Oleh: Agus Setiyono*)
Pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, sebuah gerakan lahir bukan dengan dentuman senjata, bukan pula dengan gegap gempita kekuasaan. Ia lahir dari kegelisahan intelektual, dari kesadaran spiritual, dan dari keberanian membaca zaman. Dalam hitungan kalender Miladiah, hari itu menjadi penanda berdirinya Muhammadiyah, sebuah persyarikatan yang sejak awal tidak sekadar ingin dikenal besar, tetapi ingin berguna.
Kini, di usia 117 tahun Hijriyah, perjalanan panjang itu telah menjelma menjadi mozaik peradaban yang sulit dipandang dengan ukuran biasa. Ada sekolah, rumah sakit, universitas, panti sosial, gerakan pemberdayaan, dakwah digital, hingga aksi-aksi kemanusiaan lintas batas negara. Sebagian orang menyebut Muhammadiyah sebagai “gajah gemuk”, sebuah metafora yang kadang dimaksudkan sebagai kritik: tubuh besar yang dianggap lamban bergerak, berat oleh beban, dan terlalu kompleks untuk lincah menghadapi perubahan zaman.
Namun realitas sering kali lebih jujur daripada prasangka.
Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Semakin besar Muhammadiyah, semakin luas pula jangkauan pengabdiannya. Ia tidak mengecil karena usia, tidak melemah karena banyaknya amal usaha, dan tidak runtuh hanya karena diterpa gelombang perubahan sosial. Bahkan dalam banyak hal, justru tampak semakin “menggurita” dengan inovasi-inovasi yang terus tumbuh di berbagai bidang kehidupan.
Barangkali di sinilah letak perbedaan antara organisasi yang sekadar besar dan gerakan yang hidup. Organisasi yang hanya mengejar ukuran biasanya sibuk menghitung tepuk tangan, sedangkan gerakan yang hidup sibuk memastikan lampu sekolah tetap menyala, rumah sakit tetap melayani, dan dakwah tetap menjangkau mereka yang nyaris putus harapan.
Karena itu, ketika ada yang menyebut Muhammadiyah sebagai ormas terbesar kedua setelah “saudara mudanya”, sesungguhnya tidak ada alasan untuk merasa kecil. Sebab Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun di atas ambisi menjadi paling ramai, melainkan menjadi paling bermanfaat. Kuantitas memang penting dalam konteks tertentu, tetapi sejarah membuktikan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh banyaknya massa, melainkan oleh kokohnya gagasan, ketulusan pengabdian, dan kesinambungan amal.
Dan Muhammadiyah tampaknya memahami benar satu hal penting: bahwa kepercayaan masyarakat tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi pelayanan.
Amal usaha terus berjalan. Sekolah tetap mendidik. Rumah sakit tetap melayani. Dakwah tetap bergerak. Bahkan dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, trust masyarakat dan negara terhadap Muhammadiyah justru semakin meningkat. Ini menjadi penanda bahwa keberadaan sebuah gerakan tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara tentang dirinya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan orang lain dari kehadirannya.
Tentu, sebagai organisasi sebesar Muhammadiyah, dinamika adalah sesuatu yang niscaya. Perbedaan pendapat, kritik internal, bahkan gesekan pemikiran merupakan bagian dari proses pendewasaan organisasi. Tidak ada pohon besar yang tumbuh tanpa diterpa angin. Justru organisasi yang terlalu sunyi dari perbedaan sering kali sedang kehilangan daya hidupnya.
Namun demikian, Muhammadiyah memiliki tradisi yang cukup matang dalam mengelola perbedaan. Sebab sejak awal persyarikatan ini dibangun bukan di atas kultus individu, tetapi di atas musyawarah dan ilmu pengetahuan. Perbedaan tidak selalu dianggap ancaman, melainkan ruang untuk saling menyempurnakan.
Di tengah zaman yang mudah gaduh, kemampuan untuk tetap teduh adalah kemewahan intelektual.
Mungkin memang ada sebagian kecil orang yang lebih sibuk menghitung kekurangan Muhammadiyah daripada menghitung manfaatnya. Ada pula yang terburu-buru menyimpulkan hanya karena melihat riak kecil di permukaan. Padahal lautan yang luas tidak pernah kehilangan wibawanya hanya karena ombak sesaat.
Sebuah sindiran paling halus dalam kehidupan sosial hari ini adalah: banyak orang ingin terlihat besar dalam percakapan, tetapi enggan menjadi besar dalam pengabdian. Muhammadiyah memilih jalan yang berbeda. Ia tidak selalu sibuk menjadi viral, tetapi terus berusaha menjadi vital.
Dan agaknya, di situlah rahasia mengapa gerakan yang lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H itu tetap bertahan hingga kini. Ia tidak sedang mempertahankan nama semata, melainkan merawat cita-cita. Sebuah cita-cita tentang Islam yang mencerahkan, tentang ilmu yang memajukan, dan tentang dakwah yang menghadirkan kemaslahatan bagi semesta.
Usia 117 tahun Hijriyah tentu bukan usia yang singkat. Tetapi bagi gerakan yang dibangun di atas nilai, usia bukanlah tanda menua. Ia justru menjadi bukti bahwa idealisme yang dirawat dengan ilmu dan amal akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan di setiap zaman.
Wallahu a’lam bishshawab.
*) Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jambi




