Yang Ditertawakan Ludruk Sebenarnya Adalah Kita

Oleh: Eko Budi Siswandoyo

Malam itu, saat memerankan Cantrik dalam lakon Reresik Jaya Patirtan di Plasa Merjosari, saya merasakan magisnya panggung secara langsung. Menatap wajah penonton dari atas panggung memberi perspektif yang jauh berbeda dibanding saat hanya mengamati proses latihan. Naskah yang awalnya sekadar teks di atas kertas, malam itu menjelma menjadi tawa nyata di hadapan warga sendiri. Sebagai bagian dari lakon yang diberi tugas memancing tawa, saya menyadari satu hal bahwa ludruk tidak sekadar menghibur, tetapi mengajak kita menelanjangi realitas sendiri dengan cara yang halus.

Tawa paling pecah malam itu justru bukan muncul dari lelucon fisik yang berlebihan. Penonton tertawa lepas saat para cantrik kebingungan menghadapi pergeseran zaman, terutama saat berusaha memahami bahasa anak muda yang terasa asing.

Seorang tokoh Cantrik dengan bangganya mengartikan “anjay” sebagai “Anda Jaya” dan “anjir” sebagai “Anda Tajir”. Kesalahpahaman tersebut baru terpecahkan ketika hadir seorang anak kecil datang sambil menangis dan memberi tahu arti sebenarnya. Namun, seiring pertunjukan bergulir, tawa itu bergeser menjadi getir. Dalam ruang ini dapat disadari bahwa yang ditertawakan sebenarnya bukan sekadar kosakata, melainkan jarak yang pelan-pelan tumbuh di antara kita, orang tua dan anak, manusia yang tinggal serumah tapi kian sulit untuk saling memahami.

Menguliti Realitas Lewat Tawa
Kekuatan pertunjukan malam itu menusuk lewat celotehan sehari-hari. Saat ditanya oleh para Cantrik, mengapa kok menangis? seorang anak menjawab bahwa dia ingin menagih janji kesejahteraan yang “nanging boten wonten jluntrunge” janji manis tiap periode pemilu yang tak kunjung terbukti. Ki Yusron, sang kiai kampung, menimpali bahwa orang kecil memang selalu sabar, seolah hidup mereka baru “dipritungna nalika arep pungutan suara” (diperhitungkan hanya saat menjelang pemungutan suara).

Di sudut lain, Bu Antoni dalam adegan Omah Desa mengeluhkan himpitan ekonomi yang membuat tenggorokan kering seperti nasi karak yang dijemur, lalu menyentil kabar “pertumbuhan ekonomi negara membaik!” yang baginya hanya berlaku untuk orang-orang di gedung dewan sana. Keluhan serupa datang dari warga lain soal sumber air desa yang kini kotor, “boten terima sampah sing liwat, teleke tiyang nggih berduyun-duyun kalian dada-dada” (bukan cuma sampah yang lewat, kotoran manusia pun ikut berduyun-duyun sambil dadah-dadah). Keluhan-keluhan itu menyimpan kepedihan tentang janji yang tak ditepati, kemiskinan di tengah klaim ekonomi makro, hingga rusaknya alam sekitar. Ludruk membungkus tragedi itu dengan komedi, membuat penonton menertawakan kepahitan hidupnya sendiri tanpa merasa dihakimi.

Misteri Ludruk di Mata Generasi Z
Kritik sosial di panggung seolah mencerminkan realitas di luar. Sekelompok remaja melontarkan kalimat tegas kepada generasi tua: “Jaman anda, dahulu kala. Sekarang anda, tamu saja. Setiap jaman ada orangnya, setiap orang ada jamannya.” Kalimat ini bukan lagi sekadar dialog latihan, melainkan tamparan halus yang membuat penonton tua di barisan depan hanya bisa tersenyum kecut.

Saat Ki Yusron memberi instruksi dan para pemuda serentak menjawab, “Pais, Ki!” (basa walikan khas Malang dari “Siap”), Ki Yusron sempat bingung. Ia akhirnya menyadari bahwa tiap generasi punya sandinya sendiri. Namun, apakah Generasi Z masih mengenal ludruk sebagai ruang dialog budaya? Seorang remaja yang saya temui selepas pertunjukan sempat kebingungan saat saya tanya posisi ludruk dalam hidupnya; ia terdiam sejenak, lalu melengos pergi. Generasi muda hidup di kampung yang sama, tapi perlahan kehilangan “kamus” untuk saling mengerti.

Ketika Tawa Berubah Menjadi Hening
Di situlah kecerdasan ludruk bersemayam, manusia sering memasang tembok saat dinasihati, tapi jarang menolak jika diajak tertawa. Namun, panggung bisa berubah arah secara alami. Arena yang tadinya riuh mendadak hening ketika seorang anak menasihati kedua orang tuanya yang selalu bertengkar:

“Aku gak isin dadi anake sampean masia sampean gak duwe apa-apa, Pak… Buk. Tapi perkara sampean gegeran, dhek omah gak nemu seneng apa maneh ayem-tentrem… Donya gak duwe, tukaran mesti. Aja nggarai aku gela dadi anake sampean, Pak… Buk!” (Aku tak malu jadi anak kalian meski tak punya apa-apa. Tapi karena kalian selalu bertengkar, rumah tak lagi terasa tenang. Harta tak punya, bertengkar jalan terus. Jangan buat aku kecewa jadi anak kalian!)

Seolah semua yang hadir mendadak diberi kesempatan mendengar suara yang jarang didengarkan yaitu suara seorang anak.

Reresik: sebagai Cermin Diri
Jika lakon Reresik Jaya Patirtan bermakna membersihkan, maka malam itu prosesnya sungguh berlapis. Warga mengeluh sumber air yang dimiliki dulu jernih kini dikelola perusahaan. Namun lebih dari protes lingkungan, lakon ini diam-diam membersihkan cara kita memandang sesama, prasangka, dan kesombongan yang membuat kita merasa paling benar.

Ketika lampu panggung padam, penonton tak sekadar membawa pulang kenangan adegan lucu. Mereka membawa pulang percakapan dengan anak, tetangga, pasangan, dan yang paling penting, dengan dirinya sendiri. Pertunjukan itu membuktikan bahwa sebuah kampung masih bisa bercakap-cakap dengan dirinya lewat tawa. Barangkali, itulah tugas kesenian yang sejati, bukan menuntaskan cerita di atas panggung, melainkan menyalakan percakapan yang tak kunjung usai, berjam-jam setelah gelak tawa reda.

(Tulisan ini adalah refleksi pribadi atas keterlibatan saya dalam pementasan Ludruk karya Dohir “Sindu” Herliato. Sebuah penutup yang hangat untuk rangkaian Bersih Desa dalam Festival Merjosarian di Kelurahan Merjosari, Kota Malang)

Eko Budi Siswandoyo, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Gajayana (Uniga) Malang

Bagikan

Baca juga

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Scroll to Top