Yogyakarta ~ Mahasiswa Konsentrasi Broadcasting angkatan 2023 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta akan menyelenggarakan PARADOKS 9: Parade Dokumenter 2026 pada Jumat, 17 Juli 2026, mulai pukul 15.00 WIB di Institut Français d’Indonésie atau IFI Yogyakarta.
PARADOKS merupakan ruang pemutaran, apresiasi, dan diskusi film dokumenter mahasiswa yang telah diselenggarakan sejak 2017. Memasuki edisi kesembilan, kegiatan ini menghadirkan sembilan film yang merekam persoalan kemanusiaan, ruang publik, keluarga, tradisi, dan lingkungan melalui sudut pandang para pembuat film muda.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan kurikulum Outcome-Based Education (OBE) dalam Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter. Mahasiswa menjalani proses pembelajaran mulai dari riset, pengembangan gagasan, produksi, penyuntingan, hingga pemutaran dan diskusi karya bersama publik.
Dosen Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, Budi Dwi Arifianto, S.Sn., M.Sn., mengatakan bahwa PARADOKS menempatkan film sebagai hasil pembelajaran sekaligus bentuk pertanggungjawaban mahasiswa kepada penonton.
“Melalui PARADOKS, mahasiswa belajar bahwa dokumenter bukan sekadar tugas kuliah. Mereka harus melakukan riset, memahami subjek, bekerja dalam tim, dan menyampaikan realitas secara bertanggung jawab. Film kemudian dipertemukan dengan publik agar mahasiswa belajar menerima apresiasi, kritik, dan berdiskusi mengenai persoalan yang mereka angkat,” ujar Budi.
Kemanusiaan, Solidaritas, dan Ruang untuk Pulang
Film 1 Jam Sembilan, Warung Pak Bos, dan Blue Hoursmenghadirkan cerita tentang kepedulian, pertemanan, dan perjuangan menemukan ruang untuk pulang. Jalanan Yogyakarta selepas tengah malam, warung sederhana yang menjadi tempat singgah mahasiswa, serta kehidupan anak muda di perantauan memperlihatkan bahwa rasa aman dapat tumbuh dari orang-orang yang bersedia menolong, menerima, dan memahami tanpa menghakimi.
Ketimpangan dan Identitas di Ruang Publik
Stop Parkir Pungli dan Ketika Malam Tiba mengajak penonton melihat kembali kehidupan di ruang publik. Praktik parkir liar ditampilkan sebagai persoalan yang memengaruhi kenyamanan masyarakat dan keberlangsungan UMKM. Sementara itu, kehidupan seorang pengamen Malioboro membuka pemahaman bahwa seseorang tidak dapat dinilai hanya dari pekerjaan dan penampilannya.
Ablasio dan Painting Prayers berangkat dari pengalaman personal pembuat film dalam memahami keluarga, kehilangan, dan percakapan yang belum selesai. Kamera, arsip, dan ingatan menjadi jalan untuk membuka kembali pengalaman yang selama ini tersimpan. Kedua film tersebut mengajak penonton menyadari pentingnya keberanian untuk berbicara sekaligus kesediaan untuk mendengarkan.
Tradisi, Spiritualitas, dan Alam
Tahlilan Tembang Jawa dan Tumpang Sari merekam pengetahuan yang hidup melalui tradisi masyarakat. Tahlilan dengan tembang Jawa memperlihatkan harmoni antara nilai keislaman, budaya lokal, doa, dan kebersamaan. Sementara itu, kehidupan Mbah Ngatirin di hutan kopi menunjukkan bahwa merawat alam merupakan bagian dari menjaga keberlanjutan hidup manusia.
Sembilan Film, Satu Ruang Percakapan
Melalui sembilan karya tersebut, PARADOKS 9 menawarkan pengalaman menonton yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi menyimpan persoalan sosial dan kemanusiaan yang lebih luas. Penonton tidak hanya diajak menyaksikan film, tetapi juga berdiskusi langsung bersama para pembuatnya.
Rangkaian acara terdiri atas tiga sesi pemutaran, diskusi film, dan pemberian nominasi kepada karya-karya terpilih. Kegiatan ini terbuka bagi mahasiswa, akademisi, komunitas film, pegiat budaya, dan masyarakat umum.






