Oleh: Eko Budi Siswandoyo
Oleh: Eko Budi Siswandoyo
Ketika orang berbicara tentang pembaruan teater, nama Bertolt Brecht hampir selalu muncul. Dramawan Jerman itu dikenang sebagai tokoh yang mengubah cara penonton menikmati pertunjukan. Baginya, panggung bukan tempat membuat orang hanyut dalam emosi, melainkan ruang untuk membangunkan kesadaran. Penonton tidak cukup dibuat menangis atau tertawa. Mereka harus pulang dengan pertanyaan.
Ironisnya, kita sering lupa bahwa gagasan seperti itu telah lama hidup di panggung-panggung ludruk.
Efek Alienasi di Panggung Rakyat
Kesalahan terbesar saya selama ini adalah memandang ludruk hanya sebagai kesenian rakyat yang lucu, penuh dagelan, kidungan, dan guyonan khas Jawa Timur. Padahal, di balik tawa itu, ludruk selalu menyimpan keberanian yang jarang dimiliki seni pertunjukan lain. Ia mengolok penguasa tanpa kehilangan humornya.
Ia mengkritik keadaan sosial tanpa berubah menjadi pidato politik. Bahkan ketika penonton sedang larut mengikuti cerita, ludruk tiba-tiba memotong alur melalui kidungan, celetukan, atau improvisasi yang mengembalikan perhatian penonton kepada kenyataan. Bukankah itu yang dalam dunia teater modern disebut sebagai efek alienasi?
Negosiasi Tiga Bahasa Artistik
Malam itu, saya menyaksikan Neo Walangwati-Walangsumirang di Taman Krida Budaya Malang. Pertunjukan tersebut mempertemukan wayang topeng, ludruk, dan teater modern dalam satu ruang artistik. Banyak orang melihatnya sebagai eksperimen yang berani. Saya melihat sesuatu yang berbeda. Pertunjukan ini justru memperlihatkan bahwa ludruk tidak pernah benar-benar membutuhkan Brecht untuk menjadi teater yang kritis. Ia telah menemukan jalannya sendiri sejak lama.
Dan justru di titik inilah letak alienasi yang sesungguhnya pada malam itu, bukan hanya pada kidungan yang memotong cerita, tapi pada tubuh para pemainnya sendiri. Selama hampir dua jam pertunjukan berlangsung, saya menyaksikan bagaimana tubuh tari, tubuh teater, dan tubuh ludruk saling bernegosiasi, dan negosiasi itu tidak selalu mulus.
Ada bagian yang terasa begitu kuat. Ada pula bagian yang tampak belum sepenuhnya menyatu. Sialnya, ketaksempurnaan itu justru yang membuat saya sadar sedang menonton sebuah proses, bukan hanyut dalam ilusi yang jadi. Penonton dipaksa keluar dari kenyamanan menyaksikan pertunjukan yang “sudah jadi”, dan dihadapkan pada kenyataan bahwa ini adalah kolaborasi yang masih mencari bentuknya.
Seusai pertunjukan, komentar bermunculan. Tempo dianggap terlalu lambat. Dialog dinilai kurang kuat. Penari dianggap belum cukup matang ketika memasuki wilayah akting, sementara aktor teater dinilai belum cukup lentur ketika memasuki bahasa tubuh tari. Kritik-kritik itu wajar. Saya bahkan sempat mengiyakannya.
Sampai seorang sahabat yang telah lama menapaki dunia teater (pada masanya) mengatakan satu kalimat yang sederhana, tetapi mengubah cara saya memandang pertunjukan.
“Penari akan selalu kuat pada tubuh tarinya. Aktor akan selalu kuat pada tubuh keaktorannya.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih besar. Kita terlalu sering mengukur karya kolaboratif menggunakan standar kesempurnaan tunggal. Semua aktor harus mampu menari. Semua penari harus menjadi aktor. Semua harus sama baiknya. Padahal, kolaborasi tidak pernah lahir dari keseragaman. Kolaborasi lahir dari keberanian mempertahankan identitas masing-masing, lalu mencari titik temu tanpa kehilangan dirinya.
Di situlah saya melihat kekuatan pertunjukan ini. Bukan pada kesempurnaan teknisnya. Melainkan pada keberaniannya memperlihatkan proses.
Seni Bukan Perlombaan Kesempurnaan
Kita hidup pada zaman ketika hampir semua hal dituntut tampil sempurna. Media sosial mengajarkan citra yang selalu rapi. Dunia hiburan menawarkan pertunjukan yang nyaris tanpa cela. Akibatnya, kita terbiasa menonton dengan logika mencari kekurangan. Vokal kurang kuat. Blocking kurang rapi. Tempo terlalu lambat. Gerak belum kompak.
Padahal, seni bukan perlombaan menuju kesempurnaan. Seni adalah ruang perjumpaan tempat berbagai bahasa artistik saling berbicara, saling mengganggu, bahkan saling bertentangan. Justru dari ketegangan itulah lahir kemungkinan-kemungkinan baru. Dan sesungguhnya, ketegangan ini pun bukan hal asing bagi Brecht. Ia sendiri menolak panggung yang licin dan ilusionis, sebab keretakan justru yang membangunkan pikiran penonton, bukan kehalusan yang membuainya.
Maka ketika pertunjukan ini tampak “belum menyatu”, boleh jadi itu bukan kegagalan, melainkan ia sedang bekerja sebagaimana mestinya untuk mengganggu, bukan meninabobokkan.
Neo Walangwati-Walangsumirang memperlihatkan proses itu secara terbuka. Wayang topeng tidak kehilangan martabatnya ketika bertemu ludruk. Ludruk juga tidak kehilangan sifat kerakyatannya ketika berdialog dengan teater modern. Sebaliknya, ketiganya memperlihatkan bahwa tradisi hanya akan hidup jika berani memasuki percakapan baru.
Tradisi Sebagai Organisme Hidup
Karena itu, saya merasa sudah waktunya kita berhenti memandang seni tradisi sebagai benda museum yang harus dijaga tetap utuh. Tradisi bukan fosil. Tradisi adalah organisme hidup. Ia tumbuh, berubah, diperdebatkan, bahkan sesekali boleh dipersoalkan.
Demikian pula ludruk. Ia tidak pernah sekadar membuat orang tertawa. Ia selalu mengajak penontonnya berpikir melalui humor, kritik, dan keberpihakan kepada kehidupan sehari-hari. Brecht memang menuliskan teorinya dalam buku-buku yang kini diajarkan di berbagai kampus. Namun jauh sebelum buku-buku itu diterjemahkan dan dijadikan silabus, panggung ludruk telah mempraktikkan hal yang sama dalam bahasa rakyat, tanpa perlu menyebut dirinya sebagai teori apa pun.
Barangkali yang sebenarnya harus kita pertanyakan bukan lagi mengapa ludruk baru “keren” setelah dipertemukan dengan nama besar dari Eropa. Berapa lama lagi kita akan meminjam validasi Barat untuk berani mengakui bahwa yang kita anggap tontonan pinggiran itu, sejak awal, telah bekerja setara dengan apa yang diajarkan di ruang-ruang kuliah teater dunia?
Eko Budi Siswandoyo, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Gajayana (Uniga) Malang




