Kokap, Kulon Progo — Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) LeX hadir di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, dengan mengusung konsep design thinking untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan nyata sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang sesuai dengan potensi lokal.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas negara yang melibatkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mahasiswa dari Singapura, serta mahasiswa dari Jepang. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa berperan sebagai pendamping dan fasilitator bagi masyarakat untuk menggali potensi, mengidentifikasi kebutuhan, serta mengembangkan solusi dan produk inovatif yang memiliki nilai tambah dan nilai jual.
KKN LeX diikuti oleh 24 mahasiswa UMY, 20 mahasiswa asal Singapura, dan 4 mahasiswa asal Jepang, serta didampingi oleh fasilitator dari kedua negara. Dari Singapura, fasilitator berasal dari Singapore Polytechnic, yakni Ms. Wong Sue Ting, Mr. Willie Tay, dan Mr. Tan Kah Keng. Sementara itu, fasilitator dari Jepang berasal dari Kanazawa Institute of Technology, yakni Mr. Muneaki Sakomoto dan Ms. Banda Kiyomi, serta Mr. Kurihara Junichi dari Hokkaido Information University.
Pelaksanaan kegiatan berlokasi di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, khususnya di Padukuhan Gunungkukusan dan Padukuhan Sangkrek. Masing-masing kelompok mahasiswa memiliki fokus pengembangan potensi produk lokal yang berbeda.
Kelompok yang berada di Padukuhan Gunungkukusan berfokus pada pengembangan produksi gula semut, sedangkan kelompok di Padukuhan Sangkrek berfokus pada produksi geblek. Kedua produk tersebut dikembangkan dengan pendekatan design thinking, mulai dari memahami kebutuhan masyarakat, mengidentifikasi persoalan, merumuskan ide, hingga menghasilkan prototipe atau inovasi yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Lurah Hargorejo, Bekti Murdiyanto, S.E., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat atas pelaksanaan kegiatan KKN LeX di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa Kalurahan Hargorejo memiliki sejumlah program pengembangan potensi masyarakat, salah satunya integrated farming system, yang di dalamnya juga mencakup pengembangan produk lokal seperti gula semut dan geblek.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa dari berbagai negara menjadi kesempatan berharga bagi masyarakat untuk mendapatkan perspektif, pengetahuan, serta pengalaman baru dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Bekti juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kolaborasi yang baru pertama kali dilaksanakan di Kalurahan Hargorejo. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelaksanaan KKN saja, tetapi dapat menjadi awal dari kerja sama yang berkelanjutan antara kalurahan, perguruan tinggi, serta mitra internasional.
Melalui KKN LeX, kolaborasi lintas negara diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan potensi lokal, serta pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mempertemukan pengetahuan akademik, kreativitas mahasiswa, dan pengalaman masyarakat dalam menciptakan inovasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan di tingkat desa.






