Jejaring Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Madiun dan Ngawi di Tahun 1939

Sebuah pemberitaan di De Locomotief 02 September 1939 mengabarkan berita tentang utusan Muhammadiyah, dan ‘Aisyiyah Madiun datang ke Ngawi untuk pengembangan Muhammadiyah di Ngawi. Berjudul Rapat Terbuka Muhammadiyah. Berikut adalah isi beritanya :

Pada hari Kamis yang lalu, tanggal 31 Agustus, cabang Pemuda dan Aisyiyah (organisasi wanita Muhammadiyah) mengadakan rapat terbuka di rumah Tuan Karjodjoemeno di kampung Pasar-Sore. Rapat ini dihadiri oleh sekitar 150 orang.Sekitar pukul 09.00 pagi, rapat dibuka oleh ketua cabang Aisyiyah Ngawi, yaitu Ny. H. Abd. Goni, dengan kata sambutan. Selanjutnya, Ny. Soekisni membacakan beberapa ayat dari Al-Qur’an, yang dibacakan dari terjemahan bahasa Jawa beserta beberapa komentarnya.Kemudian, Ny. Mansoer dari Madiun menyampaikan materi dengan tema “Perempuan dan Zaman Modern”.

Tema ini sangat relevan, menarik, dan aktual, sehingga disimak dengan penuh perhatian oleh hadirin.Selanjutnya, Ny. Gondosoewirjo naik ke mimbar dan memberikan ceramah singkat bertema “Perempuan Islamis”.Sebagai pembicara terakhir, Ny. Koesmenen tampil dengan tema “Aisyiyah”.Sekitar pukul 11.30 pagi, ketua rapat menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada semua peserta.Acara berlangsung dengan tertib dan penuh semangat

Konteks : Teks asli menggunakan ejaan lama Belanda (seperti “mevr.” = mevrouw = Nyonya, “v.m.” = voor de middag = pagi sebelum tengah hari, dll.), sehingga terjemahannya disesuaikan agar terdengar alami dalam bahasa Indonesia modern. Konteks dari berita di atas bisa diuraikan sebagai berikut. Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta, dengan tujuan memurnikan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, serta memajukan pendidikan dan sosial umat. Perkembangannya pesat di Jawa, termasuk Jawa Timur, di mana cabang-cabang mulai berdiri setelah 1914, seperti di Surabaya, kemudian meluas ke daerah lain. Di wilayah Madiun dan sekitarnya, Muhammadiyah pertama kali diperkenalkan melalui kunjungan KH Ahmad Dahlan pada 1922, yang diundang oleh pengurus Sarekat Islam setempat untuk memberikan tabligh akbar.

Cabang Muhammadiyah Madiun resmi berdiri pada 1924, didukung oleh aktivis pergerakan Islam dan priyayi lokal, dengan kegiatan awal seperti pertemuan umum pada 21 September 1924 yang mirip pengajian terbuka. Sementara itu, cabang Ngawi didirikan pada 1925, tak lama setelah Madiun, sebagai bagian dari ekspansi Muhammadiyah di Jawa Timur. Berita rapat terbuka Muhammadiyah di Ngawi pada 31 Agustus 1933 (yang jatuh pada hari Kamis, sesuai dengan “Donderdag” dalam teks Belanda) mencerminkan perkembangan lanjutan organisasi ini di daerah tersebut. Rapat yang melibatkan cabang Pemuda dan Aisyiyah (organisasi wanita Muhammadiyah, didirikan 1917), dengan pembicara dari Madiun seperti Ny. Mansoer, menunjukkan jaringan kuat antar-cabang di Madiun-Ngawi. Ini terjadi di masa kolonial Belanda, di mana Muhammadiyah aktif dalam dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan, seperti tema “Perempuan dan Zaman Modern” yang dibahas, yang relevan dengan upaya modernisasi Islam di tengah pengaruh Barat. Kegiatan semacam ini membantu memperkuat basis Muhammadiyah di pedesaan Jawa Timur, yang hingga 1927 telah memiliki puluhan cabang dan “gerombolan” (istilah ini di masa lalu merujuk pada kelompok kecil). Secara keseluruhan, berita ini mengilustrasikan bagaimana Muhammadiyah di Madiun dan Ngawi berkembang dari pendirian awal 1920-an menjadi organisasi yang aktif menggelar acara publik pada 1930-an, berkontribusi pada pergerakan Islam reformis di Indonesia pra-kemerdekaan. (FJ)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top