Kyai Cepu: Sastra Profetik Jawaban atas Stigma Seni sebagai Alat Kemunkaran

Yogyakarta – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Dahlan Culture Festival dengan menghadirkan Kyai Cepu sebagai pembicara utama dalam sesi bertajuk sastra profetik sebagai media dakwah. Acara ini digagas untuk merespons keresahan sebagian masyarakat yang kerap memandang karya seni mulai dari musik, gamelan, hingga wayang sebagai sesuatu yang haram dan mengarah pada kemaksiatan.
​Mengawali paparannya, Kyai Cepu membagikan kisah masa mudanya. Ia menceritakan pengalaman mendirikan Yayasan Almustadafin sebelum berangkat menempuh studi di Rusia, tempat ia sempat membina komunitas pekerja seks yang terpinggirkan, termasuk mendampingi anak-anak mereka mengaji dan menyediakan mushola sebagai ruang berlindung. Ketika kesempatan beasiswa doktoral datang, ia harus meninggalkan komunitas tersebut, dan pengalaman itu rasa kehilangan sekaligus pertanyaan tentang ketiadaan negara bagi kelompok marjinal kemudian menjadi benih puisi yang ia tulis di Moskow. Dari pengalaman itu, ia menegaskan pandangannya bahwa dakwah melalui sastra tidak harus selalu dibungkus dalil secara eksplisit, melainkan cukup menghadirkan pencerahan bagi kemanusiaan.
​Kyai Cepu juga mengungkap pengalamannya berselisih pendapat dengan Ustadz Adi Hidayat perihal hukum musik, yang sempat menjadi bahan perbincangan luas di media sosial. Ia menyampaikan pandangan bahwa syair dan puisi pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari unsur musikal. Akibat polemik tersebut, ia mengaku dibatasi membahas topik musik dalam berbagai kesempatan dakwahnya, sebuah kondisi yang menurutnya mencerminkan gejala pengkultusan tokoh di internal organisasi.
Ia mengingatkan pentingnya merujuk pada pesan QS At-Taubah ayat 31 sebagai bentuk kewaspadaan agar umat tidak jatuh pada penuhanan tokoh yang mengaburkan esensi tauhid. Menurutnya, sastra Islam yang autentik adalah sastra yang membawa perbaikan moral, bukan yang menumbuhkan pemujaan berlebihan terhadap individu tertentu. Membandingkan posisinya dengan pandangan sejumlah sastrawan seperti Ayu Utami yang menekankan kebenaran bersifat relatif, Kyai Cepu menyatakan keyakinannya pada kebenaran mutlak sebagai pijakan hidup dalam perspektif Islam. Pandangan inilah yang ia sebut sebagai gagasan sastra profetik.
Merujuk pada kerangka Ilmu Sosial Profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo, ia menguraikan tiga pilar utama: humanisasi atau upaya memanusiakan manusia, transendensi sebagai wujud keimanan kepada Allah, dan liberalisasi yang membuka ruang bagi penyampaian kebenaran. Ketiganya, menurutnya, merupakan pelaksanaan mandat QS Ali Imran ayat 110 tentang kewajiban umat terbaik untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran, sekaligus mendorong bentuk humanisme yang berpusat pada Tuhan (teosentris), bukan sekadar humanisme sekuler.
Kyai Cepu turut mengisahkan diskusinya dengan sutradara Hanung Bramantyo mengenai hakikat seni. Jika Hanung memandang seni sebagai alat propaganda, Kyai Cepu meyakini seni sebagai instrumen dakwah. Ia mencontohkan film biografi KH Ahmad Dahlan yang menampilkan adegan sang tokoh bermain biola sebuah detail yang belum tentu terjadi secara faktual, namun berfungsi sebagai penciptaan realitas naratif untuk menghidupkan nilai dan pesan yang lebih besar. Menurutnya, elemen kreatif semacam ini bukan pemalsuan sejarah, melainkan strategi bertutur agar kisah tetap hidup dan bermakna bagi penontonnya.
Kyai Cepu menutup paparannya dengan menegaskan bahwa sastra profetik bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan wujud keberpihakan dan doa yang terejawantahkan dalam laku nyata. Ia mengajak audiens untuk terus menulis dan berdakwah demi mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan ke tempat semestinya.

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top