benih. Bapak dan Ibu di rumah menyirami, jadi saling bersinergi,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa jarak antara santri dan orang tua selama berada di pondok tidak berarti memutus kedekatan. Doa tetap menjadi penghubung antara keduanya.
“Setiap hafalan dan ilmu adalah hadiah terindah untuk orang tua. Menghafal Al-Qur’an, setiap huruf yang dibaca dan dihafalkan, pahalanya juga mengalir kepada orang tua,” ungkapnya.

Belajar dari Perjuangan Para Pendahulu
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kajian bersama Ustad Irfan Ma’ruf Maulana. Materi yang disampaikan berkaitan dengan sejarah dan keteladanan para pendahulu.
Ustad Irfan mengajak wali santri melihat perjuangan orang-orang terdahulu, termasuk perjuangan orang tua para ulama dalam mendidik anak-anak mereka. Kisah tersebut menjadi bagian dari refleksi bagi orang tua dalam menjalankan peran pendidikan di keluarga.
Yayuk Dwiningsih, salah satu wali santri, mengaku senang putrinya mondok di MBS Prof Hamka. Menurutnya, lingkungan pondok memberikan pengalaman pendidikan yang tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga pembiasaan keagamaan dan kemandirian.
“Bahkan putri kami mengakui sangat senang bisa mondok di MBS. Di sini nyaman,” ungkapnya.
Kehadiran para wali santri dalam kajian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan sinergi antara keluarga dan MBS Prof Hamka dalam mendampingi pendidikan santri.
Kegiatan kemudian ditutup dengan perpulangan santri. (Sri Mulyani)






