Adab dan Keutamaan Berinteraksi dengan Keluarga

Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I

Adab dan Keutamaan Berinteraksi dengan Keluarga

​1. Keluarga sebagai Barometer Kebaikan Seseorang

Landasan utama dalam berakhlak adalah bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:

​خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

​(Khayrukum khayrukum li-ahlihi wa ana khayrukum li-ahli)

​Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

​Paragraf ini menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritualnya di masjid atau sikapnya di depan publik, melainkan dari konsistensi kebaikannya saat berada di rumah. Rasulullah ﷺ menjadikan dirinya sebagai standar tertinggi dalam memberikan kasih sayang dan keadilan kepada keluarga, sehingga setiap Muslim dituntut untuk meneladani perilaku tersebut sebagai bentuk kesempurnaan iman.

​2. Ikatan Amal Antara yang Hidup dan yang Wafat

Hubungan kekeluargaan dalam Islam melampaui batas dunia hingga ke alam barzakh. Berdasarkan hadits dari Jabir ibnu Abdullah, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa segala amal perbuatan kita di dunia ini akan dipaparkan kepada kerabat yang telah mendahului kita.

​إِنَّ أَعْمَالُكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقْرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا: اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ

​Artinya: “Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan keluarga kalian di dalam kubur mereka. Jika amal perbuatan kalian itu baik, maka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan kalian itu sebaliknya (buruk), mereka berdoa: ‘Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) untuk mengamalkan ketaatan kepada-Mu’.”

​Melalui penjelasan ini, kita memahami bahwa perilaku shaleh yang kita lakukan bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tua dan keluarga yang telah wafat. Sebaliknya, saat kita tergelincir dalam dosa, mereka merasa sedih namun tetap mendoakan kebaikan bagi kita. Hal ini memotivasi kita untuk terus berbuat baik sebagai bentuk “kiriman” kebahagiaan bagi mereka.

​3. Larangan Menyakiti Keluarga Atas Dasar Sumpah

Islam juga mengatur agar seseorang tidak menggunakan alasan agama atau sumpah untuk melegalkan tindakan yang merugikan keluarganya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

​مَنْ اسْتَلَجَّ فِي أَهْلِهِ بِيَمِينٍ فَهُوَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ

​(Manistallajja fii ahlihi bi-yamiinin fahuwa a’zhamu itsman ‘indallaah)

​Artinya: “Siapa yang bersumpah (dan bersikeras) dalam hal yang membahayakan keluarganya, maka hal itu adalah dosa yang lebih besar di sisi Allah.”

​Dalam hadis ini ditekankan bahwa seorang Muslim tidak boleh bersikap keras kepala (ananiyah) dengan menggunakan sumpah demi membenarkan tindakan yang menyakiti atau mengabaikan hak-hak keluarganya. Jika seseorang terlanjur bersumpah untuk melakukan sesuatu yang ternyata buruk bagi keluarganya, maka ia diperintahkan untuk membatalkan sumpah tersebut (dengan membayar kafarat) karena menjaga kemaslahatan keluarga jauh lebih dicintai Allah daripada memelihara sumpah yang salah

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top