Membaca Ingatan  Tiga Jari, Tiga Warna dalam Desain Poster Jogja Memanggil

Gibbran Prathisara (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan)

Aksi Aliansi Jogja Memanggil pada Rabu (28/10/2026) tidak hanya ramai di jalan. Sebelum massa berkumpul, sebuah poster lebih dulu beredar di media sosial dan menjadi penanda visual aksi tersebut.

Poster yang diunggah akun Instagram @jogjamemanggilofficial ini tampil dengan desain yang ringkas. Tiga pita warna hijau, biru, dan merah berjajar tegak. Di tengahnya, sebuah tangan mengacungkan salam tiga jari, sementara kawat berduri melilit pergelangannya.

Unggahan tersebut hanya disertai tiga emoji bulat berwarna hijau, biru, dan merah tanpa keterangan tambahan. Meski minim penjelasan, poster ini disukai lebih dari 1.700 akun dalam sehari.

Warna yang sama juga muncul dalam bentuk stiker di sejumlah tiang listrik di Yogyakarta. Namun, seorang warganet melaporkan bahwa banyak poster tiga warna di jalan telah dicopot.

Di balik tampilannya yang sederhana, poster ini menyimpan lapisan ingatan yang saling bertaut. Ingatan itu datang dari film Hollywood, tribun sepak bola, dan sejarah Sumpah Pemuda. Susunan desainnya pun memperlihatkan pilihan visual yang terukur.

Tiga lapis ingatan dalam satu bingkai

Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs memandang ingatan sebagai sesuatu yang dibentuk bersama. Seseorang mengingat sebagai bagian dari kelompoknya, entah keluarga, kampung, kampus, maupun tribun stadion.

Jan Assmann kemudian membedakan memori komunikatif dan memori kultural. Memori komunikatif hidup dalam percakapan sehari-hari dan bertahan sekitar tiga generasi. Sementara memori kultural tersimpan dalam simbol, ritus, dan monumen yang bertahan jauh lebih lama.

Poster Jogja Memanggil memadukan keduanya. Salam tiga jari berasal dari layar bioskop, tiga warna lahir dari tribun, dan tanggal aksi merujuk pada sejarah bangsa.

Salam tiga jari, ingatan dari layar

Salam tiga jari dikenal luas melalui film The Hunger Games. Dalam film tersebut, warga Distrik 12 menggunakannya sebagai salam khas yang menandai rasa terima kasih sekaligus perpisahan. Penonton kemudian memaknainya sebagai simbol perlawanan terhadap Capitol.

Makna itu lalu berpindah ke dunia nyata. Aktivis prodemokrasi Thailand menggunakannya untuk melawan junta militer sejak 2014, disusul gerakan protes di Myanmar pada 2021.

Fenomena ini dekat dengan gagasan prosthetic memory dari Alison Landsberg. Media massa memungkinkan seseorang memiliki ingatan atas pengalaman yang tidak pernah dialaminya secara langsung. Generasi muda Indonesia tentu tidak pernah hidup di Panem, tetapi mereka mengenali Capitol sebagai gambaran kekuasaan yang serakah.

Di Indonesia, gestur ini memiliki riwayat yang cukup berliku. Jokowi pernah menggunakannya pada 2014 sebagai salam persatuan. Ganjar Pranowo juga memakainya dalam kampanye 2023, lengkap dengan iringan musik ala film. Melalui poster Jogja Memanggil, salam tiga jari kembali ke tangan massa.

Tangan dalam poster pun digambarkan tanpa identitas. Tidak ada wajah, warna kulit, ataupun nama. Pilihan ini membuat siapa pun dapat merasa terwakili oleh tangan tersebut.

Tiga warna, ingatan dari tribun

Berbeda dengan salam tiga jari, tiga warna dalam poster ini berakar pada budaya lokal. Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY, menjelaskan bahwa warna tersebut berasal dari dunia suporter sepak bola. Biru identik dengan PSIM Jogja, hijau dengan PSS Sleman, dan merah dengan Persiba Bantul serta Persis Solo.

Kelompok suporter ini sebelumnya dikenal sebagai rival. Setelah tragedi Kanjuruhan, mereka mengikrarkan perdamaian yang dikenal dengan sebutan Mataram Islah.

Tragedi Kanjuruhan sendiri masih menjadi luka bersama sepak bola Indonesia. Pada 1 Oktober 2022, 135 orang meninggal setelah gas air mata ditembakkan di stadion di Malang.

Dalam kerangka Assmann, ikrar damai ini merupakan memori komunikatif. Ingatan itu hidup dalam nyanyian tribun dan percakapan antarsuporter, belum tercatat dalam buku sejarah. Melalui poster, ingatan tersebut berpindah dari tribun ke ruang politik.

Kawat berduri dalam poster pun dapat dibaca lebih dari satu cara. Selain mengingatkan pada barikade aparat, kawat itu juga dapat menyiratkan pagar stadion. Tafsir ini belum dikonfirmasi pembuat poster, tetapi terbuka bagi pembaca yang membawa ingatan tersebut.

Penggunaan warna suporter juga memperluas jangkauan pesan. Menurut Fajar, publik mengenali warna itu sebagai kode yang akrab di kalangan suporter, tidak hanya sebagai identitas kampus.

Sumpah Pemuda yang tidak disebut

Tanggal dalam poster hanya ditulis dalam angka, 28.10.26. Tidak ada keterangan Oktober, apalagi Sumpah Pemuda. Pembaca diajak menyambungkan sendiri rujukan tersebut.

Sumpah Pemuda 1928 merupakan ingatan kultural paling mapan tentang persatuan di Indonesia. Saat itu, pemuda dari berbagai daerah dan organisasi mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.

Poster ini menghadirkan pola serupa dalam skala lokal. Jika dulu ada Jong Java dan Jong Sumatranen Bond, kini ada suporter PSIM, PSS, Persiba, dan Persis yang berdiri dalam satu bingkai. Salam tiga jari pun dapat dibaca ulang sebagai tiga butir ikrar.

Di sini, masa lalu tidak sekadar dikenang. Ingatan dipanggil kembali untuk memberi legitimasi pada tindakan hari ini.

Membedah desain dengan tata bahasa visual

Selain menyimpan ingatan, poster ini menarik dibaca dari sisi desain. Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, melalui buku Reading Images (2006), menawarkan tata bahasa visual untuk membaca gambar. Menurut keduanya, sebuah gambar bekerja pada tiga tingkat makna: representasional, interaksional, dan komposisional.

Pada tingkat representasional, poster ini tergolong gambar konseptual. Tidak ada adegan atau aksi yang sedang berlangsung. Tangan hadir sebagai simbol, bukan sebagai tokoh dalam cerita. Satu-satunya vektor yang kuat adalah arah tangan yang menjulang ke atas, berhadapan dengan kawat yang melintang mendatar.

Pada tingkat interaksional, poster ini tidak menghadirkan tatapan. Dalam istilah Kress dan van Leeuwen, gambar semacam ini bersifat offer, yakni menawarkan sesuatu untuk diamati. Namun, judul “Jogja Memanggil” justru bekerja sebagai demand yang menyapa pembaca secara langsung. Ajakan dalam poster ini datang dari kata, bukan dari tatapan.

Tangan ditampilkan dalam bidikan dekat dan sudut frontal. Jarak yang dekat membangun keintiman, sedangkan sudut frontal mengajak pembaca untuk terlibat. Sementara itu, modalitas naturalistiknya rendah. Warna dibuat pekat dan rata, tangan digambar sebagai garis hitam di atas bidang putih. Poster tidak berusaha meniru kenyataan, tetapi menyusun gagasan.

Pada tingkat komposisional, susunan poster mengikuti prinsip nilai informasi. Bagian atas disebut ranah ideal, sedangkan bagian bawah adalah ranah riil. Judul dan tanggal menempati bagian atas sebagai panggilan dan janji. Kawat berduri berada di bagian bawah sebagai kenyataan represi. Tangan berdiri di antara keduanya, seakan menjembatani kenyataan menuju cita-cita.

Tiga pita vertikal juga membentuk pola pusat dan pinggiran. Pita biru di tengah menjadi pusat, tempat tangan berdiri. Hijau dan merah mengapit sebagai pinggiran. Kress dan van Leeuwen menyebut susunan ini triptik, dengan unsur tengah berperan sebagai penengah. Pembacaan ini sejalan dengan semangat islah, ketika warna-warna yang dulu berseteru ditengahi dalam satu bidang.

Unsur yang paling menonjol jelas adalah tangan. Warnanya putih, ukurannya besar, dan kontrasnya paling tinggi. Gradasi gelap di tepi pita hijau dan merah turut menggiring mata ke tengah, mirip sorot lampu dalam poster film.

Terakhir, soal pembingkaian. Ketiga pita dipisahkan oleh batas yang tegas, menandakan identitas yang berbeda. Namun, judul “Jogja Memanggil” melintang melewati batas ketiganya. Teks menjadi penghubung yang menyatukan bidang-bidang yang terpisah.

Kontravisualitas dan hak untuk melihat

Jika Kress dan van Leeuwen membantu membaca bagaimana poster ini disusun, Nicholas Mirzoeff membantu membaca untuk apa poster ini hadir. Dalam The Right to Look (2011), Mirzoeff membedakan visualitas dan kontravisualitas. Visualitas adalah cara kekuasaan mengatur apa yang boleh tampak. Kontravisualitas adalah upaya warga merebut hak untuk melihat dengan caranya sendiri.

Menurut Mirzoeff, visualitas bekerja melalui klasifikasi, pemisahan, dan estetisasi. Poster Jogja Memanggil dapat dibaca sebagai upaya menolak ketiganya.

Klasifikasi tampak ketika massa aksi diberi label, mulai dari mahasiswa, ojol, suporter, hingga perusuh. Poster ini menolak label tersebut dengan menghadirkan tangan anonim tanpa logo kampus maupun organisasi.

Pemisahan tampak dari rivalitas suporter yang lama dibiarkan. Poster justru menjajarkan tiga warna rival dalam satu bidang dan mengikatnya dengan satu judul.

Estetisasi biasanya membuat tatanan tampak wajar dan tidak perlu dipersoalkan. Poster ini membalik strategi tersebut. Estetika poster film dipinjam untuk menghadirkan perlawanan yang layak dilihat dan mudah disebarkan.

Ketika poster dicopot

Nasib poster di jalan melengkapi pembacaan ini. Laporan tentang pencopotan poster tiga warna menunjukkan bahwa ruang publik tetap menjadi arena perebutan. Hingga kini, belum jelas siapa yang mencopot poster tersebut.

Dalam kerangka Mirzoeff, pencopotan ini adalah bentuk visualitas yang paling kasatmata. Ruang kota ditertibkan, dan apa yang boleh terlihat ditentukan ulang.

Di sisi lain, stiker tiga warna tanpa tulisan menjadi siasat yang cerdik. Bagi orang yang lewat, stiker itu hanya tempelan warna. Namun bagi mereka yang membawa ingatan yang sama, warna tersebut adalah pesan yang jelas.

Perebutan serupa juga terjadi di ruang digital. Kolom komentar pada unggahan asli poster dibatasi, meski alasannya tidak diketahui.

Ingatan yang terus dibaca

Poster Jogja Memanggil memadatkan tiga ingatan dalam satu bingkai, yakni ingatan layar dari Panem, ingatan tribun dari Kanjuruhan dan Mataram Islah, serta ingatan bangsa dari 1928. Melalui susunan desain yang terukur, ketiganya hadir sebagai satu pesan yang utuh.

Menariknya, pembuat poster tidak pernah menjelaskan makna warna tersebut. Keterangan unggahannya hanya berisi tiga emoji. Makna justru dirangkai oleh pembaca, akademisi, dan media.

Poster ini memperlihatkan bahwa ingatan kolektif tidak diwariskan dalam bentuk jadi. Ingatan dibaca, ditafsirkan, dan diperebutkan, bahkan sampai ada yang mencopotnya dari tiang listrik.

Sumber

Rujukan teori

  • Assmann, J. (2008). Communicative and cultural memory. Dalam A. Erll & A. Nünning (Ed.), Cultural Memory Studies. De Gruyter.
  • Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. University of Chicago Press.
  • Kress, G., & van Leeuwen, T. (2006). Reading Images: The Grammar of Visual Design (Edisi ke-2). Routledge.
  • Landsberg, A. (2004). Prosthetic Memory: The Transformation of American Remembrance in the Age of Mass Culture. Columbia University Press.
  • Mirzoeff, N. (2011). The Right to Look: A Counterhistory of Visuality. Duke University Press.
Bagikan

Baca juga

Trending

Scroll to Top