Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun / Universitas Muhammadiyah Jawa Timur
Semakin banyak coffee shop bermunculan di Indonesia, mencatatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah gerai kopi terbanyak di dunia. Gerai kopi terus muncul dengan cepat, bahkan di tengah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sering membebani daya beli masyarakat. Bukan hanya trend gaya hidup, fenomena ini menunjukkan perilaku ekonomi yang serius.
Fenomena gerai kopi yang menjamur bisa dibaca dengan efek lipstik. Leonard Lauder, CEO Estée Lauder, adalah orang pertama yang menciptakan istilah efek lipstik ini pada masa resesi. Pengeluaran besar seperti mobil mewah, rumah, dan liburan mahal cenderung dikurangi saat ekonomi sulit. Namun demikian, konsumen terus membeli barang-barang kecil yang murah tetapi memberikan manfaat emosional, seperti lipstik.
Barang-barang kecil ini menjadi “kemewahan terjangkau” yang membantu orang tetap semangat dan percaya diri saat keadaan ekonomi sulit. Saat ini, secangkir kopi di coffee shop menggantikan “lipstik” di Indonesia. Budaya ngopi terus berkembang meskipun harga bahan bakar meningkat, yang berdampak langsung pada biaya logistik, transportasi, dan inflasi umum.
Konsumsi kopi di rumah tangga terus meningkat karena pertumbuhan kedai kopi yang sangat besar. Meskipun harga bahan baku dan energi terus melonjak, ratusan coffee shop baru telah dibuka di banyak kota, termasuk di Madiun, dan kota-kota di sekitarnya.Fenomena ini terjadi karena beberapa alasan.
Pertama, kopi menjadi barang mewah yang murah. Dengan harga mulai dari Rp 15.000 hingga Rp50.000 per gelas, orang-orang kelas menengah masih mampu membelinya sebagai cara untuk melepaskan diri dari tekanan inflasi, dan biaya transportasi yang naik.
Kedua, kafe bukan hanya tempat untuk minum kopi; namun kafe adalah tempat untuk bersosialisasi dan bekerja. Orang mencari tempat nyaman untuk bekerja dari jarak jauh, berkumpul dengan teman, mengadakan pertemuan bisnis kecil, atau sekadar melarikan diri dari rutinitas rumah yang terasa semakin mahal di tengah tekanan ekonomi. Lipstik melakukan hal yang sama—memberi kita rasa semangat tanpa menguras kantong kita.
Ketiga, tren ini sangat diperkuat oleh Gen Z dan milenial. Pengalaman lebih penting daripada memiliki barang berharga. Di era yang dikenal sebagai efek lipstik abadi, kopi spesialti, matcha latte, dan dessert di kafe menjadi “entry point” kemewahan abadi, bukan hanya selama krisis. Karena permintaan yang kuat dari pelanggan lokal, bisnis terus berkembang meskipun biaya biji kopi dan biaya operasional meningkat.
Tidak diragukan lagi, fenomena ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, munculnya banyak coffee shop mendorong ekonomi kreatif, menciptakan ribuan pekerjaan baru, dan meningkatkan nilai tambah kopi petani lokal. Di sisi lain, persaingan yang semakin ketat dapat menyebabkan banyak kedai tutup, sementara biaya operasional seperti listrik, sewa tempat, dan distribusi terus meningkat.
Secara keseluruhan, ledakan gerai kopi di tengah kenaikan harga BBM menunjukkan kemampuan konsumen Indonesia untuk bertahan dan mengubah perilaku. Di tengah ketidakpastian ekonomi yang luar biasa, masyarakat terus mencari kesenangan kecil. Ini seperti efek lipstik klasik.
Ini bukan hanya tren sementara; itu adalah pergeseran budaya yang mencerminkan cara kita menavigasi tantangan zaman: dengan secangkir kopi hangat, obrolan ringan, dan harapan bahwa esok hari akan lebih baik. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia selalu menemukan cara untuk tetap hidup meskipun dalam kesulitan, bahkan dengan aroma kopi yang menenangkan.





