Rumah Tahanan Militer Madiun: Merawat Sejarah, Menyembuhkan Luka

Di pinggir Jalan Ahmad Yani, Kota Madiun, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah enggan bicara. Dindingnya yang tebal dan kusam, jeruji besi yang sudah keropos, serta halaman yang ditumbuhi semak liar menyimpan cerita panjang tentang kekuasaan, perlawanan, dan ironi sejarah. Inilah bekas Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun, peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1818 (beberapa sumber menyebut awal abad ke-20).  

Bangunan seluas sekitar 3.800 meter persegi ini pernah menjadi penjara negara bagi mereka yang dianggap “membahayakan” kekuasaan. Kini, setelah puluhan tahun ditinggalkan sejak 1980-an, Pemerintah Kota Madiun sedang merancangnya menjadi destinasi wisata heritage. Namun di balik rencana revitalisasi itu, tersimpan kisah getir: tempat yang dulu dipakai penjajah untuk memenjarakan pejuang kemerdekaan, kemudian justru digunakan pemerintah sendiri untuk menahan tokoh-tokoh bangsa.Dari Penjara Kolonial ke Kamp JepangPada masa Hindia Belanda, RTM Madiun berfungsi sebagai penjara bagi tahanan politik dan pemberontak.

Arsitekturnya yang kokoh dengan dinding tebal dan sel-sel kecil mencerminkan filosofi penjajahan: mengisolasi dan mematahkan semangat perlawanan.  Ketika Jepang datang pada 1942, bangunan ini berubah fungsi menjadi kamp konsentrasi bagi orang-orang Eropa. Setelah Proklamasi 1945, ia tetap menjadi tempat penahanan, kali ini di tangan Republik Indonesia yang masih muda. Pada era Orde Lama dan Orde Baru, RTM Madiun (serta fasilitas serupa di Madiun) kerap digunakan untuk menahan tahanan politik, subversif, hingga mereka yang dianggap terlibat G30S/PKI.

Tokoh paling menonjol yang pernah mendekam di RTM Madiun adalah Sutan Syahrir (atau Sjahrir), Bapak Bangsa, Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, dan tokoh intelektual pergerakan kemerdekaan.  Pada 16 Januari 1962, di tengah maraknya Demokrasi Terpimpin Soekarno, Syahrir ditangkap bersama sejumlah tokoh oposisi. Tuduhannya: terlibat komplotan subversif dan rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Bersamanya ditahan tokoh-tokoh terkemuka seperti, Mohammad Roem (tokoh Masyumi), Prawoto Mangkusasmito (Ketua Masyumi), Soebadio Sastrosatomo (PSI), Anak Agung Gde Agung dan beberapa tokoh lain.

Mereka mula-mula ditahan di Jakarta (Mess CPM dan Jalan Daha). Setelah sekitar tiga bulan, pada April 1962, Syahrir dan kelompoknya dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer Madiun (beberapa catatan menyebut lokasi di Jalan Wilis). Kondisi di Madiun relatif lebih “manusiawi” dibanding penjara Jakarta. Beberapa tahanan mendapat kamar yang cukup luas. Ada akses ke lapangan tenis dan kolam renang umum beberapa jam dalam seminggu. Sipir bersikap lebih longgar. Malam hari mereka bermain bridge, scrabble, atau sekadar bercakap-cakap. Mohammad Roem bahkan dijuluki “Pak Lurah” oleh sesama tahanan karena perannya sebagai koordinator.Namun bagi Syahrir, suasana itu tak mampu menghapus beban batin. Ia yang sudah berkeluarga merasa sangat menderita karena terpisah dari istri dan anak-anaknya.

Berbeda dengan masa pengasingan kolonial di Boven Digoel atau Banda Neira—saat ia masih bujangan—kali ini ia merasakan “siksaan spiritual” yang lebih berat. Ia sering menyendiri, merenung sambil memandangi foto keluarga. Tekanan darahnya naik tajam. Akhirnya, pada akhir 1962, ia dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta untuk perawatan.Ada kisah kecil yang menggambarkan karakternya. Suatu malam makan bersama, Sultan Hamid II bercanda soal adat Minangkabau yang matrilineal. Syahrir tersinggung, berdiri diam tanpa sepatah kata, lalu meninggalkan meja. Suasana langsung tegang. Roem sebagai “juru damai” harus turun tangan.

Penahanan Syahrir dan kawan-kawannya tanpa proses pengadilan yang adil menjadi simbol kegelapan Demokrasi Terpimpin. Tokoh-tokoh yang pernah berjasa besar bagi kemerdekaan Indonesia justru dijebloskan ke penjara yang dibangun penjajah. Syahrir sendiri, yang pernah memimpin perundingan Linggarjati dan Renville, yang menolak kompromi dengan kekuatan kolonial, harus merasakan dinginnya jeruji di negeri yang ia bantu lahirkan.Setelah peristiwa G30S 1965, beberapa tahanan politik lain (termasuk sebagian dari kelompok sebelumnya atau yang serupa) juga sempat berada di fasilitas penahanan di Madiun. Namun nama Syahrir tetap yang paling kuat melekat pada RTM Madiun di benak masyarakat.

Kini, lebih dari enam dekade kemudian, bangunan itu kembali menjadi perbincangan. Pemkot Madiun berencana menjadikannya wisata heritage, bagian dari jalur sejarah kota. Revitalisasi ini penting, bukan sekadar untuk pariwisata, melainkan sebagai pengingat: kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah asing, tetapi juga menjaga agar kekuasaan sendiri tidak menindas anak bangsanya sendiri.Di balik dinding tua RTM Madiun, ada pelajaran tentang harga sebuah keyakinan. Sutan Syahrir dan para tokoh yang pernah mendekam di sana mengajarkan bahwa perjuangan untuk demokrasi dan kebebasan berpendapat tidak pernah benar-benar selesai—bahkan di negeri yang sudah merdeka.Rumah tahanan itu kini sunyi. Tapi jika dindingnya bisa bicara, ia akan bercerita tentang seorang pria kecil berwawasan luas yang pernah duduk di sana, merindukan keluarganya, sambil tetap memegang teguh idealismenya.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan tim pengembang Universitas Muhammadiyah Madiun (Universitas Muhammadiyah Jawa Timur)

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top