Dr. Suwardi Rosyid, M.Pd.I
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kekuatan untuk melangkahkan kaki ke Masjid Baiturrohim Margobawero dalam rangka menunaikan shalat Subuh berjamaah yang diberkahi ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah shalat Subuh yang dirahmati Allah, pada fajar yang penuh berkah ini, kita akan mentadaburi sebuah tema yang sangat krusial bagi perjalanan spiritual dan intelektual seorang muslim, yaitu tentang “Ilmu yang Penting dan Keutamaannya”. Seringkali manusia terjebak dalam perlombaan duniawi untuk mengumpulkan harta, hingga melupakan bahwa ada investasi yang jauh lebih abadi dan menyelamatkan, yaitu ilmu syar’i.
Dalil Al-Qur’an tentang Keutamaan Ilmu
Allah SWT telah menegaskan dalam banyak ayat mengenai tingginya derajat orang-orang yang berilmu dibandingkan mereka yang tidak berilmu. Salah satu dalil yang paling utama adalah firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa iman dan ilmu adalah dua sayap yang mengangkat posisi seorang hamba, baik di mata Allah maupun di tengah-tengah makhluk-Nya. Derajat yang ditinggikan ini bukan hanya penghormatan di dunia berupa kemuliaan akhlak dan penghormatan manusia, melainkan juga tempat yang tinggi dan mulia di surga kelak.
Dalil Hadis: Ilmu yang Menjaga, Harta yang Dijaga
Menyambung ayat di atas, Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang warisan hakiki yang beliau tinggalkan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh, para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham (harta), melainkan mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”
Terkait perbandingan antara ilmu dan harta, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA memberikan sebuah nasihat emas yang sangat masyhur kepada muridnya, Kumail bin Ziyad. Ali RA berkata:
”Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan kamulah yang harus menjaga harta. Ilmu adalah hakim (penguasa), sedangkan harta adalah yang dihakimi (dikuasai). Harta akan berkurang jika dinafkahkan, sedangkan ilmu akan bertambah (berkembang) jika diamalkan.”
Penjelasan dari perkataan sahabat Ali RA ini sangat mendalam. Ketika seseorang memiliki ilmu, ilmu tersebut bertindak sebagai benteng perisai yang menjaga pemiliknya dari kesesatan, maksiat, dan syubhat. Sebaliknya, orang yang memiliki harta justru diperbudak oleh hartanya sendiri; ia harus menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengunci pintu, menyewa pengawal, dan memikirkan investasi agar hartanya tidak hilang atau dicuri.
7 Perbedaan Pemilik Ilmu dan Pemilik Harta Menurut Ibnu Abbas
Dalam khazanah literatur Islam, khususnya yang dinukil dan dijelaskan dalam Kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, terdapat ulasan mendalam mengenai dialog atau penjelasan dari Sahabat Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) RA. Beliau merinci secara sistematis perbedaan mendasar antara orang yang mengumpulkan ilmu (pemilik ilmu) dan orang yang sibuk mengumpulkan harta (pemilik harta).
Berikut adalah 7 perbedaan utama di antara keduanya:
Perbedaan Pertama: Ilmu adalah Warisan Para Nabi, Harta adalah Warisan Para Raja
Pemilik ilmu memperoleh warisan yang paling mulia di muka bumi, yaitu warisan para Nabi dan Rasul yang membawa petunjuk serta cahaya. Sementara itu, pemilik harta hanyalah mewarisi tradisi para raja, firaun, dan orang-orang kaya terdahulu (seperti Qarun) yang dunianya bersifat fana dan seringkali melalaikan.
Perbedaan Kedua: Ilmu Menjaga Pemiliknya, Pemilik Harta Menjaga Hartanya
Sesuai dengan nasihat Sayyidina Ali, ilmu bertindak sebagai pelindung spiritual dan intelektual bagi pemiliknya agar tidak tergelincir ke dalam dosa. Sebaliknya, pemilik harta dibebani kewajiban fisik dan pikiran untuk menjaga aset, menjaga brankas, dan mengawasi kekayaannya agar tidak berkurang.
Perbedaan Third: Pemilik Harta Memiliki Banyak Musuh, Pemilik Ilmu Memiliki Banyak Teman
Kekayaan seringkali memicu kecemburuan, dendam, dan kedengkian dari orang lain, sehingga pemilik harta dikelilingi oleh orang-orang yang mengincar hartanya (musuh dalam selimut). Sebaliknya, pemilik ilmu yang mengamalkan ilmunya akan dicintai, dihormati, dan dicari banyak orang karena memberikan manfaat serta solusi bagi kehidupan.
Perbedaan Keempat: Harta Berkurang jika Dibelanjakan, Ilmu Bertambah jika Diajarkan
Secara matematis duniawi, harta yang terus-menerus dikeluarkan akan habis dan berkurang. Namun, ilmu memiliki sifat yang berkebalikan (anomali spiritual); semakin sering ilmu itu diajarkan, didiskusikan, dan diamalkan, maka ia akan semakin menancap kuat di dalam dada dan pemahaman pemiliknya justru akan semakin luas.
Perbedaan Kelima: Pemilik Harta Dipanggil dengan Nama Kehormatannya yang Fana, Pemilik Ilmu Dipanggil dengan Penghormatan yang Mulia
Pemilik harta biasanya dihormati hanya karena faktor eksternal (kekayaannya), dan penghormatan itu sirna seketika saat hartanya habis. Sementara pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan yang agung dan mulia (seperti ulama, kiai, ustadz) karena esensi substansi dirinya, bahkan mereka tetap didoakan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan di lautan.
Perbedaan Keenam: Pemilik Harta Akan Dihisab Secara Ketat, Pemilik Ilmu Akan Memberikan Syafaat
Di akhirat kelak, setiap rupiah dari harta akan ditanya dari mana didapatkan dan ke mana dibelanjakan (hisab yang panjang dan rumit). Sedangkan pemilik ilmu yang ikhlas, ilmunya akan meringankan perjalanannya di akhirat, bahkan Allah memberikan otoritas kepada para ulama dan ahli ilmu untuk memberikan syafaat kepada orang lain atas izin-Nya.
Perbedaan Ketujuh: Harta Akan Mati Bersama Pemiliknya, Ilmu Tetap Hidup Walau Pemiliknya Telah Tiada
Ketika seorang miliarder meninggal dunia, hartanya langsung terputus dan beralih menjadi hak waris yang tidak lagi membawa manfaat langsung di kuburnya (kecuali yang disedekahkan). Namun, bagi seorang alim, meskipun jasadnya telah tertimbun tanah berabad-abad yang lalu, ilmu yang ia tulis dan ajarkan tetap mengalirkan pahala yang tiada putus-putus (amal jariyah).
Penutup dan Doa
Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah, dari penjelasan Al-Qur’an, Hadis, serta mutiara hikmah dari Ibnu Abbas RA di atas, jelaslah bagi kita bahwa mengejar ilmu jauh lebih utama daripada sekadar menumpuk harta. Ilmu yang penting di sini adalah ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah (khasyyah), ilmu yang memperbaiki ibadah kita, serta ilmu yang menuntun kita menuju keselamatan akhirat.
Semoga Allah SWT menjadikan kita dan keluarga kita sebagai hamba-hamba yang haus akan ilmu, istiqamah dalam menuntutnya, serta diberikan kekuatan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari demi memakmurkan Masjid Baiturrohim dan lingkungan Margobawero ini.
Barakallahu lii wa lakum.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh





