Di tengah hiruk-pikuk Kota Madiun, Jawa Timur, aroma kacang tanah sangrai yang wangi bercampur kencur dan daun jeruk purut seolah menyambut siapa saja yang melintas. Itulah pecel Madiun—hidangan sederhana namun kaya rasa yang telah menjadi identitas kota yang dijuluki “Kota Pendekar” dan “Kota Pecel” ini. Bukan sekadar makanan, pecel Madiun adalah warisan budaya yang telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2022.
Pecel bukanlah hidangan baru. Catatan sejarah menyebutkan keberadaannya sudah sejak abad ke-9 Masehi, pada era Kerajaan Mataram Kuno di bawah Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Nama “pecel” muncul dalam Kakawin Ramayana, Prasasti Taji (Ponorogo, 901 M), Prasasti Siman (Kediri), Babad Tanah Jawi, hingga Serat Centhini.Awalnya, pecel merujuk pada sayuran rebus yang airnya diperas (dari bahasa Jawa “pêcêl” yang berarti ditumbuk atau dilumatkan). Dari wilayah Mataraman, hidangan ini menyebar ke Jawa Timur.
Di sekitar Ponorogo dan Madiun, bumbu kacangnya mengalami perkembangan khas—lebih kental, dengan sentuhan kunyit di beberapa varian utara, hingga menjadi pecel yang digemari masyarakat Madiun dan akhirnya dikenal luas sebagai Pecel Madiun.Apa yang membedakan pecel Madiun dari pecel daerah lain? Kuncinya ada pada bumbu kacang. Kacang tanah sangrai ditumbuk halus bersama kencur, gula merah, cabai rawit, garam, dan daun jeruk purut yang memberikan aroma khas segar.
Hasilnya adalah saus yang kental, gurih, manis-pedas-asam yang seimbang, bukan terlalu manis seperti di Jawa Tengah maupun terlalu pedas seperti di beberapa daerah Jawa Timur lainnya.Sayurannya pun beragam dan segar: kacang panjang, bayam, kangkung, tauge, daun singkong, daun pepaya, bunga turi, kemangi, dan kadang lamtoro atau kenikir. Semua direbus secukupnya agar tetap renyah. Biasanya disajikan di atas pincuk daun pisang bersama nasi putih, rempeyek (peyek), tahu, tempe bacem, empal, sate usus, atau telur. Satu suapan saja langsung merasakan harmoni rasa yang bikin nagih.
Pecel Madiun bukan hanya isi perut. Dalam acara slametan atau kenduri, hidangan ini hadir sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Bagi perekonomian lokal, pecel menjadi sumber penghidupan ribuan pedagang, dari warung pinggir jalan hingga produksi bumbu pecel kemasan yang diekspor ke luar kota. Festival pecel bahkan digelar untuk menjaga kelestariannya.Bagi wisatawan yang singgah di Madiun—baik dalam perjalanan ke Magetan, Ponorogo, atau sekadar transit kereta api—mencicipi pecel asli di pincuk daun pisang adalah pengalaman wajib. Rasanya yang otentik membawa kita kembali ke akar kuliner Jawa yang sederhana namun penuh makna.Jadi, lain kali Anda melewati Madiun, jangan hanya lewat. Berhenti sejenak, pesan sepiring pecel, dan rasakan sendiri mengapa hidangan berusia lebih dari seribu tahun ini tetap hidup dan dicintai hingga kini. Karena di setiap suapan pecel Madiun, tersimpan sejarah, budaya, dan kehangatan Kota Pendekar.






