SMA Negeri 3 Madiun pada era 1990-an merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri yang cukup dikenal di Kota Madiun, Jawa Timur. Saat itu, sekolah ini masih berstatus SMA Negeri biasa (belum berubah menjadi SMAN 3 Taruna Angkasa seperti sekarang), dan lokasinya berada di kawasan yang meliputi Jalan H. Agus Salim (terutama pada masa awal) serta Jalan Suhud Nosingo sebagai lokasi utama sekolah pada dekade tersebut. Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Madiun tahun 1998 (masuk 1995), saya sengaja melewati Jalan Suhud Nosingo, sepulang dari sebuah acara di kampus Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD).
Pada awal berdirinya (1966), SMA Negeri 3 Madiun dimulai sebagai kelas jauh/filial dari SMA Negeri 1 Madiun, dengan gedung awal menempati bekas sekolah Tionghoa di Jalan H. Agus Salim No. 39, Madiun. Lokasi ini berada di kawasan yang relatif sentral dan ramai pada masa itu, dekat dengan pusat kota dan akses transportasi umum. Gedungnya masih terawat sampai sekarang. Namun, seiring perkembangan, pada tahun 1975 sekolah mendapatkan tanah dan bangunan baru dari Pemerintah Kotamadya Madiun di Jalan Suhud Nosingo. Inilah lokasi yang menjadi “rumah” utama SMA Negeri 3 Madiun sepanjang tahun 1980-an hingga akhir 1990-an, sebelum akhirnya pindah ke Jalan Ringroad Barat pada periode kemudian.Tahun 1990-an adalah masa transisi Indonesia menuju era Reformasi, dan hal itu juga terasa di lingkungan sekolah-sekolah negeri seperti SMAN 3 Madiun. Saya masih ingat saat Pemilu 1997, para siswa dikerahkan untuk ikut kampanye Golongan Karya. Sebuah mobilisasi yang lazim di masa Orde Baru. Segelintir siswa ada yang ikut kampanye Mega Bintang yang sedang naik daun tahun 1997, secara sembunyi-sembunyi.
Kawasan Jalan Suhud Nosingo saat itu masih tergolong sepi, kecuali di jam berangkat dan pulang sekolah; jalanannya tidak terlalu lebar, lalu lintas relatif tenang dibandingkan arteri utama kota, dengan banyak rumah penduduk, beberapa toko kelontong, dan warung makan sederhana di sekitarnya. Salah satunya berada di pojok Jalan Nanas, lainnya berada di sisi timur sekolah. Bangunan sekolah di Jalan Suhud Nosingo pada masa itu relatif sederhana namun fungsional: gedung utama berbentuk huruf U atau L dengan kelas-kelas standar, lapangan upacara yang cukup luas (sering digunakan untuk apel pagi dan kegiatan ekstrakurikuler), serta area parkir sepeda yang selalu penuh. Olahraga umumnya dilakukan di kompleks Stadion Wilis yang masih old fashioned style. Kompleks sekolah menghadap ke selatan. Saat ini, menghadap ke timur dan berganti menjadi SMAN 6 Madiun.
Ketika akhir 1990-an menjelang tahun 2000-an, sekolah mulai mempersiapkan diri untuk perkembangan lebih besar, yang kemudian berujung pada transformasi menjadi SMAN 3 Taruna Angkasa dengan kerjasama TNI AU dan perpindahan lokasi ke Ringroad Barat. Bekas SMAN 3 di Jalan Suhud Nosingo digunakan untuk SMAN 6 Madiun. Namun, periode di Jalan Suhud Nosingo tetap menjadi babak emas dalam ingatan banyak orang: masa ketika sekolah ini benar-benar menjadi “rumah kedua” bagi generasi muda Madiun di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman. Zaman dimana telepon genggam belum merenggut waktu, dan relasi tatap muka. Di Jalan Suhud Nosingo, ingatan akan tetap terawat.
Fajar Junaedi, alumni SMAN 3 Madiun (1995-1998).





