Bioskop Apollo, atau yang dikenal sebagai Apollo Theater atau Bioscoop Apollo, merupakan bioskop pertama di Madiun dan salah satu yang tertua di Jawa Timur. Gedung ini berdiri sejak 1911, lebih tua dari pembentukan Gemeente Madioen (kotapraja Madiun) pada 1918. Lokasinya strategis di sudut Jalan Pandan dan Jalan Alun-alun Utara, tepat di utara alun-alun kota, menjadikannya landmark hiburan era kolonial.Didirikan oleh seorang warga Belanda bernama L. Knuverlder, bioskop ini awalnya dirancang tidak hanya sebagai tempat menonton film bisu, tapi juga sebagai venue serbaguna. Selain pemutaran film, Apollo sering digunakan untuk pertunjukan seni seperti opera Barat dan kesenian tradisional Jawa. Pada masa itu, aksesnya sangat eksklusif—terutama untuk kalangan Eropa dan bangsawan—mencerminkan segregasi sosial di Hindia Belanda. Nama “Apollo” sendiri terinspirasi dari dewa matahari dan seni dalam mitologi Yunani, simbol kemewahan dan modernitas.Pada 1930-an, kepemilikan sempat berada di tangan L. Knuverlder (dicatat sebagai pemilik antara 1930-1936).
Sebuah berita di koran De locomotief edisi 14 April 1934 mengabarkan hal ini dalam berita berjudul Bioskop Baru. Pembukaan kembali bioskop. Hari ini akan menjadi tempat pembukaan kembali dari Apollo-theater di alun-alun. Teater ini akan dieksploitasi oleh Tuan J. Bennnewitz dari Jogja. Tuan B. tersebut sudah memiliki 2 bioskop yang sedang dieksploitasi, yaitu di Jogja dan Modjokertok, selain itu ia juga mengelola sebuah usaha hotel di Solo.Apollo-theater telah sepenuhnya direnovasi dan dimodernisasi. Sebagai pertunjukan pembukaan, akan diputar film “Don Quichotte de la Mancha”. Selanjutnya, pada hari Minggu tanggal 15 bulan ini, pukul 10 pagi dan pukul setengah 5 sore, akan diadakan dua pertunjukan khusus anak-anak, dengan film utama “Grock”, si badut terkenal. Seluruh hasil dari kedua pertunjukan anak-anak tersebut akan disumbangkan ke Kas dari Werklozencomité di Madioen
Kemudian, sebelum kemerdekaan Indonesia, gedung berpindah ke tangan seorang warga keturunan Tionghoa, yaitu anak dari Njoo Swie Lian, Kapitan Cina Madiun sejak 1912. Perubahan kepemilikan ini menandai transisi dari dominasi Belanda ke komunitas Tionghoa yang aktif dalam bisnis hiburan.Salah satu momen penting dalam sejarahnya tercatat dalam koran Belanda lama: pada suatu hari (kemungkinan sekitar 1920-an atau 1930-an), Apollo mengalami renovasi total dan modernisasi. Pengelolaannya diambil alih oleh Tuan J. Bennnewitz dari Yogyakarta, yang sudah memiliki dua bioskop di Jogja dan Mojokerto, serta usaha hotel di Solo. Pembukaan kembali ditandai dengan pemutaran film “Don Quichotte de la Mancha” sebagai pertunjukan perdana. Selain itu, diadakan dua sesi khusus anak-anak pada Minggu tanggal 15, menampilkan film “Grock” tentang badut terkenal, dengan hasil penjualan tiket disumbangkan ke kas komite pengangguran (Werklozencomité) di Madioen—menunjukkan peran sosial bioskop di masa sulit.
Pasca-kemerdekaan Indonesia, nama Apollo dinasionalisasi menjadi Bioskop Arjuna sekitar tahun 1953. Penamaan “Arjuna” kemungkinan merujuk pada tokoh pahlawan Pandawa dalam Mahabharata—simbol keberanian dan keindahan—atau Gunung Arjuna di Jawa Timur, mengikuti pola penamaan bioskop lokal seperti Bioskop Lawu. Di era 1980-an hingga awal 1990-an, Arjuna mencapai puncak kejayaan: tiket murah (Rp600-800), tiga sesi harian, dan penonton hingga 800 orang per hari. Film Barat, Indonesia, hingga dewasa diputar, menjadi tempat kumpul generasi muda meski tanpa AC.

Sayangnya, seperti bioskop tradisional lain di Indonesia, Arjuna mulai meredup sejak akhir 1990-an. Penyebab utama adalah munculnya VCD bajakan, ekspansi televisi swasta pasca-Reformasi 1998, dan kemudian era streaming. Bioskop tutup permanen pada 2002, setelah sekitar 20 tahun layar tergulung. Gedung seluas sekitar 1.500 m² kini menjadi gudang gerobak pedagang kaki lima, meski struktur bangunannya masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu.Bioskop Apollo/Arjuna bukan sekadar tempat hiburan; ia mencerminkan evolusi Madiun dari kota kolonial menjadi kota modern Indonesia. Dari eksklusivitas Belanda, transisi kepemilikan Tionghoa, hingga masa keemasan pasca-kemerdekaan, gedung ini menyimpan cerita tentang bagaimana sinema menyatukan orang dalam kegelapan ruangan—sebelum teknologi baru mengubah segalanya. Kini, di tengah alun-alun yang ramai, ia tetap menjadi pengingat nostalgia akan era ketika “gambar idoep” (gambar hidup) menjadi keajaiban bagi warga Madiun.
Menjadi menarik jika bioskop ini direvitalisasi sebagai tempat pemutaran film oleh komunitas dan ruang publik untuk kesenian, seperti bioskop Permata di Yogyakarta yang tengah direvitalisasi.
Fajar Junaedi (dosen Ilmu Komunikasi UMY, dan tim pengembang UMMAD Madiun)





