MADIUN – Rektor Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT atau UM Jatim) sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) menjadi penceramah dalam Kajian Ahad Pagi Islamic Center Madiun (ICM), Ahad, 2 Agustus 2026.
Di hadapan muslim dan muslimat peserta Kajian Ahad Pagi, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah tersebut menyampaikan tema kajian Islam Berkemajuan: Keniscayaan untuk Meraih sukses hidup dunia Akhirat
Dalam 10 menit pertama menyampaikan kajian, Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut menghadirkan pemahaman mengenai nikmat iman.
“Nikmat Iman ini dalam banyak hadist menyebutkan, dari banyak nikmat yang dikategorikan nikmat paling besar itu adalah iman,” ujar Bendaraha PWM Jawa Tengah tersebut.
Disampaikan Prof. Sofyan Anif, Rasulullah mengatakan, iman hanya bisa dijaga dengan ilmu. Lalu ia bercerita, pada suatu saat didalam masjid Nabawi Madinah, seorang sahabat melihat ada majelis ilmu dan majelis zikir yang sedang beraktifitas di dalam masjid,
Karena bingung harus mengikuti yang mana, sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah apakah ikut kelompok majelis ilmu atau majelis zikir.
Rasul sejenak berfikir ternyata jawab rasul memberi jawaban dengan perspektif jauh ke depan. Kata Rasulullah kedua duanya baik. Tetapi sambil telunjuk rasul menunjuk ke majelis ilmu, menunjukan majelis lebih baik,memberi makna kehidupan, Bukan berarti majelis dzikir tidak baik.Kedua-duanya baik, datang ke dua majelis itu baik,” kata Prof.Sofyan Anif.
Prof.Sofyan Anif melanjutkan, sahabat tersebut merasa kurang mantap dengan jawaban nabi karena menurut sahabat itu, mestinya rasul lebih memilih majelis zikir karen adi majelis zikir dapat memperbanyak shalawat nabi, maka mestinay Rasulullah menunjuk ke majelis zikir.
“Kenapa (memilih majelis ilmu) ya Rasulullah? Rasulullah menjawab karena disitu ada proses belajar dari orang yang tahu kepada orang yang tidak tahu. Diakhir jawaban, Rasulullah mengatakan, ‘saya diutus Allah semata mata mengajarkan ilmu’. Maka rasul berdiri dari duduknya memegang si fulan sahabat tadi diajak bersama-sama duduk di majelis ilmu,” ujar Prof.Sofyan Anif.






