MADIUN – Rasa penasaran membuat sejumlah siswa MI Muhammadiyah Kota Madiun berani mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris.
Lawan bicara mereka bukan guru bahasa Inggris, melainkan seorang volunteer asal Argentina yang untuk pertama kalinya datang ke Indonesia.
Mrs. Lucia Pallotta berkunjung ke MI Muhammadiyah Kota Madiun atau MI Muhimma, Kamis (8/10/2026).
Kehadirannya menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris secara langsung dengan seorang native speaker.Interaksi berlangsung dalam suasana akrab.
Para siswa menanyakan berbagai hal tentang kehidupan Mrs. Lucia, mulai dari makanan yang disukai, hobi, hingga kegiatan sehari-hari.Percakapan yang berlangsung sederhana itu justru menjadi pengalaman belajar yang berarti.
Siswa tidak sekadar mempelajari kosakata atau struktur kalimat. Mereka menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam situasi nyata.
Cuti Kerja untuk Menjelajahi IndonesiaMrs. Lucia selama ini bekerja di Australia. Ia sengaja mengambil cuti untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia.
Kunjungan ke Madiun menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut. Selama berada di Indonesia, ia ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan budaya lokal.
Selain budaya, Mrs. Lucia juga memiliki perhatian terhadap bidang pendidikan dan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Karena itu, kunjungannya ke Madiun tidak hanya diarahkan untuk menikmati perjalanan, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat dari berbagai sisi.MI Muhimma menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya untuk melihat secara langsung aktivitas pendidikan dan berinteraksi dengan siswa.
Siswa Awalnya Ragu, Kemudian Mulai Bertanya
Kehadiran orang asing di lingkungan madrasah tentu menjadi pengalaman yang tidak setiap hari ditemui siswa.Beberapa siswa tampak antusias sejak awal pertemuan. Rasa ingin tahu mendorong mereka untuk berinteraksi. Setelah percakapan dimulai, siswa mulai mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris.
Topik yang dipilih pun dekat dengan kehidupan mereka.Ada yang ingin mengetahui makanan favorit Mrs. Lucia. Ada yang bertanya tentang hobinya. Ada pula yang penasaran dengan kegiatan yang dilakukannya selama melakukan perjalanan di Indonesia.
Bagi siswa, kesempatan tersebut menjadi latihan keberanian untuk berbicara tanpa terlalu khawatir melakukan kesalahan.
Pengalaman itu juga memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa asing dapat berlangsung melalui interaksi langsung. Siswa belajar mendengarkan pertanyaan, memahami respons, menyusun kalimat, kemudian menyampaikannya kepada lawan bicara.
Batik Menjadi Kenangan dari Madiun
Di penghujung kunjungan, Mrs. Lucia menerima cendera mata berupa batik.Ia tampak senang menerima pemberian tersebut.
Batik menjadi bagian dari cara MI Muhimma memperkenalkan budaya Indonesia kepada tamu dari luar negeri. Cendera mata itu juga menjadi kenangan dari perjalanan Mrs. Lucia di Madiun.
Bagi siswa, momen tersebut menunjukkan bahwa memperkenalkan budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Pemberian sebuah batik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas budaya Indonesia kepada orang dari negara lain.
Pembelajaran yang Berlangsung di Luar Buku
Kunjungan Mrs. Lucia memberikan pengalaman langsung bagi siswa MI Muhimma tentang pentingnya kemampuan komunikasi, keberanian, dan keterbukaan terhadap perbedaan budaya.
Siswa belajar bahwa kemampuan bahasa Inggris tidak hanya dibutuhkan untuk menjawab soal. Kemampuan tersebut juga diperlukan ketika mereka harus berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat upaya madrasah menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan nyata.
Di MI Muhimma, pengalaman belajar tidak selalu berlangsung melalui meja dan buku.
Pertemuan dengan orang dari berbagai latar belakang dapat menjadi ruang belajar tersendiri bagi siswa.Kunjungan seorang volunteer dari Argentina akhirnya menghadirkan pengalaman sederhana, tetapi bermakna.
Seorang tamu datang ke Madiun untuk mengenal Indonesia. Para siswa menyambutnya dengan rasa ingin tahu. Bahasa Inggris mempertemukan keduanya.
Dari sebuah percakapan, siswa belajar untuk berani membuka komunikasi dengan dunia yang lebih luas.
Bagi MI Muhimma, pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran nyata bahwa jendela dunia dapat dibuka dari lingkungan madrasah sendiri.





