Fajar Junaedi, sekretaris Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan wakil rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT)
Jersey olahraga kampus sering dipandang sebatas seragam kegiatan atau kelengkapan pertandingan. Padahal, jersey adalah teras sebuah perguruan tinggi. Ketika mahasiswa, dosen, atau tim olahraga tampil di lapangan, di event, atau bahkan di media sosial, jersey adalah yang pertama kali dilihat publik saat dipakai.
Sayangnya, masih banyak kampus yang belum memperlakukan jersey sebagai bagian dari identitas dan strategi branding. Banyak perguruan tinggi masih menganggap jersey sebagai kebutuhan teknis belaka. Desainnya generik, bahan kurang nyaman, potongan tidak pas, logo kampus hanya ditempel tanpa konsep, dan kualitasnya cepat pudar setelah beberapa kali dicuci.
Yang lebih buruk lagi, bahan jersey yang tidak layak menjadikannya bau keringat saat dipakai beraktivitas. Akibatnya, jersey tidak membangkitkan kebanggaan. Mahasiswa enggan memakainya di luar pertandingan, komunitas kampus tidak merasa terwakili, dan publik tidak melihat representasi identitas yang kuat dari kampus. Semakin ironis lagi ketika pejabat kampus mengenakan jersey yang ala kadarnya. Citra kampus secara public relations, akan ikut redup dengan jersey ala kadarnya yang dikenakan.
Padahal di era visual seperti sekarang, tampilan fisik, termasuk apparel, ikut membentuk persepsi terhadap kualitas institusi.Jersey kampus seharusnya berfungsi sebagai identitas. Warna, motif, logo, tipografi, dan detail bahan dapat merangkum nilai-nilai kampus: profesionalisme, kebersamaan, semangat olahraga, dan karakter institusi. Jersey yang layak juga menjadi alat branding.
Jersey yang Buruk, Merchandise yang Kacau
Tidak terkelolanya jersey kampus sejurus dengan merchandise kampus yang berantakan. Tiada brand guideline dalam pembuatan merchandise, sehingga tampilan visual kampus sebagai brand tidak konsisten. Sebuah perbandingan adalah Filipina. Saat saya mengunjungi Universitas Ateneo Manila, sebuah toko merchandise menyediakan berbagai pernak-pernik kampus dengan dominan warna biru dan putih. Salah satu yang paling menarik adalah jersey basket. Basket adalah olahraga paling populer di negara kepulauan ini. Tim basket kampus menjadi kebanggaan mahasiswa, dosen, dan alumni.

Toko merchandise di Universitas Ateneo, Manila Filipina. Jersey kampus yang elok dan berbagai pernak-pernik ada di sini.
Bukan hanya di toko merchandise yang berada di kampus. Di Mall of Asia, yang konon mall terbesar di Asia Tenggara, jersey dan atribut lain dari tim basket kampus dengan mudah ditemukan. Saya menemukan berbagai atribut dari Universitas Ateneo, Universitas Filipina, dan Universitas Santo Thomas. Bandingkan dengan mall di Indonesia. Tentu akan sulit menemukan jersey dari tim olahraga kampus.
Jersey menjadi penandaan yang membedakan satu kampus dari kampus lain, memperkuat rasa memiliki di kalangan civitas akademika. Pesona jersey merambat ke luar melalui foto pertandingan, konten media sosial, atau kehadiran di turnamen. Kampus yang serius merancang jersey sesungguhnya sedang berinvestasi pada imaji positif, bukan sekadar pengadaan seragam.
Kolaborasi dengan Apparel
Untuk meningkatkan kualitas jersey kampus, kerjasama dengan apparel adalah kunci. Kolaborasi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dengan Almer menjadi terobosan yang layak diapresiasi. UNISA dikenal sebagai kampus yang peduli pada kesehatan, karena mulanya adalah sekolah tinggi kesehatan. Almer, brand apparel Yogyakarta yang dikenal dengan desain orisinal, perhatian pada detail, bahan berkualitas, dan pengalaman merancang jersey untuk berbagai unit kegiatan mahasiswa futsal, serta klub sepakbola.
Kolabotasi semacam ini menandai pergeseran cara pandang. Kampus tidak lagi hanya memesan jersey murahan dengan desain seadanya, melainkan berkolaborasi dengan pihak yang memahami desain, material, dan makna identitas. Hasilnya diharapkan bukan hanya nyaman dipakai saat olahraga, tetapi juga layak menjadi bagian dari citra UNISA sebagai kampus elegan, rapi, dan berkarakter.
Ini sejalan dengan semangat branding kampus yang utuh, yaitu akademik, nilai, dan tampilan visual berjalan bersama. Langkah UNISA dan Almer bisa menjadi model bagi kampus lain. Jersey yang dirancang dengan konsep, bahan yang baik, dan identitas yang jelas akan memperkuat kebanggaan internal sekaligus memperluas pengenalan kampus di ruang publik.
Identitas tidak hanya tertulis di visi-misi atau logo resmi, namun juga dikenakan, dikenali, dan dikenang setiap kali sivitas akademika tampil.Pada akhirnya, perhatian terhadap jersey yang layak adalah perhatian terhadap cara kampus memandang dirinya sendiri. Kolaborasi UNISA Yogyakarta dan Almer menunjukkan bahwa branding kampus bisa dimulai dari hal yang tampak sederhana, tetapi berdampak nyata: pakaian yang dikenakan dengan bangga. Ketika jersey tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai identitas, kampus sedang membangun citra yang lebih utuh dan berkesinambungan.
Ketika jersey kampus dikelola dengan baik, jersey bukan hanya pengadaan yang dibagi-bagi, melainkan lebih dari itu. Mahasiswa, dosen, tendik, alumni, bahkan masyarakat umum akan membeli jersey sebagai bentuk kebanggaan.





