Secangkir Kopi di Lereng Wilis: Menyusuri Jejak Rasa Tertua Madiun

Gunung Wilis yang menjulang di perbatasan Kabupaten Madiun, Jawa Timur, tidak hanya menawarkan keindahan alam pegunungan yang asri dan udara sejuk. Di lerengnya, khususnya di Kecamatan Kare, tersimpan potensi wisata yang semakin menonjol: wisata kopi. Kombinasi antara kebun kopi bersejarah, cita rasa unik, dan suasana alam yang menenangkan menjadikan kawasan ini destinasi menarik bagi pecinta kopi sekaligus pencinta alam.Kopi di lereng Wilis memiliki sejarah panjang.

Menurut penuturan warga setempat, tanaman kopi sudah dibudidayakan sejak sekitar tahun 1883 di Perkebunan Kandangan pada masa kolonial Belanda. Beberapa menyebutnya sebagai salah satu kopi tertua di Indonesia. Hingga kini, petani di Desa Kare dan sekitarnya terus mengembangkan budidaya di lahan yang mencapai ratusan hektare. Produksi tahunan mencapai puluhan hingga ratusan ton biji kopi glondong. Jenis yang dominan adalah robusta, namun tersedia juga arabika, fine robusta, liberica, serta excelsa yang lebih unik. Ada pula robusta lanang atau peaberry yang bernilai lebih tinggi.

Cita rasa kopi Kare atau Kopi Wilis khas. Banyak yang menggambarkan adanya sentuhan rempah-rempah yang lembut, didukung oleh ketinggian sekitar 700–1.000 meter di atas permukaan laut serta kondisi tanah dan iklim lereng gunung. Proses pengolahan dilakukan secara tradisional hingga semi-modern di rumah-rumah produksi lokal. Biji kopi diolah menjadi green bean, roasted bean, hingga bubuk siap seduh. Harga oleh-oleh relatif terjangkau: robusta sekitar Rp15.000 per 100 gram, robusta lanang Rp25.000, arabika Rp30.000, dan excelsa Rp35.000.Wisata kopi di kawasan ini tidak berdiri sendiri sebagai kebun tur yang formal, melainkan menyatu dengan daya tarik alam dan desa wisata.

Destinasi utama adalah Desa Wisata Kare dengan fasilitas Sekar Wilis Camping Ground dan Sekar Wilis Resto. Di sini, pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Kare sambil duduk di tengah udara pegunungan yang segar, menikmati jajanan tradisional seperti getuk, kemplangan, atau jadah bakar. Tempat ini juga berfungsi sebagai basecamp pendakian menuju Puncak Liman Gunung Wilis. Fasilitas camping ground dilengkapi kamar mandi, mushola, area selfie, dan Wi-Fi, cocok untuk keluarga, kelompok sekolah, maupun pendaki.

Aktivitas edukasi kopi semakin tersedia. Pengunjung dapat belajar proses dari panen hingga penyajian, melihat pengolahan di rumah produksi petani, atau sekadar bersantai di resto sambil menikmati pemandangan hijau. Pada akhir pekan, pasar desa sering digelar, menawarkan produk lokal.

 Kawasan Selingkar Wilis juga didukung pengembangan infrastruktur sehingga akses semakin mudah. Desa Wisata Kare bahkan meraih prestasi, termasuk juara dalam ajang pariwisata tingkat kabupaten dan masuk daftar Anugerah Desa Wisata Indonesia.Selain pengalaman sensorik, wisata kopi di lereng Wilis memberikan dampak ekonomi positif. Petani mendapatkan nilai tambah dari pengolahan sendiri dan penjualan langsung kepada wisatawan.

Investor mulai melirik potensi ini untuk pengembangan pabrik pengolahan. Kegiatan wisata mendukung pemberdayaan masyarakat melalui BUMDes dan UMKM kopi lokal yang produknya sudah menembus kota-kota besar.Kunjungan ke lereng Wilis Madiun menawarkan lebih dari sekadar menyesap kopi. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, secangkir kopi Kare yang dinikmati di bawah langit pegunungan menjadi pengalaman yang menenangkan sekaligus autentik. Dengan terus dikembangkan secara berkelanjutan, wisata kopi di lereng Gunung Wilis berpotensi menjadi salah satu unggulan agrowisata Jawa Timur yang memadukan rasa, alam, dan budaya setempat.

Penmaru UMMAD

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top