China, Macau, dan Hong Kong –
Selama enam hari lima malam pada 23–28 Juni 2026, angkatan 22 Program MARS Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjalani residensi internasional yang membawa mereka ke jantung inovasi kesehatan Asia: rumah sakit rujukan tertua di China, pusat onkologi berskala dunia, hingga rumah sakit legendaris di Macau. Ini bukan sekadar wisata studi — ini adalah pengalaman transformatif yang mengubah cara mereka memandang masa depan rumah sakit Indonesia.
YOGYAKARTA, 6 Juli 2026 —
Selama enam hari lima malam pada 23 hingga 28 Juni 2026, puluhan mahasiswa Program Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menempuh perjalanan yang jarang dimiliki oleh program pascasarjana manajemen kesehatan di Indonesia. Rute mereka membentang dari Shenzhen, Guangzhou, Zhuhai, Macau, hingga Hong Kong. Tujuannya bukan sekadar mengenal budaya Asia Timur, melainkan menyelami langsung praktik terbaik manajemen rumah sakit kelas dunia.
Kegiatan bertajuk Residensi Internasional MARS UMY 2026 ini merupakan bagian dari kurikulum pascasarjana yang menekankan pembelajaran berbasis benchmarking global. Selama seminggu, mahasiswa melakukan kunjungan resmi ke tiga rumah sakit rujukan, bertemu dengan pimpinan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou, dan berdiskusi langsung dengan para pakar oncology dan pengobatan tradisional China.
Kunjungan Diplomasi ke KJRI Guangzhou
Sebelum memulai kunjungan klinis, rombongan MARS UMY disambut secara resmi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou. Konjen dan tim menjelaskan konteks hubungan bilateral Indonesia–China di sektor kesehatan, potensi kerja sama medis tourism, serta tantangan yang dihadapi warga negara Indonesia yang berobat ke China. Diskusi ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dimensi diplomasi kesehatan dalam manajemen rumah sakit modern.
Tiga Rumah Sakit, Tiga Pelajaran Berbeda
- Guangdong Provincial Hospital of Chinese Medicine — Warisan 93 Tahun Pengobatan Tradisional
Kunjungan pertama membawa rombongan ke Guangdong Provincial Hospital of Chinese Medicine (广东省中医院), salah satu rumah sakit pengobatan tradisional China tertua yang masih beroperasi hingga hari ini. Didirikan pada 14 Agustus 1933 dan berafiliasi dengan Guangzhou University of Chinese Medicine, rumah sakit ini adalah 3A tertiary hospital dengan lebih dari 3.000 tempat tidur dan 7.000 karyawan. Jumlah pasien yang dilayaninya menempati peringkat pertama di antara seluruh rumah sakit pengobatan tradisional China selama lebih dari dua puluh tahun berturut-turut, dan pada 2024 rumah sakit ini berada di peringkat kedua Ranking of Comprehensive Influence of Traditional Chinese Medicine Hospitals in China.
Mahasiswa MARS UMY diajak melihat bagaimana rumah sakit ini berhasil mengintegrasikan pengobatan tradisional China dengan standar tata kelola modern. Rumah sakit ini juga memiliki kerja sama internasional dengan Karolinska Institute Swedia, serta kemitraan medis dengan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Italia. Bagi mahasiswa yang biasa bekerja di lingkungan rumah sakit berbasis kedokteran modern, kunjungan ini membuka wawasan tentang bagaimana warisan budaya dapat menjadi keunggulan kompetitif — bukan penghambat modernisasi.
- Guangzhou Fuda Cancer Hospital — Pusat Onkologi Berskala Dunia
Kunjungan kedua sekaligus yang paling padat secara akademik adalah ke Guangzhou Fuda Cancer Hospital (广州复大肿瘤医院). Didirikan pada tahun 2003 dan berafiliasi dengan Jinan University, rumah sakit ini menjadi rujukan utama minimally invasive oncology di Asia. Fuda telah melayani pasien dari lebih dari 100 negara — termasuk lebih dari 10.000 pasien dari Asia Tenggara — dan sejak tahun 2014 memegang akreditasi Joint Commission International (JCI).
Yang membuat Fuda begitu istimewa adalah kombinasi tiga faktor. Pertama, dominasi teknologi: hingga 2015 rumah sakit ini telah melakukan lebih dari 10.000 prosedur Argon-Helium Cryoablation — jumlah tertinggi di dunia. Pada 2019, Fuda melengkapi 500 prosedur NanoKnife, terbanyak di Asia. Kedua, model layanan internasional yang unik: dipimpin oleh Dr. Liu Zhengping, International Department Fuda mengelola navigasi pasien lintas negara dengan dukungan multilingual dan bahkan memiliki kantor perwakilan di Jakarta. Ketiga, integrasi riset dan pendidikan: Fuda adalah Asia-Pacific training center untuk minimally invasive oncology, dengan physician-scientist terkemuka seperti Prof. Xu Kecheng, peraih Bethune Medal, dan Prof. Niu Lizhi.
Dalam presentasinya, tim manajemen Fuda memaparkan konsep unik “The Fuda Synergy Diamond” — sinergi empat elemen: Technological Dominance, International Patient Service Hub, JCI-Standardized Operations, dan Integrated R&D. Bagi mahasiswa MARS UMY, yang paling menarik adalah bagaimana Fuda membuktikan bahwa Multidisciplinary Team (MDT) meeting bukan sekadar rapat rutin. Setiap sesi MDT di Fuda menggantikan kurang lebih lima konsultasi terpisah per pasien, dengan penghematan sekitar USD 6.000 per kasus. Ini adalah pelajaran berharga tentang efisiensi tata kelola oncology yang langsung dapat diadaptasi di rumah sakit Indonesia.
- Kiang Wu Hospital Macao —Warisan 155 Tahun Rumah Sakit Nirlaba yang membangun Kesehatan Masyarakat
Kunjungan ketiga membawa rombongan menyeberang jembatan legendaris Hong Kong-Zhuhai-Macau Bridge, salah satu jembatan laut terpanjang di dunia, menuju Kiang Wu Hospital (鏡湖醫院) — rumah sakit tertua dan terbesar di Macau. Didirikan pada tahun 1871 oleh komunitas Tionghoa perantauan dan dikelola hingga hari ini oleh Kiang Wu Charitable Association, rumah sakit ini menjadi contoh langka bagaimana sebuah rumah sakit nirlaba mampu bertahan lebih dari satu setengah abad sambil tetap menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan bagi sekitar 40 persen penduduk Macau.
Kiang Wu memiliki nilai historis yang istimewa. Di rumah sakit inilah Dr. Sun Yat-sen — Bapak Revolusi Tiongkok modern — memulai praktik kedokteran barat pertamanya pada tahun 1892. Warisan ini masih terasa di setiap sudut kompleks rumah sakit, tempat sejarah, akademik, dan pelayanan modern berjalan berdampingan. Kiang Wu juga menaungi Kiang Wu Nursing College yang berdiri sejak 1923, salah satu institusi pendidikan keperawatan tertua di kawasan.
Yang membuat kunjungan ini bermakna khusus bagi mahasiswa MARS UMY adalah model tata kelolanya. Sebagai rumah sakit yang beroperasi di bawah bendera charitable association, Kiang Wu membuktikan bahwa institusi nirlaba dapat mencapai kualitas pelayanan setara rumah sakit komersial, sekaligus mengintegrasikan kedokteran modern dengan pengobatan tradisional China secara harmonis. Diskusi juga menyoroti bagaimana Kiang Wu mengelola populasi lokal Macau yang padat sambil menyerap wisatawan medis dari Guangdong dan Hong Kong.
Bagi calon manajer rumah sakit Muhammadiyah di Indonesia — yang secara filosofis juga berbasis nilai kemanusiaan, keumatan, dan pelayanan publik — model Kiang Wu menjadi cermin yang sangat relevan. Rumah sakit yang berdiri di atas nilai bukan hanya bisa bertahan, tetapi bisa memimpin.





